Tourism Employment in Bali: Trends and Implications

Dilihat dari judul, artikel ini secara garis besar membahas tentang trend pengembangan pariwisata dan implikasinya terkait dengan lapangan kerja. Judith Cukier dalam pendahuluannya memberikan argumen bahwa ke depan pariwisata akan menjadi sektor yang penting dalam perkembangan ekonomi, karena akan banyak menyerap jumlah tenaga kerja yang cukup banyak, baik di sektor formal maupun informal. Argumentasi yang sama juga banyak dikemukakan oleh para ilmuan, Damanik (2003) mengatakan bahwa sektor pariwisata mempunya pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Setidaknya ada tiga sumbangan utama, pertama, meningkatkan lapangan pekerjaan. Kedua, menambah peningkatan devisa atau pendapatan daerah. ketiga, pemerataan pembangunan antar wilayah.

Secara khusus penulis artikel memilih Bali sebagai objek penelitian. Bukan tanpa alasan. Bali merupakan salah satu kawasan di Indonesia yang sangat popular dengan industri pariwisata. Penulis memberikan beberapa alasan mengapa penting mengangkat Bali sebagai objek penelitian terkait dengan trend perkembangan industri pariwisata. Pertama, jumlah pertumbuhan masyarakat Bali yang besar, berpeluang dalam pertumbuhan ekonomi baik di sektor formal maupun informal. Salah satu industri yang dapat dikembangkan adalah industri pariwisata. Kedua, dikotomi sektor formal dan informal dalam perekonomian yang dulu dianggap bahwa sektor formal menjadi lebih penting dan prioritas daripada sektor informal sudah tidak relevan. Karena sektor informal justru menjadi penopang bagi sektor formal. Ketiga, adanya teori yang mengatakan bahwa pekerjaan tradisional yang merupakan sektor informal akan hilang didalam proses modernisasi dan urbanisasi. Teori tersebut merupakan pandangan dari orang-orang yang percaya pembangunan sektor formal melalui industri besar akan banyak menyerap tenaga kerja lebih banyak ketimbang sektor informal, sehingga orang akan cenderung tertarik pada sektor formal.

Dari berbagai macam alasan tersebut penulis menemukan sesuatu yang lain terkait dengan pembangunan industri pariwisata terkait pertumbuhan ekonomi dilihat dari sektor formal dan informal. Pariwisata yang dianggap sebagai sektor informal ternyata mampu memberi kontribusi yang cukup besar dengan mampu menyerap investasi, penyumbang devisa, dan neraca pembayaran yang banyak melibatkan penduduk lokal. Bahkan penulis menemukan di sektor formal, pariwisata mampu menyerap tenaga kerja melalui sektor perhotelan. Di sektor informal pariwisata mampu menciptakan peluang usaha. Tapi sayangnya tidak banyak penulis yang menjelaskan hal ini. Justru banyak referensi yang dihasilkan melalui kajian akademis memperlihatkan hal sebaliknya. Mereka menganggap bahwa indsutri pariwisata bersifat musiman, bergaji rendah, mengerjakan orang yang ketrampilannya rendah.

Untuk menjawab berbagai macam persoalan yang dikemukakan, maka penulis melakukan pembahasan dan argumentasi terkait dengan pariwisata dan lapangan pekerjaan, khususnya industri pariwisata yang telah berkembang di Bali.

            Dalam pembahasan, penulis berusaha memberikan penjelasan tentang beberapa argumen yang saling bertentangan terkait dengan sumbangan sektor pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi. Setidaknya ada dua argumen, pertama, mereka yang masih meragukan kontribusi pariwisata dalam menyerap tenaga kerja. Pendapat ini banyak dikemukakan oleh para peneliti barat yang melihat pariwisata di negara mereka yang masih merupakan sektor sekunder. Pendapat ini diperkuat dengan fakta di lapangan yang memperlihatkan tingkat investasi di sektor pariwisata yang masih rendah, dan ketrampilan yang dimiliki oleh masyarakat yang terlibat langsung masih rendah. Kedua, berbeda dengan negara-negara berkembang yang melihat pariwisata sebagai sektor yang berpeluang menyerap tenaga cukup banyak. Ekspektasi ini berkembang dengan harapan peningkatan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan. Pendapat ini diperkuat oleh penelitian yang dilakukan Kermath dan Thomas (1992) di Replublik Dominician yang mengatakan bahwa industri pariwisata akan terus berevolusi. Sektor informal akan terus tumbuh dari dalam dan akan meningkatkan kesempatan kerja. Perkembangan ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kebijakan dari pemerintah yang lebih banyak berpihak pada sektor formal. Tapi kebijakan yang diambil diharapkan mampu mendorong Orang-orang yang bekerja pada sektor formal tertarik masuk pada sektor informal.

