Inilah Aku

Berbagi cerita adalah salah satu hal yang menyenangkan. Karena cerita mengandung banyak kakuatan yang bisa membangkitkan inspirasi dalam diri seseorang. Itulah yang bisa aku ambil pelajaran hari ini. Sebuah keberuntungan salah satu anggota Indonesia mengajar angkatan pertama mau datang ketempat sekre komisariat PMII yang sangat sederhana. Kedatangan ini tidak kami harapakan sebelumnya. Kami tidak mengirim surat undangan. Tapi Alhamdulillah mas agus rachmanto berkenan hadir dan berbagi pengalaman sebagai pengajar muda Indonesia.
Dari sekian banyak cerita satu yang bisa aku ambil adalah saran beliau agar kita bisa menggambarkan diri kita sendiri. Kemampuan ini sangat berguna jika kita melakukan test wawancara. Pengalaman ini beliau dapat ketika melakukan test wawancara ketika mengikuti program Indonesia mengajar. “bayangkan kita disuruh menggambarkan diri kita sendiri di atas kertas kosong. Bagi seseorang yang tidak biasa pasti akan mengalami kesulitan. Padahal pada bagian ini sangat penting, karena ketika seseorang bisa menggambarkan diri sendiri maka kemungkinan besar dia akan mampu mengukur kemapuannya sendiri.” Ujarnya.
Saya begitu serius mendengarkan. Sebagai salah satu calon sarjana muda pasti ada rencana untuk melamar kerja. Secara otomatis wawancara merupakan bagian dari proses sampai diterima kerja. Maka saya harus betul-betul siap tidak hanya kemampuan kognisi tapi juga afektif.
Ditengah keseriusan saya mendengarkan penjelasan dari mas agus. Saya berkomtemplasi dan bertanya dalam diri saya sendiri “apakah aku sudah bisa menggambarkan diriku sendiri?” pertanyaan itu selalu berkelebat dalam batinku, sampai-sampai kedalam pikiranku. Maka pada dalam kehampaan dan kekosongan malam mini aku putuskan mencoba menggambarkan diriku apa adanya. Paling tidak tulisan ini benar-benar adalah diriku. Disini saya tidak akan menuliskan secara subjektif sepenuhnya tapi benar-benar menulis apa yang benar-benar diriku, kebaikanku kejelekanku.
Terlintas dalam pikiranku “bukankah yang bisa menilai baik dan buruk diri kita adalah Tuhan dan orang lain? kita tidak punya kapasitas untuk menilai diri kita sendiri ” tapi tidak masalah bagi saya. Justru saya sangat antusias mengukur kejujuran saya dalam menilai diri saya sendiri.
Sejak kecil saya memang didik menjadi anak yang taat pada agama dan orang tua. Shalat lima waktu adalah makanan saya setiap hari. Sekali saja saya tidak melaksanakan shalat orang tua saya bisa marah-marah. Sejak kecil saya sudah dibiasakan bangun pagi ketika adzan subuh mulai berkumandang. Kebiasaan-kebiasaan itu akhirnya menjadi sebuah kebutuhan. Jika saya tidak shalat sekali saja bisa-bisa saya menyesal dan dalam hati selalu menggerutu. Bangun subuh tidak usah disuruh secara otomatis adzan menjadi jam baker buat saya. Kebiasaan itu sampai sekarang masih melekat didalam diri saya. Maka dapat saya simpulkan saya adalah seorang yang taat pada orang tua dan agama.
Secara fisik saya tidak punya kelebihan apa-apa, seperti hidung mancung, mata indah, tubuh kekar, tinggi, kulit putih, dsb. Saya biasa-biasa saja, kulit sawo matang. Mungkin sedikit yang membuat orang suka pada saya adalah saya selalu tersenyum ketika bertemu dengan orang baru, atau ketika ketemu orang yang lebih tua saya akan merundukkan kepada disertai senyum sebagai rasa hormat saya.
