Pariwisata dan Masyarakat Pribumi

Artikel ini sangat menarik karena menyajikan fenomena kegiatan manusia untuk mendatangi wilayah-wilayah baru diluar lingkungannya sendiri. Kegiatan ini kemudian menimbulkan berbagai macam persoalan social, budaya, dan ekonomi. Persoalan ini menarik untuk dikaji secara akademis dari berbagai macam aspek dan hasil dari kajian akademis dapat dijadikan bahan rekomendasi atau buku tentang fenomena kegiatan beriwsata.
Di awal artikel penulis mengemukan tentang fenomena kegiatan mengunjungi wilayah lain dalam rangka berlibur, belajar, atau lainnya sudah ada sejak lama sebelum muncul istilah tourism. Bahkan penulis menilah Istilah tourism sebagai istilah yang diterapkan sebagai sebuah mekanisme control terhadap kegiatan berkunjung yang ditandai dengan pergolakan dan cenderung eksploitatif agar lebih adil. Pergolakan ini sering ditandai dengan kerugian yang didapat oleh masyarakat yang didatangi yang kemudian memunculkan berbagai macam kasus. Kasus-kasus ini kemudian terangkat di dunia internasional dan local kemudian melahirkan gerakan-gerakan radikal menuntut ketidak adilan ini
Penulis juga mampu menjelaskan dengan seksama latar belakang munculnya istilah tourism. Sebelum munculnya istilah tourism, kegiatan untuk mengunjungi dan menemukan daerah baru sudah berlangsung hampir 400 tahun lamanya. tapi tidak selalu ketertarikan itu berupa kebutuhan untuk mengenal dan mempelajari budaya lain. kegiatan ini justru mengalami perubaan tujuan yang radikal menjadi bentuk eksploitasi terhadap masayrakat yang didatangi. Ada kemungkinan terjadi perubahan motivasi dari belajar menjadi motivasi ekonomi.

Perkembangan kegiatan berwisata ternyata berlangsung cepat dan menjangkau daerah yang cukup luas. Hal ini kemudian memunculkan berbagai macam persoalan baru sebagai dampak kegiatan berwisata. Cepatnya laju dan jangkauan kegiatan berwisata mendorong kegiatan berwisata menjangkau daerah peripheral dan daerah terpencil. Daerah peripheral dan terpencil ini mempunyai kehidupan social, nilai budaya yang origin dan unik yang bagi masyarakat luar merupakan daya Tarik untuk dapat mengenal dan mempelajarinya atau sekedar melihat dan merasakan.
Ketidak adilan yang terjadi dari kegiatan berwisata terhadap penduduk asli menimbulkan simpati berbagai macam lapisan masyrakat dan organisasi kemanusian. Mereka memperjuangakan kebebasan menentukan nasib sendiri dan mencari kesetaraan dan keadilan. Isu-isu ini kemudian diakui sebagai isu global dan local. Perjuangan ini tercermin dalam konflik antara negara maju, berkembang, serta konflik antar kelompok-kelompok minoritas.
Di dalam arrtikel ini terdapat beberapa pandangan yang menarik. Salah satu pandangan misalnya bahwa pariwisata sebagai mekanisme untuk menemukan solusi terhadap tantangan yang dihadapi masyarakat pribumi. Inti dari argumen tersebut bahwa pendapatan yang dihasilkan melalui pariwisata merupakan pertukaran yang adil antara nilai orang-orang pribumi dan non-pribumi. Tentu saja nilai di sini berupa nilai ekonomis yang diterima oleh kedua belah pihak. Jika kemandirian ekonomi meningkat akan disertai dengan tingkat kemandirian berupa penentuan nasib sendiri dan melepaskan kebanggaan budaya sebagai belenggu yang disebabkan oleh kemiskinan dan kerusakan social. Pariwisata dipandang sebagai pengelolaan yang tepat sebagai kegiatan yang berkelanjutan yang umumnya konsisten dengan nilai-nilai pribumi tentang kesucian tanah dan hubungan lainnya diantara masyarakat pribumi. Meskipun konvergensi ini jelas kepentingan antara komponen pribumi dan non-pribumi di industri pariwisata, masih ada beberapa masalah mendasar yang menantang kelangsungan hidup jangka panjang dari inisiatif pariwisata pribumi.
