Meretas Sebuah Jalan

Tanggal 12 januari 2015 kontrakanku kedatangan senior PMII. Seingatku sudah cukup lama dia tidak datang ke sini. Namanya Bosman Batu Bara. Pemuda kelahiran Sumatra. Dia cukup senior di keluarga PMII Sleman. Dia juga aktif di lapangan melakukan advokasi masyarakat. Terakhir yang aku dengar terlibat advokasi masyarakat Urut Sewu. Dari sekian banyak advokasi yang telah dilakukannya salah satu yang cukup dikenal adalah mendirikan sebuah forum untuk melakukan advokasi terhadap orang-orang yang menjadi korban perusahaan-perusahaan ekstraktif, yaitu FNKSDA (Front Nahdliyin untuk Kedaluatan Sumber Daya Alam). Pernah lama juga melakukan advokasi terhadap korban Lumpur Lapindo dan aksi bersama para seniman di Urut Sewu Kebumen.

Walaupun sudah cukup lama tidak datang, kedatangannya tidak mengagetkanku karena memang kontrakanku sering dibuat sebagai tempat singgah dan diskusi. Sama seperti teman-temen yang biasa datang ke sini yang terkadang hanya mampir sekedar numpang ke kamar mandi sampai mengakses internet. Tetapi hari itu ada sesuatu yang lain. Ketika aku sedang membaca buku di kamar, aku mendenger suaranya yang keras di ruang tamu, hati ini tergerak untuk lebih serius mendengarkan. Semakin lama semakin jelas bahwa ternyata mas Bosman lagi serius terlibat diskusi dengan temanku.

Setelah mendengarkan dengan seksama, mereka sedang mendiskusikan tentang program pendampingan kios yang sedang dikerjakan oleh salah satu temanku. Namanya Kiyak. Dia adalah teman satu kelasku dulu ketika kuliah dan sampai sekarang dia masih satu atap denganku. Mas Bosman adalah orang yang sangat tertarik dengan geraka massa. Tidak tahu pasti alasannya, tapi seingatku mas bosman sering terlibat pada gerakan-gerakan advokasi terhdap masyarakat kecil yang tergusur oleh pembangunan perusahan ekstraktif. Menurutnya gerakan-gerakan seperti itu lebih kongkrit. Ketika temanku bercerita tentang pendampingan dia cukup tertarik dan banyak memberikan masukan. Kiyak menjelaskan bahwa pendampingan pedagang klontong dilatar belakangi oleh kedudukan pedagang kelontong yang masih terdeskriminasi oleh pedagang-pedagang besar dan banyak diantara meraka yang terpaksa meminpam uang di bangk plecit dengan bunga yang tinggi. pendampingan ini bertujuan agar para pedagang klontong ini mampu mandiri dan tidak terjebak pada pinjaman yang mencekik. Selain itu, program ini juga membantu secara teknis terkait dengan kempauan marketing, teknis penataan toko, pembukuan, dll. Jika ini terwujud maka akan mampu membangun kesadaran bersama para pedagang kelontong untuk maju dan berdaya. Implikasinya adalah memperkuat sektor ekonomi mikro.

Apa yang dijelaskan john mendapat sambutan yang baik dari bang bosman. Aku yang dari tadi mendengarkan semakin mencoba mencerna dan memahami. Ujung-ujungnya aku tertarik untuk terlibat dalam obrolan tersebut. Bang bosman kemudian memberikan tambahan pertanyaan, “lalu tugas kamu sebagai pendamping apa?” dijawab oleh temanku “ya kita melakukan pendampingan seperti memberikan pengetahuan tentang tata administrasi, cara-cara promosi, dan teknis pentaan toko. Terkadang juga melakukan obrolan-obrolan kecil”.

Secara seksama aku kemudian memfokuskan mata dan pendengaran kepada bang bosman. Bang bosman memberikan pandangan kepada kiyak bahwa gerakan ini tujuannnya adalah membangun gerakan massa yang pasti bertujuan politik. Bang bosman menambahkan bahwa gerakan ini harus benar-benar mampu menggali persoalan mereka. Di banyak kasus, bang bosman sering menemukan bahwa kegagalan membangun gerakan masa karena kita tidak mampu menemukan persoalan mereka. Persoalan yang menjadi kerisauan bersama. Bang bosman sangat suka dengan gerakan yang kongkrit semacam ini. Kongkrit bahwa gerakan ini ingin menyolitkan para pedagang kelontong agar mampu berkembang dan mandiri, tidak terjerat para kreditor yang mencekik. Cuma bang bosman menyarankan bahwa gerakan ini juga harus punya kerangka berfikir dan basis pengetahuan, bahwa gerakan ini harus mempunyai ruang dimana terjadi dialog terus menerus dan mampu merumuskan konsep yang akan menjadi kunci dalam membangun kesadaran pedagang. Gerakan ini harus mampu membangun mekanisme institusional. Takutnya gerakan ini akan jatuh pada pengeluaran tenaga yang sia-sia tapi hasilnya kosong. Contoh, benarkah pendampingan JKR sudah menjawab persoalan mereka atau persoalan itu hanya dibangun dari asumsi. Kalau persoalan itu dibangun dari asumsi tentu ini berbahaya.

