Mengajar Sebagai Panggilan Hati

KOMPAS, 11 Oktober 2011
Sudah hampir setahun yang lalu gunung merapi mengalami letusan terdahsyat dalam sejarahnya.
Akibat ledakan itu banyak warga disekitar gunung merapi kehilangan harta benda dan mata pencaharian.
Bahkan sebagian besar warga harus mengungsi dan merelekan meninggalkan rumah mereka demi
menghindari bahaya. Memang merapi telah menghancurkan harta benda tapi semangat warga lereng
merapi menatap kedepan masih terus terjaga.

Setelah menghabiskan waktu lama dalam pengungsian banyak warga lereng merapa telah
kembali ketanah kelahiran. Dengan wajah penuh harapan mereka mereka membersihkan rumah-rumah.
Mengumpulkan kembali puing-puing bangunan , mengambili barang-barang yang masih bisa digunakan
dan membakar barang-barang yang sudah tidk bisa dipakai.

Kini setelah hampir setahun terjangan merapi yang dahsyat, cahaya-cahaya kehidupan mulai
tumbuh, sinar-sinar itu semakin terang dan semakin banyak. Gubuk gubuk yang tadinya tersapu
awan panas kembali berdiri tak kalah indah dengan sebelumnya. Sayang hawa-hawa kehidupan dari
tumbuh-tumbuhan dan hewan masih harus menunggu lama untuk bisa kemabli semula. Karena masih
membutuhkan waktu yang panjang.

Disela-sela proses kembali hidup normal seperti sebelum merapi meletus warga mulai
membangun basis-basi perekonomian. Pasar-pasar tradisional mulai beraktiitas kembali, peternakan
melalui koperasi unit desa mulai digalakkan kembali, kegiatan keagamaan dan sosial dihidupakan
kembali. Tidak kala penting adalah kegiatan pendidikan. Karena sebagian besar penduduk sudah banyak
yang kembali otomatis kebutuhan akan pendidikan sangat dibutuhkan.

Karena masih dalam proses recovery pasca letusan merapi maka penyelenggaraan pendidikan
tidak semudah yang dibayangkan. Ada beberapa point penting yang perlu dicatat, pertama anak-anak
secara otomatis akan ketinggalan pelajaran. Kedua, banyak sekolah yang mengalami kerusakan sehingga
mereka dibuatkan sekolah darurat ini tentunya memberi kendala tersendiri. Ketiga, sebagian besar warga
tinggal diselter, kebanyakan ada beberapa sekolah terlalu jauh dari shelter sehingga orang tua enggan
untuk membawa anaknya sekolah. Justru sebagian besar memilih anaknya tidak ikut sekolah sementara
sampai mereka dibuatkan sekolah yang dekat dengan tempat tinggal mereka.

Inilah yang terjadi pada SD serunen. SD serunen pada awalnya tida boleh ditempati karena
letaknya masuk pada KRB 3. Sesuai dengan peraturan pemerintah maka daerah itu tidak boleh
dijadikan tempat tinggal ataupun dibangun institusi pendidikan permanen. Untuk itu pemerintah telah
membangunkan SD darurat. namun kendalanya SD darurat ini letaknya kurang lebih 8 Km, kalau pulang
pergi maka warga akan menempuh 16 Km untuk mengantar dan menjemput anaknya. Maka warga
memutuskan untuk menyuruh anaknya tetap sekolah di SD serunen. Konsekuensinya anak-anak tidak
mendapatkan guru pengajar. Padahal seperti data dari diknas sleman siswa SD serunen mencapi 149 yang
berasal dari 4 dusun (dusu kalitengah lor, kalitengah kidul, serunen, dan singler).

Mengetahu hal itu teman-teman Gusdurian, sebuah komunitas yang dibentuk untuk melestarikan
pemikiran guru bangsa (gus dur) melakukan advokasi. Sementara warga , diknas, dan pemerintah
kabupaen sleman berdialog mencari solusi bersama. Maka teman-teman gus durian dengan senang hati

melakukan pendampingan belajar. Kegiatan ini kurang lebih berlangsung selama 2 minggu. Terhitung
semenjark tanggal 21 september-5 oktober 2011.

Dalam pendampingan ini teman-teman berusaha sebisa mungkin menjadi teman dan belajar
mereka. Menanamkan kebiasaan baik, nilai-nilai dan norma masyarakat, dan menumbuhkan ketrampilan
berfikir. Teman-teman relawan dibawa komunitas gus durian sebagain besar adalah mahasiswa. Tercatat
ada yang berasal dari UGM, Sanata dharma, UNY, UIN, UAD. Mereka ini ada yang memang berasal dari
jurusan keguruan seperti UAD dan UNY.

Justru teman-teman relawan banyak belajar ketika mereka melakukan pendampingan. Seperti
yang diungkapkan masturrido mahasiswa psikologi UGM, “saya senang sekali melakukan kegiatan sosial
ini. Selain bisa berbagi saya juga bisa belajar apa itu yang dinamakan keihklasan. Justru saya banyak
mendapat pelajaran dari adik-adik.”

Berbeda dengan shodiq mahasiswa UNY, “belajar itu tidak seformal yang kita bayangkan. Ada
buku pelajaran, guru yang harus selalau menerangkan, dan siswa diam menerima apa saja yang dikatakan
guru. Justru belajar akan lebih asyik ketika kita bisa berbaur dengan siswa. Mengajak mereka belajar
langsung dari alam, dan mereka bisa langsung mempraktekkan atau melihat apa yang mereka pelajari dari
alam.” “ bahkan dengan permainan belajar akan lebih enjoy”

Teman-teman sangat menikmati pendampingan ini. Setiap harinya teman-teman gus durian
mengkoordiner sekitar 12 relawan yang dibagi menjadi 2 untuk masing-masing kelas. Tidak hanya sebuah
rasa berbagi dan panggilan jiwa. Kegiatan sosial seperti ini akan lebih mendekatkan mahasiswa dengan
masyarakat. Walaupun toh nantinya mereka tidak harus terjun kembali ke desa paling tidak mereka bisa
merasakan bagaimana kehidupan orang-orang kecil seperti ini. Justru akan menjadi sebuah pelajaran
hidup yang berharga apalagi sebagian besar penduduk Indonesia taraf hidupnya masih menegah bawah.

Alangkah indahnya jika mengajar itu merupakan panggilan jiwa. Tulus ikhlas mengabdi, tidak
karena gaji atau pangkat, tapi karena kewajiban kita terhadap sesama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s