Argument kedua mengatakan bahwa bentuk partisipasi yang aktif dari masyarakat pribumi di dalam pengembangan pariwisata sebagai bentuk fasilitasi pemahaman hubungan antara masyarakat pribumi dan non-pribumi. Karena terjadinya kerusakan yang terus menerus terhadap masyarakat pribumi bisa jadi dikarenakan ketidak tahuan dari masyarakat non-pribumi. Masyarakat non pribumi kemudian melihat, merasakan, merasakan budaya asli, pemahaman dan apresiasi terhadap posisi masyarakat pribumi, ini yang diharapkan meningkatkan keperdulian terhadap isu-isu tersebut. Hubungan yang saling memahami antara masyarakat pribumi dan non-pribumi membawa perubahan sikap yang terarah yang pada gilirannya membawa hubungan yang adil antara keduanya.
Dapat disimpulkan bahwa argumen-argumen yang dibangun dalam artikel ini mengidealkan Jika pariwisata dapat direncanakan dan dikelola dengan baik sehingga masyarakat adat mandiri menentukan sifat dari pengalaman. Karena sentralitas atraksi budaya dan peningkatan kepemilikan adat, masyarakat adat secara teoritis dapat menegosiasikan keterlibatan mereka dalam pariwisata dari posisi yang kuat.
Beberapa kajian tentang indigenous tourism telah dilakukan. Hasil dari kajian tersebut kemudian menghasilkan berbagai macam rumusan dan rekomendasi. Pertama, menjadikan indigenous tourism sebagai subjek studi ilmiah; kedua melakukan advokasi terhadap masyarakat adat; ketiga, mengembangkan perspektif strategis terhadap analisis kebijakan dan ekonomi; dan keempat, pentingnya pendidikan lintas-budaya.
Sebagai contoh beberapa kajian yang pernah dilakukan pertama, kajian yang fokus terhadap potensi terjadinya marginilisasi terhadap pengusaha pariwisata pribumi. Kedua, Persoalan tentang keaslian. Ketiga, Komodifikasi terhadap kemasan dan penjualan budaya. Keempat, proses akulturasi dari masyarakat asing yang berpengaruh terhadap masayrakat local. Ada sebuah artikel yang memberikan sinyal bahaya pariwisata dan memberikan literature yang kritis untuk mendukung kepentingan masyarakat pribumi dalam hubungan pariwisata.
Penulis dalam artikel ini memberikan contoh keberhasilan mekanisme pariwisata terhadap masyaraka asli. Seperti studi yang dilakukan terhadap masyarakat aborigin di Australia oleh Altman (1989 dan Altman dan Finlayson (1993). Bagaimana membangun pemahaman terhadap masyarakat non-pribumi tentang pentingnya membangun pariwasata pribumi yang bersifat berkelanjutan. Karena kesuksesan pengembangan pariwisata pribumi tergantung dari pengembangan dan pemahaman terhadap kebudayaan masyarakat pribumi. Perkembangan ini juga mendorong banyak literature dari hasil kajian tentang hubungan antara masyarakat pribumi dan non pribumi. Bahkan banyak donor yang memberikan dana untuk melakukan kajian-kajian terhadap hubungan ini.
Ada beberapa point yang dapat diringkas terkait perkembangan pariwisata yang melibatkan masyarakat non-pribumi dengan pribumi meliputi: (1) fokus pada contoh opsi pengembangan pariwisata yang tersedia untuk masyarakat adat, (2) mengingat turbulensi terkait dengan pengejaran pilihan ini , dan (3) menyajikan perspektif lintas-budaya isu dalam pariwisata adat. Pertimbangan dari opsi pariwisata ditangani dengan menjelajahi berbagai pendekatan yang masyarakat adat telah digunakan dalam upaya untuk menangkap manfaat dari pariwisata. Perhatian kemudian beralih ke turbulensi pembangunan melalui pemeriksaan studi kasus lebih lanjut tetapi dengan penekanan lebih besar pada isu-isu dan konflik yang muncul. Akhirnya, perspektif lintas budaya menggambarkan indigenous tourism dan mengintegrasikannya dan disajikan dalam kerangka kerja sebagai sarana mensintesis wawasan dan isu yang diangkat dari pariwisata dan turbulensinya.