Gerakan ini juga berkeinginan untuk memeberikan kemudahan akses kepada para pedang terkait dengan modal dan barang. Bang bosman memberikan catatan bahwa gerakan ini jangan terjebak pada rana itu, karena kita bukanlah supermen. Kalau gerakan gusdurian hanya sekedar pendampingan dan tidak ada ruang diskusi untuk membangun konsep bersama bisa jadi gerakan ini hanya membuang-buang tenaga. Gerakan ini masih pada level niat baik. Bang bosman juga memberikan catatan bahwa para pendamping pun harus mampu seperti peneliti yang terus menerus mencatat dan mengumpukkan informasi, kemudian mampu melakukan analisis dan menerumakan persoalan. Jika tidak demikian, maka program ini sebenarnya tidak menjawab persoalan yang dihadapi oleh para pedagang dan ujungnya adalah kegagalan.

Mendengar percakapan itu, pikiranku langsung melayang pada pelatihan Satu Nama. Aku kemudian melibatkan diri dan memberikan sedikit uraian bahwa sebenarnya menemukan persoalan yang sebenarnya tidak mudah. Aku bercerita tentang pengalamnku sewaktu pelatihan. Dimana kita dituntut untuk membangunan sebuah basis pengetahuan yang digali dari masyarakat seca konvesional. Apa yang kita lihat dimasyarakat dengan mata bisa jadi itu bukan realitas. Untuk sampai pada realitas kita harus mampu mengumpulkan berbagai macam informasi, memilahnya menjadi data, dan kemudian menarik sebuah konsep. Karena pada dasarnya struktur sosial itu tidaklah nampak tapi bekerja secara kasat mata. Ada sebuah proses bagaimana menemukan persoalan yang sebenarnya menjadi persoalan bersama yang tidak bisa dilihat secara gamblang. Inilah kesulita untuk menemukan struktur sosial yang berlaku.

Bang bosman menanggapi uraianku dan mengatakan bahwa apa yang aku uraikan terlalu njelimet, muter-muter, telalu tekstual. Inti dari gerakan massa adalah menemukan persoalan yang sebenarnya yang mampu menyatukan orang. Tidak perlu berteorisasi. Kemudian dengan cepat kita harus mampu memberikan jalar keluar yang pas. Bang bosman bercerita tentang perjuangan masyarakat urut sewu. Ketidak bang bosman diundang oleh para aktivis gerakan yang ada disana, dia mengkritik habis cara-cara yang advokasi yang dilakukan di sana. Para aktivis tidak menemukan persoalan yang sebenarnya. Persoalan sebenarnya adalah kerasahan warga urut sewu yang tanahnya dipagar oleh tentara. Langkah selanjutnya adalah bagaimana agar tanah ini bisa dibebaskan. Baru kemudian teman-teman bisa melakukan berbagai macam bentuk kegiatan untuk membebaskan tanah yang telah dipagar tentara.

Banyak gerakan yang gagal membangun gerakan karena mereka tidak mampu menemukan persoalan yang sebenarnya terjadi. Banyak dari kita yang tidak mampu menangkap persoalan dan lebih memaksakan cara pandang sendiri. Sebuah gerakan juga penting mempunyai basis pengetahuan. Basis pengetahuan yang dimaksud adalah pemahaman tentang persoalan. Menemukan struktur sosial yang bekerja. Membuka ruang diskusi bisa jadi jalan untuk membangun basis konseptual. Konsep ini penting sebagai landasan kita untuk berpijak. Sebuah gerakan bukan sekedar asumsi, tapi dibangun dari informasi, kemudian data, dan konsep. Jadi sebuah gerakan tidak terjebak pada asumsi. Ketika kita menunjuk bulan, belum tentu yang kita tunjuk itu bulan, karena kita tidak tahu bagaimana bulan itu sebenarnya.

Setelah diskusi ini pikiran saya semakin terbuka terkait sebuah gerakan harus mempunyai tujuan yang jelas termasuk persoalan apa yang ingin diselesaikan. Terutama penulisan artikel, skripsi, tesis, dan disertasi yang semuanya dibangun dari dasar ingin tahu tentang sebuah persoalan, atau karena menemukan suatu persoalan sehingga ingin menemukan jawaban.

Yogyakarta, 13 januari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s