Dinamika Parlemen Mahasiswa UGM (DPM)

Oleh: M. Khotim (anggota DPM 2011)
Sebagai sekretaris dewan (DPM) saya biasa mengagendakan rapat. Tugas ini sudah hampir setahun saya lakukan. Enak gak enaknya harus diterima sebagai koneskuensi tanggung jawab saya. Dalam jangka waktu itu banyak hal yang menarik untuk saya ceritakan lewat tulisan ini. Mungkin tidak jauh berbeda dengan realitas anggota dewan nasional (DPR). Setiap detailnya mungkin akan mendapat banyak persamaan.
Salah satu hal yang tidak mungkin lepas sebagai anggota dewan adalah rapat. Bahkan rapat sudah diatur dalam AD/ART, atau dalam Tatib DPM. Dalam bayangan saya setiap rapat akan akan dihadiri oleh sluruh anggota. Di dalam rapat terjadi sebuah proses dialektika. Saling tukar pendapat yang berkualitas dan diakhiri dengan sebuah kesepakatan bersama atau yang sering kita lihat sebagai musyawarah mufakat.
Saya mengawali karir politik atau tepatnya belajar politik lewat kampus pada awalnya shok. Ekspektasi besar saya seperti diatas ternyata jauh panggang dari api. Justru yang terjadi adalah sebaliknya. Kesalahan-kesalahan itu terjadi berulang-ulang. Lembaga yang tadinya dibentuk untuk mencegah ternyata sama juga.
Parlement yang ideal
Harapan kita semua adalah sebuah parlement yang ideal atau dalam bahasa palato Parlement cita-cita. Sebuah lembaga representasi yang mewakili kepentingan warga negara. Dalam teori politik parlement merupakan salah satu alat perlengakapan negara. Tugas dan fungsinya diatur dalam konstitusi.
Lalu apa yang syarat sebuah parlement yang ideal? Tentu saja saya sepakat bahwa parlement yang ideal adalah parlement yang berfungsi sesuai dengan cita-cita. Parlement adalah sebuah representasi dari suara rakyat. Maka tolak ukur parlement yang ideal adalah sesuai dengan amant UUD.
Indikator bisa saya berikan adalah pertama, produktifitas pembuatan undang-undang. Sebagai negara hukum UU mutlak dibutuhkan guna mengatur tata kehidupan bermasyarakat dan bernegara, baik regulasi ekonomi, pendidikan, dll. Itu semua adalah tugas parlement untuk menggodok dan mengesahkannya Kedua, sikap kritis parlement terhadap isu-isu yang berkembang, baik isu tentang kebijakan sosial, ekonomi, budaya, dan politik. Ketiga, keperdulian para parlement meninjau langsung konstituennya dibawah. Apakah benar orang-orang yang telah memilih dia hak-haknya yang dulu pernah kita janjikan sudah kita penuhi.
Realitas yang membingungkan
Mari kembali kedunia saya sebagai dewan (DPM). Bagi saya demokrasi kampus sekarang ini sangat-sangat ideal. Kelembagaan diperliuas menjadi DPM, DPF, dan BEM. Dalam teori politik kita sebut sebagai legislative dan eksekutif. DPM dan DPF sebagai legislative , BEM sebagai eksekutif. Berkaca dari tahun sebelum reformasi yang menggunakan senat mahasiswa.
Anda semua akan saya ajak menyelami parlement di UGM (DPM). DPM diisi oleh mahasiswa yang dipilih melalui pemira. Orang-orang ini dicalonkan oleh partai kampus. Dalam catatan saya ada sekitar 9 partai. Di dalam DPM ada 4 fraksi, setahu saya fraksi putih, fraksi bahagia, fraksi poros tengah, gelanggang. Selain fraksi sebagai alat kelengkapan DPM ada komisi, tercatat ada 4 komisi, komisi I hukum, komisi II jaringan, komisi III aspirasi, Komisi IV pengawasan.
Pertama kali rapat kerja, ini merupakan sebuah parlement yang ideal. Pada rapat penetapan semua partai dan fraksi menggelar deklarasi untuk menjunjung tinggi kepentingan DPM bukan partai. Dalam hati saya mengucap syukur dan berharap ini akan menjadi pengalaman saya diparlement kampus yang manis.
Hari demi hari akhirnya borok mulai muncul dimana-mana. Deklarasi bersama untuk menjujung tinggi kepentingan DPM tidak berjalan. Ada beberapa indikasi yang saya tangkap. Pertama, setiap rapat anggota yang datang tidak samapi 2/3, lebih parah yang datang hanya ketua dan sekwannya. Pernah suatu hari saya mengundang rapat ternyata hanya 3 yang datang padahal saya sudah menunggu 1 jam dari jam awal yang sudah kita sepakati.
Kedua, ada indikasi masing-masing anggota dewan mempunyai agenda terselebung. Semisal ketika rapat pengesahan sebuah UU ada beberapa fraksi yang ful dan terkesan memang sengaja. Lebih buruk lagi ada anggota dewan yang tidak dikasih tahu akan adanya rapat.
Ketiga, ketika ada agenda bersama beberapa anggota dewan mengundurkan diri dengan alasan yang tidak jelas. Ujung-ujungnya mereka menuntut saya dan teman-teman melakukan korupsi karena menerima dana dari partai politik.
Saya tidak bisa menjelaskan semuanya, menurut saya tiga indikator itu sudah cukup dan ketika saya ungkapkan semuanya kita sudah pasti tahu endingnya. Disini adalah sebuah kebohongan dalam diri masing-massing parlement. Kebohongan terhadap tugasnya sebagai parlement, kebohongan terhadap agama, kebohongan terhadap negara, kebohongan terhadap mahasiswa yang memilihnya. Miris bagi saya adalah persoalan ini selalu terjadi berulang-ulang dan tidak ada perbaikan sama sekali. Semoga parlement UGM di tahun 2012 menjadi parlement yang ideal yang kita cita-citakan bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s