Pembangunan Pariwisata Di Kepulauan Solomon

Brenda Rudkin dan C. Michael Hall

Review

Sekilas artikel ini mencoba memaparkan hasil dari penelitian tentang dinamika pengembangan pariwisata di kepulauan Solomon. Terutama pengembangan ekowisata di kepulauan Solomon. Diawal artikel ini penulis memberikan sebuah pengantar bahwasanya pengembangan pariwisata di kepulauan Solomon bisa menjadi alternative baru meningkatkan taraf hidup masyarakat daripada menjual tanah kepada perusahaan kayu. Selain itu pengembangan ekowisata bisa menjadi alternative baru wisata yang ramah lingkungan dan lebih banyak melibatkan masyarakat lokal.

Secara garis besar apa yang dijelaskan penulis dalam pendahuluan dapat diringkas sebagai berikut, pertama, pentingnya pengembangan ekowisata sebagai alternative baru pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan dan melibatkan masyarakat lokal. Kedua, pentingnya peran Institusi politik, agen, dan lembaga-lembaga donor sebagai jalan keluar untuk pengembangan ekonomi berbasis sumber daya alam pulau Solomon yang sedang terpuruk. Ketiga, ekowisata dianggap sebagai pendekatan pemasaran yang berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan mempertahankan kegiatan pariwisata yang sudah ada. Kemudian, bagian terpenting dari artikel ini adalah pembahasan terkait dinamika strategi pengembangan ekowisata di pulau Solomon dan perencanaan pembangunan yang melibatkan masyarakat lokal.

Penulis secara garis besar memberi gambaran tentang pulau solomon. Secara geografis Terletak di sebelah selatan pasifik, terdiri dari banyak pulau dengan 6 pulau utama. Sebagian besar pulau mempunya laguna yang panjang dan besar berupa terumbuu karang. Tempat yang menjadi habitat bagi biota laut. Tempat ini sangat cocok untuk melakukan diving dan senorkeling. Karena menawarkan pemandangan bawah laut yang indah. Hampir 80 persen wilayah d kepulauan Solomon tertutup di hutan hujan tropis yang lebat yang berisi banyak spesies endemik flora dan fauna ( lees 1991).

Secara ekonomi pendapatan utama dari sector pertanian dan perikanan. Hampir 80% penduduk bermata pencaharian pertanian dan perikanan, sebagian besar juga berkebun. Tingkat pertumbuhan ekonomi 3,5%. Pada 1987 pulau-pulau Solomon adalah US $ 144,6 juta dengan PDB per kapita sebesar US $ 485, yang agak rendah menurut standar regional. Dengan PDB sebesar itu dapat dikatakan perekonomian di kepulauan Solomon masih rendah. Tanaman komersial utama meliputi kopra , kelapa sawit , kakao , ikan dan kayu , yang menyumbang sekitar setengah dari PDB.

Jumlah penduduk pulau Solomon pada tahun 1989 diperkirakan 307.600 dan tingkat pertumbuhan tahunan 3,5 persen merupakan salah satu yang tertinggi di duniaDengan kondisi alam baik laut maupun hutan, kelpulauan Solomon memiliki potensi alam untuk dikembangan menjadi objek wisata, tapi kondisi geografis yang terletak di wilayah Pasifik kepulauan Solomon rawan mengalami bencana alam. Bahkan bencana ini menjadi langganan di kepulauan Solomon dan dampaknya bersifat jangka panjang. Butuh waktu lama untuk melakukan pemulihan.

Dimensi politik

Secara pemerintahan kepulauan Solomon mengadopsi sistem kolonial. Tapi secara sosiologis masyarakat Solomon struktur sosial sendiri dan terdiri dari berbagai macam etnis. Walaupun sebagian besar merupakan ketururan dari bangsa Melanesia, ada juga Polinesia, Mikronesia, Eropa, dan Asia. Struktur social masyarakat kepulauan Solomon terdiri dari peran orang besar (Kepala Suku), Klan, dan Hukum adat. Peran orang besar masih tetap sangat signifikan dalam politik pulau Solomon. Namun demikian peran Klan, Desa, Suku atau kepala tidak didefinisikan secara jelas. Bisa jadi kerena berbenturan dengan sistem hukum modern yang mempunyai aturan dan spesifikasi yang jelas.

Adanya dua dua model kekuasan yang bersifat tradisional dan modern menjadi penghambat pengambilan kebijakan. Padahal beberapa kalangan berpendapat bahwa antara sistem modern dengan adat seharusnya bisa saling bersinergi. Intinya adalah adanya keadilan dalam distribusi keuntungan terutama keseimbangan antara nilai ekonomis dengan adat dan alam. Tapi dengan sistem sosial yang masih mempertahankan orang besar dipuncak kekuasaan, sering menjadi kelemhan karena terjadinya penyimpangan berupaka pengejaran kekayaan pribadi.

