Masyarakat kecil berbicara!

Entah berapa lama kau sudah tidak menulis. Padahal selama kurang lebih 4 hari aku mendapatkan banyak sekali pengalaman. Mulai dari bapak-bapak yang ketemu pas didalam bis, perjalanan sama orang tua kepelosok lamongan, ketemu teman laman sambil bererita pengalaman masing-masing. Setidaknya ditengah kebingunganku mengerjakan skripsi, konsep pengabdian kepada pondok pesantren, dan kerinduaku pada teman-teman SMA IPS 1, sedikit bisa terobati.
Dalam pernjalan pulangku dari jogja –lamongan menarik melihat pola mudik masyarakat Indonesia. di dalam kereta ketemu ibu-ibu. Kebetulan ibu-ibu ini sama-sama dari jogja dan kembali kemadiun. Betapa kaget saya ketika ibu-ibu bilang, bahwa puasa tahun ini serasa sama seperti bulan-bulan sebelumya. Dalam hati saya juga mengiyakan. Apa bedanya dengan bulan-bulan selain dibulan ramadhan. Warung-warung masih buka, dijalan-jalan masih banyak makan, merokok, minum. Beberapa tempat hiburan yang seharusnya ditutup untuk meghormati bulan ramadhan masih buka.
Jadi ingat kata-kata dari temanku, hidup ini bukan sekedar rutinitas tapi sebuah hal-hal baru dan bermakna. Puasa memang setipa tahun kita laksanakan tapi itu bukan hanya sekedar rutinitas semata tapi didalam bulan puasa banyak hal yang bisa kita ambil hikmah dari tiap tahunnya. Boleh para da’I berpesan bahwa ramdhan visiya adalah menjadikan manusia bertakwa. Tapi takwa itu bukan statis tapi harus meningkat.
Semoga saya dan ibu-ibu tadi tidak pesimis tentang makna ramadhan tahun ini. Saya optimis bulan ramadha tahun menjadikan saya bisa lebih rendah hati dan tidak sombong.
Jogja lamongan memakan wakatu 7 jam. Lumayan cukup lama. Ada dua jalur atau bahkan tiga jalur. Bisa lewat Surabaya, jombang, dan bojonegoro. Aku lebih sering lewat jombang, pertimbangannya karena jalannya lebih baik, tidak terlalu sering ganti kendaraan, dan sejarahnya jombang adalah 3 tahun bagiku menutut ilmu.
Ah terlalau lama jika aku harus menceritakan secarai detail perjalananku. Niatku menceritakan ii hanyalah mengambil moment-moment penting dimana aku dituntut berfikir lebih endapam memberikan argument.
Kaget betul ketika ada orang tua bertanya asal kuliahku. Dengan sedikit congkak aku menjawab UGM, hehehehe. Tiba-tiba dia melempar pertanyaan yang sebenarnya mengajak aku berdiskusi. Bagiku dia adalah orang tua yang tidak ketinggalan dengan isu-isu publik, korupsi, pendidikan dan kemiskinan. Pertama dia memberi argument bahwa sekarang sekolah telah menjadi lading bisnis. Dia menyoroti bagaimana para guru atau bahkan kepala sekolah SD, SMP yang gaya hidupnya mengalami perubahan, bapak ini tolak ukurnya adalah kendaran mewah para dewan guru. Dalam hati saya hanya tertawa dan berfikir positif itu merupakan salah satu hasil dari program mensejahteraan guru.
Tidak berhenti pada masalah tersebut, orang tua ini juga ngerasani para pejabat diknas bahwa katanya sekokah SD, SMP, dan SMA gratis tapi kok masih banyak pungutan.
Jadi saya berfikir kembali mungkin saja bapak ini curiga bahwa ada korelasi positif antara gaya hidup guru dengan pungutan liar ini. Tapi saya tetap berfikir positif dan menganggap itu sebagai PR bagi saya. Bagaiamana saya sebagai akademisi untuk memikirkan hal itu dan syukur-syukur bisa melakukan perubahan. Dalam hati saya bergumam , ya beginilah pak kondisi negara kita banyak ketidak jujuran dari para pemimpin kita, dan ketidak jujuran itu telah menjadi ketidak jujuran berjama’ah.
Sudah hampir maghrib lebih baik berhenti dulu, menyegeraka berbuka lebih baik. Tapi masih banyak yag mau sya tulis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s