Dari Common Sense Menuju Pengetahuan

Judul yang Saya pilih di atas merupakan kesimpulan akhir yang diberikan oleh Pak ES ketika mengakhiri proses pelatihan yang cukup panjang selama 3 hari dilapangan dan 4 hari di kelas. Sebelumnya Pak ES mengatakan bahwa ketika sudah mencapai tahap pengetahuan maka kita dapat menjadikannya sebagai dasar berpijak. Dasar berpijak ini tentu berbeda penerapannya bagi setiap orang karena konteks dan situasi yang berbeda. Tapi dasar berpijak ini merupakan landasan yang secara subtansi sama bagi setiap orang. Ibaratkan kita kita berjalan maka jalan dimana kita berpijak sudah kokoh sehingga kita tidak terperosok atau bahkan terpeleset.

Sedikit cerita di atas merupakan salah satu bagian dari seluruh proses pelatihan yang Saya ikuti. Pelatihan yang cukup panjang selama 10 hari. Secara normative panitia mengatakan bahwa tujuan dari pelatihan ini adalah untuk menciptakan kader-kader pemimpin di masa depan. Sesuai dengan namanya, civic education for Indonesian future leaders.

Pelatihan yang luar biasa

Pelatihan ini diikuti sekitar 20 orang. Panitia memang membatasi jumlah peserta. Panitia melakukan seleksi dengan cara melihat latar belakang lembaga dimana mereka bekerja. Panitia juga mempertimbangkan persebaran peserta. Secara ideal, peserta harus merepresentasikan persebaran wilayah seluruh Indonesia, dll. Dari berbagai macam pertimbangan yang digunakan panita tersebut salah satu yang paling penting adalah latar belakang lembaga. Terutma terkait dengan kredibilitas lembaga. Karena tujuan akhir dari pelatihan ini adalah peserta diharapkan mampu mewarnai lembaganya masing-masing, sehingga secara kegiatan dan eksistensi lembaga ini harus benar-benar ada.

Pelatihan ini sendiri sudah dilakukan semenjak tahun 98. Terdiri dari dari tiga tahahapan yang disebut level. Ada tiga level, level I, II, dan III. Masing-masing level mempunyai tujuan yang spesifik. Level I adalah level pemula dimana tingkat materi dan pemahaman lebih pada kemampuan dasar. Level dua masih sama seperti level I tapi lebih dalam terkait pendalaman dan analisis. Sedangkan level III terkait dengan kritik ideologi. Pada level tiga materi dari level I dan II akan diulang kembali. Untuk itu, dalam pelatihan level tiga sebenarnya yang boleh ikut adalah teman-teman yang secara kriteria yang ditentukan oleh panitia lolos dalam level I dan II.

Kesan terhadap pelatihan

Saya sendiri telah mengikuti cevil level II dan III, tapi tidak mengikuti level I dikarenakan faktor tempat. Ketidak keikutsertaan level I tidak menjadi penghalang untuk mengikuti level II. Sehingga Saya dapat mengikuti cevil level II, walaupun tidak mengikuti level I. Pengalaman mengikuti cevil II sungguh luar biasa. Keluarbiasaan ini bukan terkait dengan bentuk acaranya yang wah, tapi metode yang sederhana dengan Pemateri yang yang mumpuni, mampu membawa peserta pelatihan merasakan pelatihan yang serius tapi dibingkai dengan biasa tapi menyenangkan. Kesan ini muncul karena Saya membandingkan dengan pelatihan-pelatihan yang pernah Saya ikuti. Saya dapat menyimpulkan pelatihan cevil dengan Pemateri yang mumpuni dengan model tinggal dilapangan mampu mendorong semangat peserta untuk serius dan menyenangkan, sampai peserta tidak meninggalkan satu sesipun dan teman-teman terus focus pada materi yang diberikan.

Keluarbiasaan ini tentu terkait dengan bagaimana cara Pemateri menyampaikan materi. 3 hari pertama peserta dibawah ke sebuah padukuhan. Padukuhan ini disebut laboratorium social oleh pemateri. Di sinilah nantinya peserta akan melaksanakan seluruh kegiatan pelatihan. Pemateri akan memberi sedikit intruksi kepada peserta untuk melakukan observasi dengan mendatangi warga dan menggali informasi. Kemudian peserta kembali dan mempresentasikan hasil observasinya. Proses ini berlangsung terus menerus selama tiga hari sampai para peserta mendapatkan seperti apa yang diminta oleh pemateri.