Soal Definisi
Salah satu hal yang menarik dalam artikel ini adalah soal definisi yang diberikan oleh berbagai macam peneliti tentang indigenous tourism. Karena tidak semua peneliti menggunakan istilah yang sama dengan arti yang sama pula. Definisi ini penting karena akan berpengaruh terhadap definisi terhadap istilah yang akan bagi masyarakat asli. Penggunaan istilah tersebut juga sangat dipengaruhi oleh jangka waktu penelitian itu dilakukan. Jangka waktu sendiri sangat tergantung pada konteks geografis, kelompok budaya tertentu yang merupakan fokus dari publikasi, tujuan penulis, dan kepekaan dari target audien.
Sedangkan istilah yang digunakan oleh masing-masing penulis dalam koleksi ini bervariasi sesuai dengan konteks bab, karena objek penelitian berbeda satu dengan yang lain. penulis di sini mendefinisikan masyarakat pribumi sebagai gambaran ras orang yang endemik. Dengan demikian, kelompok ini banyak mewakili baik mayoritas maupun kelompok minoritas di tempat tujuan. Tujuan penulis menggunakan Istilah masyarakat pribumi agar istilah ini menjadi inklusif dan global dalam penerapannya. Istilah ini juga sesuai dengan terminologi yang digunakan berbagai macam lembaga-lembaga internasional bahkan negara.
Pariwisata Adat mengacu pada kegiatan pariwisata di mana masyarakat adat terlibat langsung baik melalui kontrol dan / atau dengan memiliki budaya mereka menjadi esensi dari daya tarik . Faktor kontrol sebagai salah satu kunci dalam setiap pembahasan pembangunan, dan pengembangan, sedangkan indigenous tourism adalah pengecualian untuk aturan ini. Siapa pun memiliki kontrol umumnya dapat menentukan faktor-faktor penting seperti skala, kecepatan dan sifat pengembangan. Demikian pula , mengingat sentralitas daya tarik untuk kegiatan pariwisata, sejauh mana mereka menjadikan daya tarik sebagai difokuskan pada budaya asli juga dan indikator pariwisata adat.
Pariwisata masyarakat pribumi terjadi dalam konteks industri pariwisata global yang didominasi oleh aktor-aktor non-pribumi. Dengan sangat detail dan sistematis penulis memberikan analisis dan gambaran bagaimana aktor non pribumi ini mampu mendominasi kegiatan pariwisata. Namun, bahkan industri global ini tidak diluar ruang hampa. Ini adalah bagian dari lingkungan yang lebih luas yang saling mempengaruhi. Lalu bagaimana mekanisme ini berlangsung?
Peulis menggambarkan bagaimana pengusaha-pengusaha pariwisata terkedang berbeda dari rekan-rekan mereka di industri pariwisata global, tujuan utama adalah profitabilitas. Namun, ada banyak aspek pembangunan pariwisata yang dikendalikan oleh kepentingan lebih dekat dan selaras dengan industri pariwisata global, terutama di alam transportasi dan pemasaran. Bahkan di tempat tujuan, banyak layanan dan infrastruktur pariwisata dasar sering dikontrol oleh kepentingan non – pribumi dengan ikatan yang kuat dengan industri pariwisata global. Hasil ketidakseimbangan kekuasaan menimbulkan masalah penentuan nasib sendiri dan Penyaluran dampak.
Demikian pula, faktor dalam lingkungan eksternal yang mungkin memiliki pengaruh yang sangat kuat pada hasil pariwisata adat termasuk yang terkait dengan ekonomi, budaya, lingkungan fisik, sosial – demografi, dan politik. Faktor-faktor ini merupakan pengaruh eksternal sebagian besar di luar kendali baik industri pribumi atau global tetapi yang membantu menentukan keberhasilan industri. Factor ekonomi bahwa ada ketidakadilan struktural yang dibangun ke dalam pendekatan kapitalis swasta untuk pembangunan ekonomi yang dijalankan bertentangan dengan kepentingan masyarakat adat. Mekanisme ekonomi yang paling mungkin untuk membawa kesuksesan harus didasarkan pada kontrol masyarakat daripada perusahaan individu atau pihak eksternal. Dari perspektif ini, banyak upaya diperlukan untuk memberikan perlindungan yang efektif untuk kepentingan komunitas masyarakat adat karena mereka meningkatkan partisipasi mereka dalam kerangka kapitalis yang berkembang pesat.
Kedua, factor budaya. Tentu saja dalam pengembangan indigenous tourism budaya dan atraksi merupakan modal utama. Dan harus diakui setiap daerah atau kawasan mempunya budaya yang sangat berbeda. Sebagain orang berpendapat ini merugikan tapi bagi sebagian orang ketimbang memperdebatkannya perbedaan dianggap sebagai sebuah keunggulan. Disamping itu dinamika dari budaya asli juga terus berlangsung. Dan sulit kemudian untuk menemukan budaya yang benar-benar asli.