Sebagian masyarakat Kepulauan Solomon masih menguasai kepemilikan tanah. Terutama kepala suku. Tapi sejak beberapa tahun terakhir terjadi perubahan yang signifikan. Disatu sisi banyak penduduk yang masih menggantungkan diri pada alam, di sisi yang lain banyak juga yang menyewekan tanah mereka untuk perkebunan. Bahkan menjadikannya sebagai objek wisata. Ada perubahan pandangan yang menganggap tanah sebagai susuatu yang keramat dimanfaatkan sebagai tujuan komersil.

Pariwisata di kepulauan Solomon

Pertumbuhan ekonomi kepulauan solomon terbilang lambat, tapi pengembangan pariwisata terus dilakukan, karena banyak orang menganggap pengembangan pariwisata di pulau Solomon adalah mekanisme ideal pembangunan ekonomi dan lapangan pekerjaan jangka panjang. Pariwisata alam, seperti Scuba -Diving Dan Hutan Hujan Treks, dan area bekas medan perang perang dunia kedua (de burlo 1989 ). Namun, kenyatannya sumbangsih pariwisata masih kecil 1,5 %. Sejak pertengahan 1980-an pemerintah pulau Solomon telah memberikan prioritas tinggi untuk pengembangan pariwisata karena dianggap sebagai industri yang potensial untuk mendapatkan devisa untuk produk primer. Persaingan yang masih rendah di Asia Pasifik mendorong pemerintah Solomon untuk melakukan promosi. Salah satu kebijakan utama yang diambil oleh pemerintah Solomon adalah promosi ekowisata dan proyek pariwisata berbasis alam yang peka budaya. Kebijakan ini didasari oleh munculnya kesadaran dari pemerintah untuk mengembangakn pariwisata sebagai sumber pendapatan alternative dengan prospek jangka panjang. Keterlibatan masyarakat juga menjadi priotitas utama pemerintah guna mencegah dampak negatif dari pertumbuhan industri pariwisata. Ada kekhawatiran pembangunan pariwisata dalam skala luas bisa jadi memakan tanah adat dan mereka akan melakukan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan ini.

Untuk memperkuat argumen tersebut penulis mengambil contoh pengemnangan pariwisata di Guadalcanal. Guadalcanal adalah pulau terbesar dalam kelompok pulau Solomon dengan massa tanah lebih dari 5.300 km2 yang mewakili sekitar 19 % dari luas daratan negara itu. Didominasi oleh rantai pegunungan vulkanik yang menjalankan panjang pulau. Pegunungan yang sangat kasar dengan contoh-contoh yang luar biasa dari hutan hujan tropis. Area Guadalcanal Utara berada di bawah tekanan berat dari kepentingan pembalakan komersial. Namun yang agak ironis adalah wilayah Selatan Guadalcanal di mana ” ekowisata ” sedang dipromosikan dan sebagai alternatif menjaga hutan tapi justru menjadi kegiatan komersil berupa penebangan hutan.

Duadalcanal memiliki lahan pertanian dengan kualitas buruk, penduduk sering tertimpa masalah kesehatan , seperti malaria , dan bencana alam yang sering terjadi termasuk badai dan gempa bumi. Ini merupakan salah sebagian factor penghambat yang dihadapi oleh masyarakat terutama dalam proyek pengembangan pariwisata. Sistem kepemilikan tanah juga menjadi persoalan lain dimana sistem kepemilikan tanah justru menjadi sumber kesenjangan di dalam pemerataan pendapatan. Jika pengembangan pariwisata ini dilakukan maka hanya sebagian orang saja yang dapat menikmati keuntungan, karena sebagian tanah dikuasai oleh orang-orang besar, dengan sistem matrenilial.

Pada oktboer 1988 sebuah proposal diajukan pemerintah menawarkan kepada masyarakat adat tentang konsep pengembangan hutan yang dapat memberikan mereka banyak keuntungan, konsep tersebut adalah pengembangan ekowisata. Tujuannya adalah agar mereka tidak menjual kawasan hutan kepada perusahan kayu. Dikarenakan mereka sangat tergantung pada hutan. Tapi tidak adanya sosialisasi dengan baik banyak masyarakat lokal yang tidak memahami kegiatan ini. Garis besar proposal:

  • Pandangan awal pada pilihan manajemen dengan melakukan diskusi dengan pemilik tanah tradisional.
  • Sebuah ‘fase kesadaran’ di mana pemilik tanah harus diidentifikasi dan perselisihan diselesaikan sebelum melanjutkan lebih lanjut.
  • Penemuan sumber-sumber di mana pilihan pembangunan akan dievaluasi.
  • Sebuah rancangan rencana yang akan menjelaskan semua aspek operasi dan yang akan didistribusikan secara luas untuk komentar umum sebelum penerapan rencana akhir.
  • Melakukan pertemuan awal dan memastikan arus informasi berkala kepada pemerintah daerah dan dewan yang relevan akan ditetapkan dan dipelihara.