Materi

Materi utama adalah analisis sosial. uniknya pemateri tidak mengawalinya dengan memaparkan secara mendetail apa itu analisis social, seperti model kuliah. Pemateri hanya memaparkan berbagai macam persoalan-persoalan kehidupan dan kemudiian menariknya pada “itulah yang disebut sebagai analisis sosial” cukup rumit memang, apalagi kita yang sudah terbiasa dengan model pembelajaran yang selalu dimulai dengan definisi. Sesekali pemateri memberikan kata kunci, seperti analisis social bersifat implikatif bukan kausatif. Hasil dari analisis social bisa dijadikan data politik dan sebagainya.

Pemateri pun sangat jarang memberikan kutipan-kutipan yang berasal dari para pemikir terkait dengan analisis social. Saya sebagai peserta menangkap bahwa pemateri mengajak kita untuk menggali yang namanya analisis social itu langsung dari masyarakat bukan dari teori-teori yang ada di buku. Padahal analisis social merupakan tema yang sering sekali dibicarakan. Terutama bagi para pegiat masyarakat dimana analisis social merupakan kemampuan dasar yang harus dikuasai. Para peserta diberi pertahanan untuk menggali yang namanya analisis social langsung dari masyarakat. Sehingga betul-betul para peserta otaknya dicuci bersih dari berbagai macam kotoran dan diajak melakukan analisis social mulai dari nol (versi pak ES).

Catatan yang paling Saya ingat adalah ketika sampai dilokasi dan pemateri memberi arahan. Bahwa ketika dalam proses belajar dan ketika membaur dengan masyarakat maka peserta harus menseterilkan diri. Dalam arti, pertama bahwa masyarakat bukanlah objek. Kedua, kita dilarang keras merasa bahwa diri kita lebih pintar dari mereka. ketiga, jangan memaksakan cara pandang kita kepada mereka, karena masyarakat punya nalarnya sendiri. tiga tahapan ini dalam cevil level III disebut ‘objektivasi partisipan’.

Praktek lapangan

Sebelum terjun ke lapangan peserta dibagi menjadi 4 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari 5 orang. Sebelum terjun ke lapangan pemateri memberikan tiga ketentuan yang harus dibawa dan benar-benar diperhatikan. Jika tidak para peserta akan gagal melakukan yang namanya analisis social. setelah hampir 3 jam turun lapangan para peserta kembali dan mempresentasikan. Kelompok pertama mempresentasikan tentang aset yang dimiliki oleh masyarakat. Terkait dengan kepemilikan tanah, lembu, emas. Kelompok kedua mempresentasikan soal temuan mereka ketika ada orang meninggal kemudian warga secara berbondong-bondong ikut bergotong royong membantu. Kelompok ketiga mempresentasikan terkait dengan para istri yang disuruh ikut program KB oleh para sumai. Kelompok keempat mempresentasikan tentang paseban sebagai tempat ritual bagi masyarakat.

Setelah panjang lebar mempersentasikan hasil amatan maka giliran pemateri memberikan tanggapan dan memberik arahan. Uniknya justru pemateri memberikan komentar yang cukup aneh soal karakter orang yang mempresentasikan. Saya sendiri mempersentasikan hasil amatan dari kelompok I, dan Pemateri mangatakan bahwa Saya adalah tipe orang yang ingin meyakinkan dan mengajak orang untuk percaya. Saya sendiri membenarkan apa yang dikatakan oleh Pemateri. Pemateri juga memberi komentar peserta yang mewakili setiap kelompok.

selain laporan amatan lapangan, dari masing-masing peserta juga memberikan kesan dan komentar terkait dengan Pedukukan Mbolang. Beberapa diantara mereka ada yang prihatin dengan kondisi geografis. Karena sebagian besar adalah bebatuan. Kondisi ini seperti berbanding lurus dengan kondisi ekonomi. Ada beberapa peserta yang miris dan prihatin. Jika memang sebagian besar adalah petani sejauh mana hasil tani bisa menjamin keberlangsungan hidup mereka. Dengan kondisi tanah yang sebagian besar dalah bebatuan untuk menemukan sumberi air sangat sulit. Di sisi yang lain beberapa peserta sangat mengagumi kondisi social masyarakat. Gotong royong dan tolong menolong masih dijunjung tinggi. Ada juga arisan yang dilakukan oleh masyarakat. Modal social inilah yang banyak dikagumi oleh sebagian peserta.

