Ilmu Manfaat dan barokah VS ilmu bebas nilai

Jam 1 malam kedatangn senior. Datang seperti biasa, gak diundang tapi pulang diantar. Selalau menarik ketika kedatangn beliau yakni pasti adanya dialog yang terkadang membuat saya sedikit minder bahkan terpojokkan. Bukan karena saya tidak mampu, subtansi diskusinya selalu membikin akal saya sadar akan hal-hal yang ada dalam kepala saya.

Contoh, tiba-tiba beliau bertanya tentang apa itu ilmu manfaat dan barokah. Contoh ini beliau ambil dari kejadian empiris. Suatu ketika adiknya telp dan meminta didoakan semoga mendapat ilmu yang manfaat dan barokah. Belaiu kemudian balik bertanya apa itu ilmu manfaat dan barokah, seketika adiknya diam dengan jawaban singkat “ya pokoknya manfaat”
Bagi beliau ilmu manfaat dan barokah bila dilihat dari dua dimensi ilmu. Pertama dimensi individu, kedua dimensi sosial. Pada tataran di individu mempelajari ilmu bertujuan agar manusia mendapatkan pengetahuan, ketrampilan, kepandaian, semua itu akan memberi manfaat seseorang dalam menjalani hidup. Intinya mencerdaskan manusia agar mampu menjalani hidup. Nah secara individu ilmu dikatakan manfaat jika bisa memberi kegunaan pada individu.

Pada tataran sosial, ilmu dikatan barokah jika mempunyai implikasi kebaikan terhadap lingkungannya. Artinya berkat kemampuannya dia bisa memberi kemanfaatan terhadap lingkungannya.
Sekiranya menarik melihat konsep manfaat dan barokah. Dalam filsafat ilmu dalam salah satu cabangnya mempermasalahkan aksiologi dan ini masih menjadi perdebatan para akademi. Apakah ilmu itu bebas nilai atau tidak? Bagi para penganut paradigm pisitivistik objektivitas merupakan puncak tujuan dari ilmu pengatahuan, ini berbeda sekali dengan penganut madzab kontruksionisme dan kritis. Begi mereka tidak ada pengetahuan itu yang netral. Lahinya ilmu pengetahuan dikarenkan kebutuhan manusia. Teori-teori itu diciptkan dengan misi-misi atau ideology tertentu.

Sekirnya konsep barokah dan manfaat sama persis dengan konsep ilmu pengetahuan yang terikat nilai. Munculnya ilmu pengetahuan itu dikarenakan adanya desakan-desakan atau kebutuhan kebutuhan manusia. Lahirnya ilmu sosial dikarenakan kebutuhan manusia untuk mengetahui persoalan-persoalan sosial sehingga bisa mencari jalan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Sehingga tidak ada yang namanya pengetahuan ini netral tanpa membawa kepentingan atau tujuan tertentu, justru kepentingan dan tujuan itu yang kemudian melahirkan ilmu pengetahuan.

Maka perlu dipertanyakan jika suatu ilmu hanya mandek pada akademik tanpa memberikan kontribusi bagi masyarakat.

One thought on “Ilmu Manfaat dan barokah VS ilmu bebas nilai”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s