Point-point di atas sangat mementingkan tentang keterlibatan antara pemerintah dan masyarakat adat. Pemerintah yang menjadi aktor utama sebagai inisiator harus bisa merangkul masyarakat adat dan memberdayakan mereka demi mencapai tujuan bersama. Tindakan sewenang wenang ataupun marginalisasi peran masyarakat adat bisa jadi sangat merugikan. Karena disatu sisi mereka adalah aktor utama di sisi yang lain mereka bisa menjadi penghambat.

Berbagai macam proyek pengembangan pariwisata ini didasarkan untuk mencegah penduduk untuk menjual tanah mereka kepada perusahaan kayu. Tentu saja ini sungguh mengkhawatirkan. Karena jika ini sampai terjadi maka akan terjadi kerusakan hutan. Maka diusahakan pembangunan pariwisata bisa menawarkan keuntungan sama dengan jika mereka menjual kayu. Tentu saja usaha yang lain dilakukan, dengan melakukan sosialisasi pentingnya menjaga alam bagi kehidupan jangka panjang mereka.

Struktur sosial masyarakat Solomon masih tradisional. Salah satunya adalah peran dari orang besar. Sedangkan kondisi geografis dan social sangat memprihatinkan. Kondisi ini yang menjadi penghambat paling besar pengembangan pariwisata. Terutama tentang kondisi geografis yang sagat sulit untuk dijangkau. Mengapa situasi ini muncul? Dua jawaban yang saling terkait dapat diberikan. Pertama, bantuan dari donor, konsultan, dan kelompok konservasi cenderung memiliki persepsi ekowisata yang berkonsentrasi pada manfaat konservasi dan ekonomi yang dirasakan dari pengembangan pariwisata. Dimensi sosial bersifat sangat luas tapi sering diabaikan. Selain itu, dimensi politik di mana proyek-proyek ekowisata yang diberikan, didukung oleh orang-orang besar lokal dan anggota elit bisnis, belum diberikan pertimbangan yang layak dalam terang tujuan pembangunan sosial yang lebih luas yang banyak pendukung mengklaim bahwa ekowisata akan memberikan keuntungan bagi masyarakat lokal. ( Dewan Pariwisata Pasifik Selatan 1988; Lees 1991; Kudu 1992; Sofield 1992) .

Sebuah studi baru-baru ini di sejumlah komunitas cuaca Coast menurut Chapman ( 1993) telah menunjukkan bahwa tingkat pendidikan di beberapa komunitas Coast telah mengalami kemunduran dalam dua puluh lima tahun terakhir. Sementara ada perbedaan jauh lebih besar antara pendapatn tertinggi dan terendah di dalam rumah tangga Desa. Situasi hampir terjadi disebagian besar kepulauan Solomon. Hal-hal tersebut terkait dengan kesehatan, sanitasi, air bersih dan pembangunan pertanian yang belum terselesaikan sampai sekarang.

Pengembangan ekowisata bukanlah hanya masalah keseimbangan ekonomi dan politik, itu berkaitan dengan mengintegrasikan ekonomi, lingkungan dan masyarakat. Meskipun retorika organisasi pariwisata, kelompok konservasi, konsultan, dan donor bantuan, konsep ekowisata di Pasifik Selatan telah dipromosikan dalam sebuah brand konservasi dan bisnis, tetapi sering gagal untuk menghargai peran nilai-nilai sosial dan politik dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan dan pemeliharaan keanekaragaman hayati.

Kekuatan pendorong untuk promosi ekowisata berasal dari donor asing, investor, lembaga akademik, konsultan dan kelompok konservasi, seperti World Wide Fund for Nature dan Maruia Society, yang memandang ekowisata sebagai kesempatan untuk melestarikan keanekaragaman hayati melalui proses pemesanan .

Tidak diragukan lagi, di dalam lingkungan, kepentingan ekonomi dan sosial sangat penting bagi masyarakat adat. Keanekaragaman hayati tanah dan sumber daya air adalah elemen yang menopang manusia dan ekonomi. Negara Barat harus mengakui bahwa bagi masyarakat adat di Pasifik Selatan, lingkungan ada di atas segalanya ( Helu – Thaman 1992). Ini berarti bahwa, daripada menyebarkan manfaat dari pariwisata di seluruh masyarakat, ketidakadilan sosial mungkin hanya diperkuat oleh pandangan sederhana dari manfaat yang melekat pariwisata.