Penulis kemudian melakukan generalisasi terkait dengan pro dan kontra terkait dengan sumbangsih pariwisata dalam pertumbuhan ekonomi. Dari berbagai macam literatur dan studi kasus penulis beberapa kesimpulan sebagai berikut; pertama, ada korelasi positif tetapi sangat beragam antara efek pendapatan pariwisata dan penciptaan lapangan kerja, yang berarti bahwa industri pariwisata mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Kedua, lapangan kerja dipengaruhi oleh jenis produk wisata, dengan beberapa jenis pekerjaan padat karya dan dengan rasio capital kerja yang lebih tinggi daripada yang lain. Ketiga, jenis keterampilan yang tersedia ditingkat lokal akan memiliki efek pada jenis pekerjaan yang diciptakan, seperti yang digambarkan oleh permintaan yang relatif lebih tinggi untuk pekerja tidak terampil atau semi terampil, terutama selama tahap-tahap awal pengembangan pariwisata. Keempat, meskipun lapangan kerja pariwisata mungkin musiman atau paruh waktu dan tentunya memiliki pengaruh yang kecil dalam mengurangi tingkat pengangguran secara keseluruhan, ini sebagian diimbangi di negara berkembang dengan prevalensi beberapa pekerjaan.

Untuk memperkuat pandangan tersebut peneliti memilih Bali sebagai studi kasus. Harus diakui bahwa dari total seluruh angkatan kerja yang ada hampir 50% merupakan orang-orang yang bekerja di sektor informal. Data ini ditemukan di negara-negara berkembang. Ada anggapan bahwa selama ini sektor informal sering diidentikan dengan pekerjaan rendahan dan kebanyakan didominasi oleh penduduk miskin, bertujuan hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari, keuntungan tidak terlalu besar, sering dikerjakan sendiri dengan jumlah pekerja yang masih sedikit dan terbatas pada relasi keluarga. Dengan demikian sebagian besar sektor informal berpotensi besar untuk diisi oleh masyarakat pendatang dari daerah lain. Yang perlu diketahui bahwa apakah mereka ini merupakan migran yang bersifat permanen atau melingkar. Karena ini akan sangat menentukan kondisi sektor-sektor informal maupun formal.

Kasus yang cukup menarik adalah perkembangan industri di Pulau Dewata (Bali). Industri pariwisata Bali berkembang cukup pesat dan banyak melibatkan masyarakat lokal. Dua kawasan yang cukup terkanal adalah sanur dan kuta yang merupakan resor wisata utama di pulau Bali. Namun demikian dua resor tersebut memiliki karakteristik yang berbeda terkait dengan struktur budaya dan nilai adat. Kuta umumnya dianggap lebih kompetitif yang lebih menguntungkan ketimbang sanur. Data yang dihimpun penulis misalnya, Jumlah wisatawan ke Bali telah meningkat secara drastis selama dua puluh tahun terakhir dari sekitar 30.000 pengunjung pada tahun 1970 menjadi lebih dari 600.000 pada akhir 1980-an. Dalam lima tahun 1984-1989 pariwisata diperkirakan akan tumbuh 14 persen per tahun, mencapai satu juta pengunjung pada tahun 1989. Perkiraan resmi untuk Repelita V adalah 1,3 juta wisata di Bali tahun 1993.

