Mencintai Perdamaian

Sebuah pernyataan yang bisa aku sampaikan dari mulutku “masyarakat Indonesia telah mengalami perubahan drastis, entah kenapa orang sekarang sangat mudah terprovokasi, mudah tersinggung, dan sangat sensitive terhadap isu-isu agama, etnis. Bukankah sejak dulu negara kita memang majemuk, dari sabang sampai merauke berjejer pulau, dimana satu pulau dengan pulau lainnya memiliki budaya yang sangat berbeda. Tapi jarang sekali terjadi konflik. Tapi sekarang ini sedikit-sedikit terjadi tawuran, kerusuhan, pengrusakan, bahkan pengkafiran.”
agama mungkin saat ini menjadi satu-satunya solusi alternative. Namun justru sebaliknya yang terjadi, agama menjadi sumber bahkan alat legitimasi aksi kekerasan. Agama dipahami secara formalistik, tekstual, tersirat, yang berujung pada eksklusifisme agama. Maka tidak heran Jurgen Habermas mengatakan bahwa agama tidak lagi menjadi satu-satunya instrument masyaarakat sebagai kotrol sosial. Bisa saja ini terjadi disebabkan sifat segala sesuatu dinilai dari perpekstif agama yang formalistik sehingga terlihat kaku. Padahal pendekatan yang perlu diselipkan adalah humanisme. Menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Seorang yang tidak percaya tuhan bukan berarti harus kita islamkan atau kristenkan bukan pula kita singkirkan tapi kita rangkul bersama-sama. Itulah dalam bahasa sanskerta disebut sebagai bhineka tunggal ika.
Menarik membicarakan perdamaian apalagi Indonesia terekenal sebagai bangsa yang prural, majemuk. Maka kemungkinan terjadi konflik sangatlah besar. Ditengah dinamika tersebut bagsa Indonesia sekuat tenaga mencari sebuah formulasi agar bisa merangkul bersama-sama masyarakat Indonesia dari sabang sampai merauke.
Pancasila lahir menjawab permasalahan tersebut. Hari saya sadar bahwa menegakkan perdamaian sesuai dengan pancasila tidak semudah yang saya pikirkan. Permasalahan negara begitu kompleks, stabilitas ekonomi yang masih belum konsisten, iklim politik belum stabil, penegakan hukum yang jauh dari harapan, semakin membuat saya pesimis. Pemuka agama yang diharapkan memberi banyak kontribusi justru hanya bisa menghimbau lewat media bukan terjun langsung dilapangan.
Untuk itu menegakkan perdamaian ini harus dilakukan bersama-sama. Tidak ada pembatas etnis, agama, atau suku. Yang ada adalah perdamaian yang diusung oleh semua etnis, semua agama, dan semua suku.
Yang paling penting adalah membuka ruang dialog. Ruang dialog itu sebagai arena saling bertukar pikiran, mengenal satu dengan yang lain. tidak ada rasa curiga karena rasa curiga akan membuat kita arogan dan tertutup tidak mau mendengar. Itu justru akan membawa pada permusuhan. Tapi tidak jika ada ruang dialog. Meciptkan sebuah kehidupan yang saling menghormati, menghargai, dan saling melindungi.
Akhirnya, saya pada satu kesimpulan bahwa isu perdamaian dengan dasar humanisme menjadi isu yang sangat urgen diangkat. Karena proses dehumanisasi semakin gencar, perang semakin sering jadi pilihan solusi, masyarakat lebih senang memakai cara anarkis. Itu semua akan merugikan kita sendiri dan juga orang lain. nah mari mulai dari diri kita sendiri, teman kita, keluarga kita, masyarakat kita, negara, dan dunia. Peace love!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s