Langkah Gerak Intelektual NU

Judul : Nalar kekuasaan kaum pergerakan
Pengarang : Eman hermawan
Penerbit : KLIK.R
Cetakan : I, , Maret 2008
Tebal : 67 halaman
Mengutip pendapat dari soedjatmoko yang mencoba memberikan analisis tentang kecenderungan para intelektual atau cendikiawan di Indonesia yang akhir-akhir ini cenderung bergabung dengan partai politik atau kekuasaaan. Memang sangat menerik untuk kritis terhadap posisi intelektual atau cendikiawan. Disatu sisi para intelektual ada yang cenderung mengambil jarak disisi lain ada intelektual yang justru bergabung dengan kekuasaan. Perlu nuansa klarifikasi antara terlibat dalam perkembangan civil socity atau perjuangan mempertahankan kekuasaan/political society.
Pendapat soedjatmoko di atas sangat cocok dengan Buku Nalar Kekuasaan Kaum pergerakan yang dikarang oleh Ema hermawan. Pada bagian pendahuluan ema mencoba menjelaskan bagaimana posisi tawar cendikiawan. Sebuah kekuasaan akan bisa berdiri kokoh jika di topang oleh 2 hal. Dua hal tersebut adalah pertama, nalar atau struktur pengetahuan yang berfungsi untuk mengkonseptualisasikan atau menghubungkan berbagai unsur-unsur politik. Kedua, pergerakan individu atau kelompok yang bermain atau mempertahankan kekuasaan.
Dua hal yang dimaksud di atas telah melekat pada intelektual atau cendikiawan. Mereka adalah para orang terdidik. Orang-orang yang telah belajar berbagai teori dan konsep. Yang mempunyai idea-idea dan nalar yang kritis.
Namun patut disayangkan pola pikir yang di pakai para kaum terdidik cenderung subtansial-fungsionalistik-intrumentalis. Akibatnya pemikiran atau ide-ide yang dikembangkan adalah copy paste dari Negara-negara maju. padahal belum tentu teori yang pure dari barat cocok dengan konteks Indonesia.
Untuk itu ema hermawan memberikan solusi dalam cara berfikir. Selama ini pola pikir cendikiawan cenderung subtansial harus dirubah menjadi relasional. Pola pikir subtansial membawa seseorang cenderung berfikir abstrak, esensial, dan mendorong abstraksi atas kenyataan yang justru membwa kita semakin jauh dari pandangan yang utuh tentang kenyataan.
Dengan cara berfikir secara relasional kita tidak hanya memandang sesuatu dari subtansinya tapi dengan persoalan yang lain dan pihak-pihak yang terlibat didalamnya. Untuk itu kita tidak hanya berorientasi pada nilai yang mendasar tapi juga mencari cara atau strategi.
NU merupakan ormas islam terbesar di Indonesia. Sejarah mencatat NU pernah masuk menjadi partai politik. Ketika pertama kali menjadi partai politik NU menjadi salah satu partai pemenang. Hal ini diluar ekspektasi KH. Wahab hasbullah. Ketika itu NU tidak mempunyai banyak kader untuk mengisi kursi sehingga di ambilkan orang-orang diluar NU.
dalam hal investasi jasa dan pengabdian para leluhur kita telah memberikan hal yang terbaik. Wujud real dari itu semua telah tercatat alam buku-buku sejarah dan cerita-cerita yang berkembang dalam masyarakat. Warisan-warisan tersebut sangat diperhitungkan. Konsekuensinya banyak kader NU yang kemudian di lirik dalam percaturan politik. Tidak heran dalam setiap pemilihatn presiden atau kepala daerah banyak kader NU yang di lamar untuk mempermulus jalan menuju kekuasaan.
Namun perlu pandangan kritis tentang NU dalam percaturan politk nasional. Sebagai salah satu ormas islam terbesar yang sebagian besar simpatisannya adalah rakyat kecil (agraris) NU seharusnya menjadi pioner pembangunan bangsa. Namun pada realitasnya berbanding terbalik.
Ema hermawan menilai ada sebuah konspirasi atau persengkongkolan. Misalkan di bidang pertanian. Sebagian besar subsidi atau dana pembangunan lebih besar ditujukan pada tingkat ekonomi atas (industrial). Dalam bidang pendidikan Negara lebih berprioritas pada sekolah-sekolah negeri tidak memandang madrasah dibawah naungan NU yang jumlahnya cukup banyak. Bahkan sedikit sekali universitas yang dikembangkan oleh NU mendapat bantuan Negara.
Dalam persoalan pengambilan kebijakantidak jarang banyak elit penguasa grusa-grusu dalam bertindak. Akibatnya banyak kebijakan yang tidak tepat sasaran atau kurang mengena terhadap masyarakat. Untuk itu perlu ada khalwat politik. Khalwat disini kita maknai sebagai kemampuan menciptakan ruang yang memungkinkan kita bisa menjaga jarak dengan masalah tapi juga bisa menempatkan diri ditengah-tengah, sehingga kita bisa memahami gempa politik atau permasalahan secara jernih.
Sebagai ormass terbesar dengan segudang sumber daya manusia seharusnya NU mempunyai perasn sentral dalam pembangunan Negara. Namun jika tidak di orgniser dengan baik dan benar maka justrru menjadi masalah. Untuk itu Ema hermawan dalam buku ini memberi pandangan kritis terhadap arah gerakan kaum intelektual NU.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s