Dengan pertumbuhan tersebut penulis menilai adanya perubahan yang cukup signifikan. Masyarakat Bali yang tadinya miskin, penyakit malaria, setelah adanya pengembangan pariwisata terjadi pertumbuhan yang signifikan pertumbuhan ekonomi. Pulau ini sekarang memiliki salah satu tingkat pendapatan rata-rata tertinggi di seluruh Indonesia, bahkan lebih tinggi dari Jakarta yang pada waktu itu merupakan salah satu kota termaju di Indonesia. Yang cukup unik adalah Meskipun aspek negatif dari pariwisata di Bali ada, orang Bali tampaknya merasa umumnya positif tentang manfaat materi pariwisata.

Penulis kemudian memberikan penjelasan yang lebih detail terkait dengan penyerapan tenaga kerja di Bali. Data dari Reppelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun) V, 55.000 pekerjaan baru terdaftar melalui unit akomodasi. Selama sepuluh sampai dua puluh tahun terakhir telah terjadi tren di Bali bagi warga desa untuk bermigrasi ke daerah resor utama Kuta, Sanur dan Nusa Dua untuk mencari pekerjaan di industri pariwisata, terutama karena potensi upah yang lebih tinggi ditawarkan dalam sektor pariwisata. pada awal tahun 1970 adalah sektor guide. Pada 1985 jumlah pemandu resmi adalah 487, dan pada tahun 1990, perkiraan jumlah telah berkembang menjadi 1.350 ( Pariwisata Pemerintah Bali Office 1990). Ada trend peningkatan minat untuk bekerja di pariwisata. Pekerjaan pariwisata umumnya membayar upah lebih tinggi daripada jenis pekerjaan tradisional ( seperti perikanan dan pertanian ) dan sangat padat karya. Walaupun secara jumlah mayoritas penduduk Bali masih bekerja sebagai petani. Bahkan ada kebijakan yang mengatakan bahwa pada tahun 2003 sektor pertanian akan mengalami penurunan sedangkan sektor pariwisata akan terus ditingkatkan.

Data yang didapat oleh peneliti (1990) menggambarkan bahwa masyarakat yang bekerja di sektor pariwisata lebih banyak dari sektor yang lain kecuali pertanian. Perlu dicatat juga bahwa angka tenaga kerja untuk sektor pariwisata tidak termasuk sektor informal. Pada tahun 1984 adalah sekitar 33 persen khususnya, sekitar 85 persen khususnya bahasa dari para pekerja perempuan bekerja di sektor perikanan informal. Ada sekitar 60 persen adalah pekerja sedangkan 40 persen adalah para pengusaha.

Terkait dengan posisi perempuan, di Bali pekerjaan utama perempuan adalah pertanian, diikuti dengan produksi barang dan jasa, dan penjual. Pekerjaan perempuan dalam perdagangan, hotel dan restoran sektor telah meningkat dari 59.802 pada tahun 1971 menjadi 145.200 pada tahun 1990, meningkat 143 persen. Kerja perempuan di sektor kerajinan telah meningkat dari 19.700 pada tahun 1971 menjadi 93.000 pada tahun 1990, meningkat 372 persen . Akhirnya, dalam sektor pertanian, tenaga kerja perempuan telah pergi dari 100, 700 pada tahun 1971 menjadi 387.700 pada tahun 1990, meningkat 285 persen.

Terkait dengan kontribusi resor sanur dan kute peneliti memaparkan data sebagai berikut. Sebenarnya sebagian besar pekerjaan penduduk sanur adalah petani, nelayan, peternak, dan tukang. Pada tahun 1969 ada 400 kamar akomodasi di Sanur. Pada tahun 1974 jumlah ini meningkat menjadi 1.800. Pada tahun 1981 2.150 menjadi 2.250 pada 1986 dan 2.900 pada tahun 1990. Pada awal 1991 angka menunjukkan bahwa ada 3.150 kamar di Sanur. Pertumbuhan yang cukup signifikan terhadap akomodasi. Pertumbuhan akomodasi yang pesat tentu mebutuhkan jumlah tenaga kerja yang cukup banyak. Beberapa kepala desa kemudian berusaha untuk memanfaatkan peluang tersebut untuk mendapatkan keuntungan. Tujuannya adalah untuk membiayai kegiatan social dan budaya. Sedangan kute, sebelum dikembangkannya pariwisata sebagian besar penduduknya kerja tradisional seperti memancing, bertani, dan beberapa merupakan pengrajin.

