Mari Memulai Perubahan Itu Dari Yang Kecil

Kompas, 24 Januari 2012
Setidaknya sudah ada 15 anak yang aktif mengikuti kegitan TPA. Mereka ini adalah anak-anak usia 4-13 tahun. Ada yang masih duduk di bangku TK, SD, dan SMP. Walaupun sedikit mereka sunggu antusias. Data yang kami miliki setiap pertemuan setidaknya ada sekitar 15 sampai 20 anak. walaupun berasal dari berbagai macam usia dan latar belakang, mereka bisa saling berinteraksi tanpa ada pertikaian. Paling-paling saling rebutan mainan.
Kegiatan ini kita adakan seminggu tiga kali, sabtu, selasa, dan kamis. Dengan rincian setiap selasa dan kamis diisi kegiatan mengaji Al-quran, pengetahuan tentang Islam, dan permainan. Sedangkan khusus untuk hari sabtu kita isi dengan praktek sholat. Agar kegiatan ini tidak membosankan maka kami mengadakan acara khusus setiap akhir bulan, seperti out bond, jalan-jalan ke kebun binatang, dan bersepeda bareng.
Taman Pendidikan Al-Quran ini bernama Nurul Iman. Kegiatan ini kami kelola bersama di bawah organisasi PMII Cabang Sleman. Anggotanya adalah mahasiswa UGM dan UNY. Mereka ini adalah mahasiswa yang mau berkomitmen aktif dalam kegiatan ekstra diluar kegiatan perkuliahan. Tidak mudah bagi mereka untuk mau mengorbankan waktunya demi kegiatan ini, kerena mereka mempunyai segudang kewajiban kuliah-belajar, praktikum, dan intrakampus.
Secara struktur TPA ini dikepalai oleh Mohammad Khotim mahasiswa UGM, sekretasi dijabat oleh Mohammad said (UGM), kurikulum Yani (UGM), administrasi M. Khoirul Atqiya (UGM), Koordinasi pengajar Nufus (UGM). sedangkan staf pengajar, Didi (UNY), Aziz (UNY), Hamdani (UNY).
Pada awal kegiatan ini kami memang melakukan kegiatan pendampingan terlebih dahulu. Hal ini kami lakukan guna mencari data tentang kondisi anak, baik menyangkut umur dan kemampuan anak. Data-data ini nantinya kami jadikan bahan analisis guna membuat kerangka atau konsep TPA yang nanti mau kita kembangkan. Termasuk metode belajar nantinya. Metode pendampingan kami sangat sederhana pertama mengajak mereka bermain seperti menyanyi, bercerita, dan masuk pada kegiatan mengaji dan hapalan do’a sehari-hari. Kemudian kita melakukan pendekatan personal melalui pertanyaan-pertanyaan pribadi.
Setelah melakukan pengamatan selama tiga hari maka kami mempunyai kesimpulan bahwa untuk melakukan kegiatan TPA kita tidak mungkin langsung menerapkan sistem yang baku, seperti hari pertama harus belajar ini dan itu, tapi kita mengalir seperti apa yang diinginkan oleh anak. Dari sana kemudian kita memasukkan metode yang sistematis sampai anak sudah terbiasa. Karena kalau tidak seperti ini justru anak akan melakukan resistensi sehingga mereka bisa tidak datang untuk mengaji.
Maka pada awalnya kami mengajak mereka berdoa membaca doa tambah ilmu dan lapang dada. Setelah itu mereka kita ajak untuk menghafal do’a sehari-hari. Baru setelah itu mereka mengaji Iqra’. Terkadang kita mengikuti permintaan mereka seperti habis mengaji mereka mengajak jalan ke tempat bermain. Mau gak mau kita harus menuruti permintaan mereka, karena kalau tidak mereka bisa mengancam tidak mau mengaji.
Salah satu kegiatan yang menarik adalah ketika kita melakukan out bond. Bayangkan mereka dengan semangatnya datang kerumah kami jam 6.30. mereka terus memaksa kami untuk segera memulai kegiatan ini. Padahal kegiatan ini baru akan dimulai jam 8.00 pagi. Walaupun out bond ini diadakan disekitar lingkungan kita sendiri tapi ini bukan sebuah halangan.
Kesadaran dan pengabdian
Bagi kami kegiatan ini merupakan tanggung jawab kita semua tidak hanya mahasiwa. Sebagai sesama manusia ada kodrat yang melekat dalam diri bahwa kita harus saling menolong satu dengan yang lain. status sebagai mahasiswa semakin mempertegas kodrat itu dengan embel-embel agent of change. Seperti yang dikemukakan oleh ketua cabang PMII sleman Mohammad said mahasiswa UGM “Ini merupakan bentuk kepedulian kami sebagai mahasiswa. Kita tidak harus menang kejuaran ini atau olimpiade itu, tapi di lingkungan kita sendiri ada sebuah kompetisi besar berupa bagaimana kita bisa memberikan kontribusi terhadap lingkungan kita sendiri.”
Menyibukkan diri dengan kegiatan di luar kuliah bukanlah hal yang gampang, karena kita dituntut bisa membagi waktu kapan kita harus menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa dan kapan kita bisa membagi kewajiban melakukan kegiaqan sosial. Salah jika kita sebagai mahasiswa hanya fokus pada kuliah dan mencari kerja.
Kita harus sadar bahwa di era globalisasi sekarang ini bukan hanya gemerlap kemajuan yang tampak tapi ekses negative pun banyak. Seperti pengangguran, kemiskinan, degradasi moral. Keterbukaan informasi membuat orang mudah sekali mendapatkan informasi tidak terkeculai informasi yang negative.
Teman-teman merasakan betul bagaimana anak-anak dilingkungan kami mulai enggan mengunjungi masjid padahal mereka adalah orang islam. Gaya berbicara yang tidak lagi santun. Tidak bisa membedakan bahasa yang seperti apa yang harus digunakan ketika berhadapan dengan teman seusia dan dengan orang yang lebih tua. Ini merupakan salah satu ekses dari era globalisasi. Diluar tampak indah dan mempesona tapi di dalamnya membawa banyak racun yang patut kita buang.
Sebagai mahasiswa bolehlah kita berfikir malakukan hal-hal besar, tapi hal kongkrit yang bisa kita kerjakan adalah bagaimana melakukan perubahan dilingkungan kita sendiri. Artinya marilah perubahan itu kita mulai dari hal yang kecil. Ketimbang kita ingin melakukan perubahan yang besar tapi hanya sekedar angan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s