Isi dari pelatihan

Dari hari pertama dan menginjak hari kedua pembahasan tentang analisis social masyarakat bolang semakin dalam. Setelah melakukan amatan langsung dan melakukan presentasi para peserta diajak untuk memilah, mana informasi, data, fakta, dan konsep. Tahapan ini cukup sulit. Tidak semua peserta memahami dan mampu mengaplikasikan. Saya sendiri mengalami kesulitan bagaimana caranya kita bisa memilah informasi menjadi data, kemudian fakta, dan konsep. Proses ini harus terus menerus dilakukan sampai para peserta menjadi peka.

Analisis social ditujukan agar mampu melihat realitas, bagaimana struktur-struktur yang bekerja di masyarakat. Diskusi kecil dengan beberapa ilmuan dan teman membantu Saya dalam menangkap realitas tersebut, bahwa sebenarnya Pemateri mempunya cara pandang struktural. Bahwa sebenarnya di dalam sesuatu yang nampak itu ada sesuatu yang tak nampak tapi bekerja. Bisa jadi di dalam masyarakat yang terlihat tata tentrem ternyata menyimpan penindasan yang luar biasa.

Dari kelompok pertama pemateri dan peserta menemukan sebuah realitas yang menarik dilihat dari kepemilikan asset, bahwa mereka pada dasarnya tidak memiliki asset yang cukup signifikan. Bahkan mereka sebenarnya hidup tertekan, terbatas, dan serba ragu-ragu. Tetapi jika dilihat dari dengan kasat mata mereka tidak seperti itu. Dari observasi yang dilakukan ditemukan bahwa mereka tidak khawatir dengan keterbatasan, tidak punya materi, karena masih ada modal social, seperti tolong menolong, gotong royong yang mampu menolong mereka dari berbagai macam keterbatasan tersebut.

Salah satu temuan yang menarik adalah adanya sosok pinunjul. Pinunjul adalah orang yang dianggap pintar dan menjadi sosok manusia suci. Orang ini yang akan menentukan hari baik. orang yang memimpin setiap ritual. Jika ada yang mempunyai masalah maka sosok pinunjul akan menjadi rujukan bagaimana mereka mengatasi masalah.

Di kelompok selanjutnya ditemukan bahwa ritual-ritual yang masyarakat lakukan sebagai wujud rasa syukur kepada sang pencipta. Ritual-ritual ini dilakukan setiap akan menjelang masa panen dan pasca panen. Dari sekian banyak temuan ada sebuah simpul yang menjadi titik temu. ada peristiwa menarik yang menjadi bahan pembicaraan, yaitu adanya warga yang meninggal setelah ketiban pulung.

Pulung ini adalah semacam sinar biru atau terang yang datang dan mendarat disebuah tempat. Tempat yang ketiban pulung ini akan terkena musibah. Dari informasi yang diperoleh kebanyakan rumah yang ketiban pulung ini pasti ada anggota keluarganya yang meninggal. Beberapa teman mencoba mendalami peristiwa ini dengan cara melakukan wawancara secara mendalam dan mendapatkan sebuah informasi bahwa kebanyakan mereka yang meninggal dikarenakan bunuh diri. Ada sesuatu yang aneh bahwa sebagian mereka mengatakan bahwa mereka meninggal dikarenakan ketiban pulung. Padahal fakta yang ditemukan teman-teman sebenarnya bukan seperti itu. ada kesimpulan yang menarik bahwa mati menjadi pilihan terakhir bagi warga bolang. Teman-teman menyebut ini sebagai politik kematian.

Dari sekian banyak data yang kami peroleh dan setalah menggunakan penggalian informasi sampailah pada tahap pengetahuan ke dua. Pengumpulan data sebagai tahap pengenalan pertama, kemudian mengenal konsep politik kematian sebagai tahap pengenalan kedua. Melangkah ke tehap ketiga adalah yang disebut sebagai ideologi. Kenapa kemudian kita harus sampai pada yang namanya pengetahuan. Saya memperhatikan secara seksama Pemateri selalu menyesuaikan ritme dengan pemahaman peserta dan selalu berusaha memahami latar belakang dari peserta. Karena peserta sebagian besar peserta adalah para pegia masyarakat maka dari common sense ke pengetahuan itu sangat penting sebagai dasar berpijak ketika merencanakan dan melakukan sesuatu. Dengan dasar berpijak yang kuat maka tidak akan gampang digoyang kesana kemari. Dalam artian tidak gampang dimanfaatkan dan diatur oleh rezim kekuasaan yang menindas.