Ketiga, factor lingkungan fisik. Dari perspektif etnosentris banyak orang dari warisan Eropa , lingkungan alam dipandang sebagai kolam sumber daya untuk kepentingan umat manusia . Secara tradisional , lingkungan yang dibangun cenderung menjadi bagian yang lebih penting dari landscap berbasis budaya non – pribum, Barat relatif terhadap budaya asli. Sebaliknya, orang yang paling adat percaya bahwa mereka terkonjugasi tak terpisahkan dengan alam ( hollianshead 1992) dan melihat bumi sebagai mereka ‘ ibu ‘ daripada sumber daya yang akan digunakan untuk keuntungan jangka pendek ( paraker 1993a ).
Keempat, factor demografi social. Kondisi dan karakteristik masyarakat adat kemudian diidentikan orang sebagai orang-orang yang primitive dan ketinggalan jaman. Indikator-indikator kondisi ekonomi dan sosial melukiskan gambaran suram dari budaya kemiskinan. Ini akan menjadi pengmhambat dalam pengembangan indigenous tourim.
Penulis kemudian memberikan beberapa konklusi, pertama, pariwisata pribumi berada dalam konteks pariwista global dimana tidak berupa ruang hampa. Tapi terdiri dari berbagai macam aktifitas kegiatan periwisata. Tidak hanya persoalan internal pariwisata tapi juga terkait dengan soal-soal lain seperti ekonomi, politik, social, dll. Karena itu keberadaan pariwisata masyarakat pribumi bersifat kompleks dan rumit.
Kedua, Bab berikut memberikan wawasan pariwisata adat dalam dua konteks umum. Salah satunya adalah melalui isu-isu terkait dengan kontrol lokal dan sinergi dan ketegangan yang ada antara adat dan industri pariwisata global. Perhatian lain melibatkan isu-isu yang relevan yang ditemukan dalam konteks lingkungan yang lebih luas di mana semua konteks pariwisata.
Ketiga, atraksi , infrastruktur iklan layanan yang dikendalikan oleh orang-orang pribumi atau yang dikembangkan di sekitar tema adat merupakan manifestasi terkuat dari industri pariwisata adat . Sementara perusahaan-perusahaan ini dapat mengejar berbagai tujuan yang berbeda dari rekan-rekan mereka di industri pariwisata global , profitabilitas jangka panjang secara konsisten bersama sebagai tujuan.
Keempat, Demikian pula, faktor dalam lingkungan eksternal yang mungkin memiliki pengaruh yang sangat kuat pada hasil pariwisata adat termasuk yang terkait dengan ekonomi, budaya, lingkungan fisik, sosial-demografi, dan politik. Faktor-faktor ini merupakan pengaruh eksternal sebagian besar di luar kendali baik industri pribumi atau global tetapi yang membantu menentukan keberhasilan industri.
Secara umum artikel ini ingin memberikan sebuah penjelasan melalui kajian akademis tentang dinamika perkembangan pariwisata. Tapi secara khusus ingin memotret perkembangan yang dinamis dari perkembangan pariwisata yang berkaitan dengan indigenous tourism. Dalam arti pariwisata yang berkaitan dengan indigenous sebagai objek wisata.
Secara subtansi artikel culup sukses menggambarkan buku secara utuh. Misalnya, secara garis besar penulis memperkenalkan berbagai macam persoalan dari kegiatan pariwisata dan memberikan data-data melalui studi pustaka tentang kajian yang pernah dilakukan terkait indigenous tourism. Mulai dari awal mula munculnya kegiatan berwisata dan hubungannya dengan masyarakat pribum. Kemudian apa itu masyarakat non pribumi, relasi yang dibangun, dan sifat relasi, serta perjuangan-perjuangan yang melibatkan antara masyarakat pribumi dan non-pribumi. Penulis juga menejelaskan berbagai macam factor yang mempengaruhi relasi-relasi mereka. Saya mencatat beberapa hal menarik dari artikel ini.