Perkembangan industri pariwisata yang cukup signigikan di Bali tidak dapat dilepaskan dari peran vendor. Mereka inilah yang menjadi bagian penting terhadap perkembangan pariwisata. Mereka adalah orang-orang yang menyediakan jasa bagi para wisatawan, baik transportasi, akomodasi, paket perjalanan, dll.

Artikel diatas secara subtansi sangat menarik, karena mencoba mengangkat wacana terkait kontribusi pembangunan sektor pariwisata. Ada alasan yang mendasar tulisan ini sangat menarik, yaitu tulisan ini banyak memberi gambaran kepada kita, baik kepada akademisi maupun praktisi, untuk lebih jauh melakukan ekspolorasi penelitian terkait dengan pariwisata. Apalagi ditengah wacana menjadikan pariwisata sebagai kajian ilmu. Bagi para praktisi menjadi informasi yang berharga terkait dengan prospek pariwisata ke depan yang akan terus tumbuh dan berkembang.

Namun demikian, ada beberapa hal yang kurang tepat dikemukakan oleh penulis. pertama, seharusnya penulis memberikan objek lebih banyak untuk lebih menguatkan argumentasi terkait kontribusi pariwisata. Dari sekian banyak wilayah di Bali hanya dipilih 2 yaitu sanur dan kuta. Dalam penelitian ini bisa jadi, apa yang dikemukakan oleh penulis sangat lemah. Apakah dari sekian banyak objek, dua objek tersebut mampu menggambarkan secara menyeluruh terkait denga persoalan yang dibahas? karena apakah dua objek tersebut dapat dijadikan generalisasi.

Kedua, penjelasan tentang sektor formal dan informal masih sangat sedikit. Penulis hanya memberi contoh dan kriteria sektor informal terbilang miskin. Padahal penting bagi pembaca untuk mengetahuinya. Sehingga mudah memetakan mana saja yang dikategorikan sektor formal dan informal. Penting misalnya menjelaskan peran pemerintah dan swasta dalam sektor formal dan bagaimana hubungannya dengan sektor informal.

Ketiga, kurangnya penjelasan tentang keberhasilan yang telah diperoleh oleh negara-negara berkembang seperti Tahiti dan Dominician. Data-data tentang keberhasilan mereka penting untuk mendapatkan penjelasan yang lebih komprehensif. Bisa menjadi bahan perbandingan dengan negara-negara yang lain. Misalkan, berapa banyak pendapatan yang mereka terima? Sejauh mana pariwisata menyerap tenaga kerja? Data-data ini penting ketika dibandingkan dengan konteks Bali.

Keempat, tidak adanya data statistik tentang pendapatan perkapita masyarakat Bali. Jika perkembangan pariwisata Bali menciptakan banyak peluang untuk meningkatkan kondisi perekonomian maka akan lebih valid didukung pendapatan perkapita. Data-data yang dijelaskan hanya berupa standard gaji yang diperoleh jika mereka bekerja di sektor pariwisata maupun di sektor tradisional.

Terlepas dari kritik yang saya kemukakan terhadap tulisan ini, ada beberapa hal yang menarik. Gagasan yang dikemukakan penulis cukup menarik ditengah dominasi gagasan sebelumnya. Bahwa pariwisata masih menjadi sektor sekunder. Tapi pada kasus Bali, sektor pariwisata justru menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi. Argumen-argumen yang dibangun cukup meyakinkan dengan data-data dari lapangan dan statistik.

Kemudian, kita mendapatkan gambaran yang menarik tentang pola migrasi penduduk. Perpindahan penduduk ini seperti hal yang alami. dimana, ketika ada peluang ekonomi yang lebih baik mereka akan mendatanginya. Kedatangan penduduk baru ini kemudian menciptakan banyak perubahan masyarakat asli. Bahkan sering bersifat konflik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s