Saya tipe orang yang suka berteman. Siapapun akan saya jadikan teman. Lebih-lebih orang yang mempunyai kesamaan asal-usul. Sifat ini merupakan sifat yang saya peroleh ketika saya mulai beranjak aktif dibangku kuliah. Jujur saja pada awalnya saya adalah tipe orang yang pendiam, apalagi dengan lawan jenis. Kalau tidak benar-benar kenal maka saya akan cenderung diam. Diam saja bukan karena diam itu emas tapi karena saya memang pemalu. Kegiatan kuliah menuntut saya bisa bersosialisasi dengan baik kepada siapapun, karena saya sering mengerjakan tugas kelompok. Tidak hanya itu konteks kuliah memang menuntut kita bisa berinteraksi dengan siapapun. Akhirnya saya mulia mahir bersosialisasi dan senang sekali menjalin persahabatan dengan siapapun.
Intelegensia biasa-biasa saja, walaupun tidak sedikit orang bilang saya genius. Terkadang saya heran saya ini biasa-biasa saja kok dibilang genius. IPK saya saja Cuma 3,18, tidak pernah juara lomba, Cuma terkadang teman-teman saya sering meminta bantuan mengerjakan tugasnya dan hasilnya bagus, mungkin itu yang membuat mereka menganggap saya pintar. Semoga saya memang benar-benar pintar.
Soal ide dan gagasan saya bisa dibilang vokal. Tapi justru ini menjadi kelemahan saya. Karena tidak sedikit orang kecewa dengan saya karena saya tidak bisa memenuhi ucapan saya. Ketika saya semangat sekali membuat ide usaha tapi ujung-ujung realisasinya tidak ada. Ya, ini mungkin kelemahan saya yang sanat besar. Sampai sekarang saya berusaha untuk merubahnya menjadi hal yang positif. Setidaknya itu saya buktikan dengan keseriusan saya menjadi ketua TPA Poh Ruboh dan menjadi ketua Partai Srikandi, salah satu partai kampus.
Apalagi lagi ya yang bisa saya deskripsikan dari hidup saya. Mungkin ini yang terakhir. Saya adalah orang yang sederhana. Tidak suka belu baju tapi justru beli buku. Baju saya bisa dihitung dengan jari, begitupun celana pajang dan pendik. Sepatu saja saya tidak punya. Dalam segi penampilan saya ingin terlihat sederhana, bahkan saya membayangkan jika menjadi orang sukses saya akan tetap tampil sederhana.
Itulah mungkin deskripsi diri saya. Saya yakin lebih banyak kekurangan saya daripada kelebihan saya. Justru saya merasa kekurangn saya itu adalah kelebihan saya. Orang sering ingat saya karena saya orangnya plinplan. Orang sering bingung karena salah menyebutkan nama saya.
Terimakasih mas agus. Cerita mas agus telah menginspirasi saya. Membawa saya untuk kembali mengenali diri saya sendiri. Dalam filsafatnya Descartes “refleksi diri.” Saya tahu kapasitas diri saya sendiri. Justru saya semakin sadar bahwa saya adalah makhluk yang serba kurang, tapi kekurangan itu justru memotivasi saya untuk mencari penambalnya. Cerita mas agus telah menginspirasi saya bagaimana menjadi manusia yang benar-benar manusia. Cerita mas agus benar-benar menjadi cambuk buat saya.
Akhirnya saya harus kembali menginjak bumi, setelah melakukan kontemplasi mendeskripsikan diri saya sendiri. Saatnya melaksanakan kembali hak dan kewajiban saya. Mas agus, dimana ada niat baik pasti disitu ada jalan. Kita tidak usah khawatir soal rizki karena sudah ditetapkan tuhan. Yang paling penting adalah melakukan hal yang menurut kita benar dan kita mampu mempertanggung jawabkan. Mari melakukan perubahan!
Poh rubuh, condong catur, depok sleman, 4 desember 2011

2 thoughts on “Inilah Aku”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s