Pertama, dalam sub-bab pengenalan penulis cukup kritis dengan menjelaskan tentang latar belakang munculnya isu-isu pariwisata pribumi. Misalkan penulis memperlihatkan kepada kita bahwasanya kegiatan untuk mengunjungi, melihat, dan merasakan budaya lain suda terjadi sejak dulu. Pada dasarnya kegiatan ini berawal dari keinginan untuk belajar. Tapi pada perkembangannya terjadi pergeseran. Motivasi mereka mengenal budaya lain bukan hanya sekedar ingin belajar tapi sudah masuk dalam konteks ekonomi. Dimana tidak hanya sekedar kegitan mengenal dan merasakan tapi ada unsur keonomi, social, dan politik. Mungkin sebagaian dari kita tidak tahu banyak tentang sejarah ini dan fenomenanya. Karena banyak orang tergilas dalam wacana umum bahwa pariwisata itu bersifat positif dan menyenangkan.
Kedua, artikel ini cukup sistematis menggambar alur pembicaraan. Memberikan sebuah kerangka yang sistematis untuk memahami dinamika persoalan pengembangan pariwisata masyarakat pribumi. Memberikan peta tentang persoalan-persoalan yang sangat relevan terkait masyarakat pribumi dan pariwisata. Memaparkan berbagai macam kejian yang telah dilakukan. Karena artikel merupakan pembuka dan sebagai dasar pemahaman bersama terkait dengan fenomena pariwisata. Penulis mengawalinya dengan kritik terhadap hubungan antara non-pribumi dan pribumi, kemunculan konsep pariwisata, dan alasan kajian ini, kajian-kajian yang pernah dilakukan, definisi, serta kerangka pemahaman tentang indigenous tourism.

Ketiga, penulis menjelasakan secara komprehensif tentang persoalan pergolakan yang terjadi antara masyarakat pribumi dan non-pribumi. Misalnya, dalam sub-bab rationale, memberikan argumen tentang pentingnya studi ini. kemudian pada bagian kajian, memberikan sebuah batasan dan jangkauan sejauh mana kajian tentang pariwisata bagi masyarakat pribumi dan non-pribumu. Yang paling penting memberikan kerangka kerja yang cukup detail.
Keempat, kesimpulan yang diberikan cukup bisa menjawab tentang apa yang telah ditanyakan sebelumnya. seperti sejauh mana pentingnya kajian ini. bagaimana posisi masyarakat adat dalam pariwisata. Dan ke depan bagaimana pembangunan pariwisata masyarakat pribumi dikembangkan.
Saya juga mendapatkan beberapa kelemahan dari artikel ini. pertama, sedikitnya penjelasan tentang perspektif antropologi, serta metodologi yang digunakan. Memang ada bagian artikel yang menjelaskan tentang salah satu artikel menggunakan perspektif antropologi. Tapi pertanyaannya cukupkah hanya menggunakan perspektif antropologi. Mungkin ada metode lain yang dapat digunakan untuk menganalisis fenomena perkembangan pariwisata.
Kedua, apakah persoalan yang dibahas penulis dalam artikel masih relevan. Banyaknya regulasi yang muncul yang mengatur relasi antara masyarakat pribumi dan non-pribumi telah menempatkan masyarakat pribumi sebagai subjek pengembangan pariwisata. artinya terjadi perkembangan yang cukup signifikan terhadap posisi masyarakat pribumi yang tidak lagi menjadi persoalan sebagaimana yang dikemukakan penulis. Sekarang timbul wacana dimana pemerintah mulai aktif melakukan sosialisasi dan pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan dan bersifat berkelanjutan. Persoalan-persoalan ini yang kurang dikaji dalam artikel. Memang ada tapi sebatas abstraksi. Bersifat konsepatual. Padahal pada tataran praktis sudah banyak dilakukan.
Saya dapat menyimpulkan bahwa keseluruhan artikel ini sangat bagus. Sebagai dasar pengetahuan bersama dalam wacana pembangunan pariwisata yang menyangkut masyarakat pribumi. Sekaligus untuk mendorong memunculkan berbagai macam penelitian baru baik secara kualitas maupun kuantitas. Apalagi perkembangan industri pariwisata secara global dan nasional begitu cepat. Posisi pariwisata sangat signifikan dalam isu-isu ekonomi global disamping soal-soal energy dan pangan.
Catatan: tulisan ini merupakan review dari salah satu tulisan dalam buku “Tourism and Indigenous Peoples: Issues and Implication” by Richard Butler and Tom Hinch 1996 dengan Judul “Indigenous Tourism: A Common Ground For Discussion”

One thought on “Pariwisata dan Masyarakat Pribumi”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s