IMG_0347

Membaca Keberpihakan Sastra Pramoedya


Koran Jakarta, 5 Mei 2012
judul Buku:Pramoedya Ananta Toer: Luruh Dalam Ideologi
penertbit: Komunitas Bambu
cetakan: I, Januari 2012
Tebal: xvii+190 hal.
“Karya yang baik adalah karya yang bisa menggugah kesadaran pembaca. sebuah kejahatan besar untuk tetap diam ketika ketidak adilan terjadi di depan mata. Sama jahatnya ketika yang diributkan adalah lumpuhnya anjing President sementara banyak warga di seluruh negeri menderita kelaparan. Langkah pertama dalam perjuangan menuju kebebasan adalah melakukan komunikasi. Itulah fungsi utama penulis.” (hal.57)
Kutipan di atas menjadi awal yang baik bagaimana kemudian kita mengawali kemana sebenarnya arah karya sastra Pramoedya. Kenapa kemudian Pramoedya dalam perjalanan akhirnya berpisah dengan kelompok gelanggang dengan faham “Humanism Universal” dan memilih faham “Realism Sosialis” sebagai pijakan karya sastranya. Pertanyaan yang lebih besar adalah kenapa kemudian Pramoedya condong ke keri dengan menjadi salah satu pengurus Lekra.
Buku yang dikarang oleh Savitri Scherer merupakan disertasinya di Australian Nasional University . Savitri mencoba melihat hubungan antara dunia nyata Pram dengan karya fiksinya. Bagaimana kemudian mediasi antara Pram dengan karya-karyanya dalam sebuah kondisi politik, sosial, budaya, dan ekonomi yang penuh gejolak. Periode yang dipilih savitri antara tahun 1950-1980 adalah periode pertarungan ideology.
Pada awal buku ini savitri mencoba mencari jejak perdebatan tentang masa depan sastra modern Indonesia. sebelum dan sesudah kemerdekaan hampir tidak ada arsip atau dokumentasi karya sastra Indonesia. sampai kemudian prof. A. Teeuw mempelopori kajian sastra Indonesia modern sebagai kajian akademis. Teeuw kemudian melakukan dokumentasi terhadap karya sastra Nasional dan membukukannya dalam bentuk buku yang idberi judul “ Pokok dan Tokoh dalam Kesustraan Indonesia Baru. “
Kemudian muncul beberapa sastrawan Indonesia sebagai kritikus sastra sekaligus akademisi, salah satunya adalah H.B. Jassin. Jassin melakukan dokumentasi karya sastrawan Indonesia termasuk karya-karyanya sendiri dalam sebuah buku yang berjudul kesususasteraan Indonesia modern dalam kritik dan essay. Teeuw dan Jassin ini kemudian menjadi kiblat perkembangan sastra Indonesia dari tahun 1950-1965 yang menggunakan pendekatan formalis dan menggunakan panji humanism universal.(hal. 8)
Pata tahun 1950-1956 perdebatan tentang sastra Indonesia di dominasi oleh dua kelompok besar. kelompok gelanggang dengan aliran humanism universal dengan kelompok realism sosialis. Dimana kedua kelompok saling melontar keritik satu sama lainnya. Kelompok gelanggang menganggap karya sastra yang baik adalah karya sastra yang memperhatikan nilai estetika dan struktur sedangkan realisme sosialis menganggap karya sastra bukan sekedar soal keindahan tapi juga menyangkut persoalan keadilan, kemanusiaan, kebudayaan, dan idealisme. Sudah bisa kita tebak bahwa pram akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada faham sastra realisme sosialis. Yang secara otomtis mendorongnya masuk pada lekra yang secara politis berada pada bendera komunis. (hal.47)
Perselihan antara kelompok gelanggang dengan pram kemudian semakin tajam antara tahun 1950-1856. Kondisi politik dan budaya nasional pada saat itu sedikit banyak mempengaruhi perdebatan sastra dan arah kebudayaan Indonesia. Pengarang-pengarang baru sering dicemooh oleh kelompok gelanggang karena menganggap karya mereka kental dengan usnur lokal, tidak ada unsur estetika, primitive, dan inferior. Para pengarang ini kemudian diakomodir oleh PKI dan meleburkannya dalam Lkra. Sebuah badan kesenian yang didirikan oleh PKI. Sehingga arah perkembangan sastra secara politis mengerucut pada dua kelompok besar, Lekra dibawah partai Komunis, dan keolompok gelanggang yang mengkalim netral.