Kritik ideologi

Setelah selesai dengan analisis social maka sampailah pada tahap analisis politik dan kekuasaan. Agar pemahaman lebih dalam maka pemateri memberikan materi kritik ideologi. Kalau dituliskan tentu akan sangat panjang. Saya akan menulis dengan singkat dan mudah dipahami. Analisis politik terkait dengan sistem politik sedangkan analisis kekuasaan terkait dengan struktur politik. Saya katakan sekali lagi bahwa dalam pelatihan ini pemateri menggunakan pendekatan struktural, yaitu melihat sesuatu yang tak nampak tapi sebenarnya ada dan bekerja.

Dalam politik selalu dijumpai bahwa kelompok yang berkuasa akan jauh lebih sedikit ketimbang yang dikuasai. Dalam hal ekonomi justru terbalik, kelompok penguasa yang sedikit justru memiliki kekayaan yang jauh lebih besar ketimbang kelompok masyarakat yang secara jumlah lebih banyak tapi mempunyai asset yang sedikit. Jika kedua kondisi ini digambarkan dalam sebuah piramida makan maka yang satu piramida normal, sedangkan yang satunya piramida terbalik. Jika kedua piramida ini digabung maka akan menyisakan ruang kosong. Ruang kosong ini akan terlihat jika kita memproyeksikannya dalam sebuah persegi panjang. Nah, sebenarnya perjuangan politik adalah bagaimana ruang kosong ini bisa diisi dan piradima yang saling berpotongan menjadi persegi empat. Inilah yang disebut sebagai keadilan dan pemerataan yang sebanarnya harus diperjuangkan.

Analisis kekuasaan berguna untuk melihat bagaimana usaha-usaha ini bisa dilakukan untuk mengarahkan usaha untuk memperjuangkan keadilan dan pemarataan. Dengan analisis kekuasaan akan jelas gambaran pada titik mana kesalahan dan kekuarangan itu berada. Contoh, selama perjalanan bangsa Indonesia mulai dari era kolonialisme Belanda, sampai kemerdekaan oleh Soekarno dan Konco-konconya dan sampai dengan sekarang sejauh mana perubahan yang sudah berlangsung dan sejauh mana membawa kemajuan pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya berani berkata “belum sama sekali”. Saya mengibaratkan seperti sesuatu yang berubah bentuknya tapi isinya sama saja. Bahwa soekarno dan teman-temannya berhasil membawa Indonesia merdeka tapi sebenarnya mereka hanya kepanjangan tangan dari imperialism baru. Mengutip tulisan dari KH. Syafi’i Amal “secara politik dan sistem mereka sadar melakukan perlawanan terhadao sistem colonial tapi secara structural mereka adalah kepanjangan dari sejarah.” Kalau menggunakan analisis politik hal seperti tidak akan terdeteksi. Karena secara sistem Indonesia mengalami perubahan yang luarbiasa.

Untuk melengkapi pengetahuan para peserta, tentang analisis politik dan analisis kekuasaan pemateri mengajak mengenal lebih dalam tentang ideologi. Pemateri tidak langsung menjelaskan tentang arti dan makna dari ideologi tapi menunjukkan para peserta dengan sebuah buku kecil yang merupakan hasil surve tentang konsumsi kelompok masyarakat menengah. Tiba-tiba Pemateri bertanya kepada para peserta ada sesuatu yang kecil dan tidak terlihat tapi penting untuk diketahui. Tidak ada satupun yang menjawab. Kemudian pemateri menunjuk pada pojok kanan kecil, ada tulisan ‘nielsen’. Nilsen adalah lembaga surve internasional.

Dengan menggunakan contoh, pemateri menjelaskan bahwa ideologi itu tidak seperti yang kita pahami selama ini berupa pandangan yang ‘wah’ dan tendensius, dan sangat indah. Justru ideologi bergerak dalam kehidupan sehari-hari. lucunya banyak diantara kita yang selama ini menentang ideolog neoliberalisme tapi sehari-hari kita justru pro neoliberalisme. Intinya bahwa selama ini ideology yang kita tentang justru secara tidak sadar kita justru mengamininya. Ideologi yang selama ini kita dukung tapi tidak pernah kita laksanakan. Secara lebih makro mari menengok ideology yang ditawarkan oleh presiiden baru kita Jokowi. Secara bahasa luar biasa indah denan visi yang luar biasa, api coba bandingkan dengan apa yang sudah dilakukan oleh presiden Joko Widodo. Justru bertolak belakang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s