Secara garis besar artikel ini menarik, karena memperlihatkan proyek pengembangan pariwisata adat dimana melibatkan berbagai macam pemangku kepentingan. Selain itu, kondisi alam dan social masyarakat menjadi sebuah atraksi yang menarik. Kepulauan Solomon terdiri dari berbagai macam pulau dengan hutan dan laut yang luar biasa indah. Peneliti juga menceritakan bagaimana relasi yang terjadi antara pemerintah yang berwenang dengan masyarakat adat. Peneliti juga menceritakan tentang struktur social masyarakat. Kondisi masyarakat secara umum dan persoalan yang dihadapi. Saya mencatat beberapa hal yang menarik dari artikel ini.

Pertama, persoalan yang diangkat oleh peneliti menurut saya masih relevan sampai sekarang. Karena pariwisata sekarang ini dianggap sebagai salah satu solusi jangka panjang dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat walaupun pendapat ini masih debatable. Terutama bagaimana menyatukan tujuan antara pemerintah dan masyarakat dalam pembangunan pariwisata. Misalnya, bagaimana pemerintah kepulauan Solomon merencanakan program pengembangan ekowisata sebagai solusi alternative untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus mencegah masyarakat menebang hutan untuk dijual yang dapat merusak lingkungan. Memanfaatkan potensi alam yang dianggap sepele tapi mempunyai daya Tarik bagi para wisatawan.

Kedua, dimensi politik memang menjadi sentral persoalan, karena langsung bersentuhan dengan kebijakan. struktur masyarakat Solomon yang tradisional ternyata dibenturkan dengan sistem kolonial yang diadopsi. Akibatnya hukum adat menjadi termarginalkan sekaligus melebur ke dalam hukum negara. Persoalan ini sangat menarik dan sering kita jumpai tidak hanya di pulau Solomon. Dalam artikel-artikel sebelumnya, seperti artikel yang menjelaskan pembangunan pariwisata dalam skala besar sering mengalahkan hukum adat, dalam bentuk penggusuran, dan pelanggaran adat..

Ketiga, dalam kesimpulannya penulis menilai bahwa pembangunan pariwisata tidak hanya sekedar menjaga keseimbangan antara ekonomi dan politik tapi berkaitan juga dengan bagaimana mengintegrasikan antara masyarakat dan lingkungan. Konsep ini memang sangat enak ketika diuraikan tapi dalam Pratik sangat sulit. Sebagian besar justru terjebak pada keuntungan dan mengabaikan nilai sosial dan budaya. Artikel ini cukup bagus memotret persoalan ini di kawasan pasifik.

Pembangunan ekowisata disatu sisi menjanjikan keuntungan ekonomi tapi di sisi lain menjadi dilematis. Ekowisata merupakan proyek pengembangan pariwisata yang berwawasan lingkungan (konservasi) yang membutuhkan proses yang panjang. sedangkan masyarakat juga mengharapkan sumber pendapatan yang cepat dan besar. Jika mereka harus mengandalkan dari pariwisata tentu ini hal yang mustahil, maka hal yang paling mungkin adalah menjual tanah dan hutan mereka.

Namun saya sendiri menilai ada beberapa kekurangan dari artikel ini, pertama, secara spesifik penulis tidak menjelaskan sistem pemerintahan di kepulauan Solomon. Termasuk kebijakan yang spesifik. Di sini hanya menjelaskan bagaimana peran pemerintah dalam mengembangkan pariwisata.

Kedua, tidak menjelaskan secara spesifik tentang struktur sosial masyarakat Solomon. Penulis hanya menuliskan struktur ssial masyarakat yang masih tradisional. Keterangan ini masih sangat dangkal. Karena jika penulis menjelaskan secara detail maka pembaca akan dapat menghubungkan persoalan pembangunan pariwisata masyarakat adat dan pemerintah. Sikap yang diperlihatkan bisa jadi cerminan dari struktur masyarakat itu sendiri.

Ketiga, data-data yang dikemukakan oleh penulis menurut saya sudah kedaluwarsa. Karena bisa jadi persoalan akomodasi dan transpotrasi yang tadinya menjadi penghambat sudah tidak menjadi persoalan utama. Banyak daerah-daerah terpencil yang sekarang ini dapat di kunjungi berkat kemajuan teknologi transportasi. Penulis sering mengemukan tentang hambatan geografis.

Secara keseluruhan saya sangat mengapresiasi tulisan ini, secara idea dan gagasan sangat menarik karena belum banyak yang melakukan penelitian tentang ini. Penjelasan yang detail memberi banyak gambaran tentang persoalan yang diangkat. Saya mendapatkan banyak pandangan tentang berbagai macam aspek dari pembangunan pariwisata. Ada aspek politik, aspek ekonomi, aspek lingkungan, dan aspek budaya, aspek social. Ini merupakan pengetahuan yang sangat berguna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s