Salah kritik lekra terhadap kelompok gelanggang adalah sastra harus ditujukan kepada rakyat. maka lekra mengeluarkan program TURBA kepada para sastrawan untuk membuat karya yang diangkat dari masyarkat Indonesia sendiri.
Diluar pertentangan antara pihak humanis universal dan realism sosialis, setidaknya berbagai karya pram bisa kita lihat dari dua sudut pandang, yaitu makro dan mikro. Secara makro sabagaimana savitiri jelasakan, konstelasi kondisi sosial politik dan budaya banyak mempengaruhi karya-karya kreatis pram. Semisal, tahun 1950-1956 kebanyakan karya pram bertemakan kondisi sosial masyarakat. seperti karya “Dia Yang Menyerah” yang menggambarkan konsep-konsep sosial dan politik yang menonjol selama periode revolusi.
Pada tahun 1957-1962 perdebatan semakin tajam dikarenakan terjadi pergolakan dalam konstelasi politik. President soekarno mengganti demokrasi parlementer impor dengan demokrasi termpimpin Indonesia. secara tidak langsung perubahan sistem pemerintahan juga berpengaruh terhadap sastra Indonesia.
Pada periode itu pula pram identik denga Lekra. Faham realism sosialis dijadikan arah sastra Lekra. Otomatis pram diangkat menjadi pengurus Lekra. Ketika pertama kali menjadi menjabat pengurus lekra pram menulis sebuah novel “Sekali Peristiwa Di Banten Selatan.” Cerita ini diangkat dari hasil kunjungannya ke Banten pada tahun 1957. Novel ini mengekspresikan Politik aktual dan propaganda sosial pada periode itu. Novel ini secara konvensional menggambarkan adat istiada yang sesuai dengan norma-norma yang dapat diterima secara politik pada waktu itu. Bisa dikatakan subtansinya sangat mencerminkan arah politik PKI.
Secara garis besar karya-karya pram ketika menjabat sebagai salah satu pengurus sentral lekra banyak menceritakan pergolakan-pergolakan yang terjadi dimasyarakat. ini sejalan dengan politik PKI pada waktu itu. Sampai kemudian terjadi gerakan G30S PKI. Yang membuat pram harus dipenjara di pulau buruh. Selama dipulau buruh inilah pram menulis karya terbesarnya “bumi manusia” yang menceritakan pergolakan nasionalisme Indonesia abad 19 dan awal abad 20-an.
Secara mikro beberapa karya sastra pram di angkat dari kisah perjalan hidupnya. Seperti kumpulan cerpen “Tjerita dari Blora.” Salah satu cerpennya “Yang Sudah Hilang” yang menceritakan ibu sang narrator mengajarnya hal-hal seperti flora dan fauna, konsep nasionalisme dan identitas budaya.
sepanjang perjalan hidupnya kita bisa melihat konstribusi pram untuk sastra Indonesia. seandainya pada waktu itu pram tidak keluar dan melakukan konfrontasi dengan kelompok gelanggang bisa-bisa sastra Indonesia akan kehilangan rasa lokalnya. Kita juga parut mengapresiasi pendirian pram tentang sastra Indonesia yang tidak hanya mempersoalkan bentuk estetika dan struktur tapi juga aspek keadilan, kemanusian, dan kebudayaan. Setidaknya buku yang merupakan disertasi savitri ini menjadi bahwan rujukan bagaimana kita memandang karya-karya pram.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s