PKL 2011, kaliurang, wisma sembada

Untuk sekian kalinya aku mengikuti acara pelatihan ditujukan kepada anggota PMII secara internal. Kegiatan ini diadakan dalam rangka memenuhi kewajiban organisasi untuk melakukan kaderisasi. PKL sendiri merupakan tahap terakhir bagi kader sebelum masuk dalam kepengurusan cabang atau untuk mencalonkan diri jadi ketua.
Dalam acara ini tema yang dipilih adalah “Menentukan Arah Gerakan Mahasiswa Dalam Proses Transformasi Sosial”. Setahu saya panitia memilih tema ini dikarenakan ada hipotesis bahwa gerakan mahasiswa sekarang mengalami stagnansi. Sebab musababnya bisa dilihat sejauh mana posisi tawar gerakan mahasiswa dalam melakukan transformasi dalam bidang sosial, politik, budaya, dan ekonomi.
Menurut pribadi saya tema diatas memang tidak salah dan sangat tepat. Jika melihat secara historis maka disetiap zaman gerakan mahasiswa selalu memiliki posisi tawar. Jangan lupakan peran mahasiswa tahun 1908 sebagai pembentuk embrio proto nasionalisme, tahun 1928 sumpah pemudah menegaskan anak nasionalime, 1945 mewujudkan nasionalisme. Maka sudah jelas dan terang benerang bahwa posisi tawar gerakan mahasiswa selalu jadi episentrum perubahan.
Lalu bagaimana acara ini berlangsung? Bagaimana subtansi pelatihan yang diberikan? Apakah pelatihan ini memberi efek perubahan secara personal kader? Bagi saya pertanyaan-pertanyaan itu penting saya ajukan dalam diri saya sendiri. Dengan pertanyaan itu semoga saya bisa merefleksi diri saya sendiri, menyangkut kewajiban-kewajiban saya sebagai aktifis gerakan mahasiswa.
Ada beberapa catatan menarik yang saya buat. Pada acara diskusi bersama yang di isi oleh pak Emanuel subangun (budayawan) dan mas Awang (aktifis sosial). Mereka mengajak kita memahami diri kita dan kelemahan-kelemahan kita. Ini tercermin dari subtansi pembicaraan pak Emanuel subangun. Angel yang beliau ambil melalui ilusi representasi seperti menyadarkan kita bahwa kita sekarang ini berada dalam sebuah demokrasi semu. Kenapa semu? Prasyarat dalam demokrasi adalah adanya representasi perwakilan. Tugas dari perwakilan adalah memperjuangkan orang yang diwakilinya. Tapi apa yang terjadi selama ini? Justru yang diwakili adalah kepentingan peribadi dan golongan.
Persoalan bangsa Indonesia yang selama ini terjadi tidak lepas dari kebijakan pemerintah. Persoalannya adalah kebijakan yang dihasilkan adalah kebijakan yang merepresentasikan kepentingan perseorangan, golongan dan pemodal. Tidak tanggung-tanggung kebijkana ini sangat luas, mencakup pendidikan, ekonomi, ESDM, dll. kebijakan-kebijkan itu secara tidak langsung tanpa kita sadari telah membelenggu dan menghegemoni kita.
Dari sana, pak emanule membangun argument bahwa penyebab kebuntuhan dan stagnansi gerakan mahasiswa adalah kebijakan yang sangat hegemonic oleh kuasa. Disamping itu mahasiswa sebagai subjek juga telah mengalami degradasi moral dan nilai. Sehingga militansi dan idealisme sangat rapuh. Bisa dibeli dan ditransaksikan.
Terakhir, pak Emanuel tidak memberikan solusi tapi menyarankan kita untuk mencari sendiri penyakit dalam diri gerakan dan mencari formulasi obatnya. Disamping itu, mahasiswa harus meyakini tugas yang diembannya, dan mampu mempertanggung jawabkannya.
Sedikit berbeda dengan pak Emanuel, mas Awang mendiaknosa kemunduran gerakan mahasiswa disebabkan mahasiswa telah keluar dari akar masyarakat. Gerakan-gerakan sosial membantu masyarakat bukan lagi digali dari masyarakat itu sendiri tapi justru digali dari kaca mata mahasiswa. Ketika malakukan kegiatan sosial, kita menggali dari buku-buku tentang teori-teori untuk mencari solusi tapi pokok persoalan dan solusi itu seharunya kita gali dari masyarakat. Tujuannya adalah agar kegiatan-kegiatan itu mempunyai basis data dan informasi yang aktual.
Sebagai orang lapangan, mas Awang faham betul bagaimana kondisi realitas masyarakat. Persoalan-persoalan itu tidak ada dalam buku. Buku hanya membantu kita memahami esensi perubahan yang terkadang tidak seperti yang diceritakan. Buku membantu kita membangun basis paradigma sebagai titik tolak bagaimana kita membangun epistemologi. Ini penting agar kita tidak mengamalami kebingungan ketika memahami realitas.
Sebenarnya banyak hal yang saya peroleh dari diskuisi diatas. Tapi yang paling melekat dalam pikiran saya ada tiga persoalan. Pertama, bahwa generasi sekarang harus mempu menangkap keadaan atau kondisi lingkungan sehingga kita tidak terjebak oleh arus perkembangan yang terkadang sangat-sangat jauh dari cita-cita yang luhur. Kedua, gerakan harus mampu memetakan persoalan yang dihadapinya dan mempu mencari solusinga. Apa jadinya ketika kita terkena penyakit tapi tidak tahu penyakitnya apa. Sehingga setiap beli obat tidak tahu beli obat apa. Ketiga, gerakan mahasiswa harus kembali ke akar masyarakat sebagai basis gerakan. Tidak hanya masyarakat tapi juga mahasiswa itu sendiri.
Yogyakarta, 24-27 November 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s