Aku Seorang Idealis


judul: Soe Hok Gie: Catatan seorang demonstran
pengantar: Daniel Dakhidae
penerbit: LP3S
cetakan: X, april 2011
hal: xxx+385
“di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi seorang yang idealis atau seorang apatis. Saya sudah lama memutuskan bahwa saya harus menjadi idealis sampai batas-batas sejauh-jauhnya. Kadang-kadang saya takut apa jadinya kalau saya patahpatah…” itulah salah satu catatan yang ditulis seorang SoeHok Gie pada tanggal 20 agustus 1968. Catatan itu sungguh menggambar seorang anak mudah yang berkomitment menceburkan diri dalam satu keyakinan dan perjuangan yang tunggal menjadi seorang idealis.
Catatan itu akan semakin menarik dan relevan jika kita bandingkan dengan kondisi sekarang ini. Terutama dinamika di tataran kelas menenga yaitu, cendikiawan, intelektual, dan pemuda. Dengan bumbu penyedap dibidang social, politik, ekonomi, dan budaya akan menjadi sebuah cita rasa yang menarik untuk dicoba dikaji oleh banyak orang. Tentunya dalam konteks perbedaan konteks zaman dulu dan sekarang berbeda tapi justru menjadi sebuah dinamika pergolakan perjuangan yang menggoda.
Patut diakui dimana-dimana pemuda menjadi motor penggerak perubahan. Dalam konteks Indonesia sendiri pemuda menjadi sendi-sendi dan tonggal bagaimana bangsa ini didirikan. Seperti dalam bukunya prakatiri simbolon menjadi Indonesia secara detail dijelaskan bagaimana fase-fase perjuangan Indonesia mencapaitujuan paripurna kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu pemuda menjadi orang terdepan dalam memperjuangkan secara fisik dan pikiran tentang bayangan Negara Indonesia. Kebangkitan nasional, sumpah pemuda, proklamasi, runtuhnya orde lama, hancurnya orde baru merupakan fakta-fakta yang tidak boleh disembunyikan atau bahkan hanya menjadi memori dalm buku-buku sejarah.
Setidaknya moment-moment itulah yang ingin disampaikan dalam buku catatan seorang demonstran. Melalui tokoh Soe Hok Gie. Seorang pemuda peranakan china, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Kehidupannya yang terbentuk dalam orde lama pimpinan soekarno memberi pengalaman dan sikap kritis. Dengan pendidikannya dan pengetahuannya yang diperoleh dengan membaca-baca buku social, politik, dan budaya membuatnya sanga kritis (radikal) dalam menilai kepemimpinan soekarno. Dinamika social, politik, dan budaya orde lama telah mengajari Soe Hok Gie pemuda peranakan china menjadi seorang humanis.
Garis Perjuangan
Sosok Gie bisa dikatakan inteleltual yang teguh pada cita-cita dan keyakinannya. Pada titik itu Gie tidak perduli dengan segala macam ancaman yang disebabkan oleh sikap kritis. Bahkan ketika setiap orang memuji-muji soekarno sebagai panglima besar revolusi Gie dengan yakin mengkritik soekarno sebagi golongan tua yang lupa diri ketika sudah berada dalam kekuasaannya. Pada saat itu tentunya segala macam kritik dan nada yang menyindir soekarno adalah hal yang tabu dikatakan. Bisa-bisa ditangkap dan dimasukkan kedalam penjera.
Lalu apa yang bisa ditawarkan dalam buku ini melalui so hok Gie? Sebagai seorang aktivis banyak sisi kehidupan Gie yang menarik. Tidak hanya ketika dia menjadi aktivis selama menjadi mahasiswa FSUI tapi kisah pribadi Gie juga menarik untuk dicermati. Bagaimana soerang Gie yang superior dalam gerakan tapi inferior dalam bercinta. Dengan membaca buku hariannya kita bisa melihat dan berkenalan dengan Gie lebih intim walaupun hanya dengan sebuah buku.
Pertama, Gie adalah potret mahasiswa yang yakin dengan seribu keyakinannya untuk menjadi seorang yang idealis. Walapun bisa dibilang terlalu sederhanya catatannya yang mengatakan bahwa di Indonesia hanya ada dua pilihan idealis atau apatis karena masih banyak pilihan lain. Perkataannya bukan hanya sebuah kata-kata yang abstrak dan tidak kongkrit. Dia membuktikannya dengan aksi-aksi menentang kebijakan-kebijakan pemerintahan soekarno yang cenderung membawa rakyat pada kemalaratan. Bahkan ketika dia diundang ketemu president soekarno di istana dan setelah itu dia sangat berani menulis dalam buku catatannya bahwa dibalik wibawahnya dan kharismanya soekarano tidak lebih manusia yang tidak tahu moral.
Bahkan ketika aktif menulis artikel-ertikelnya di media massa Gie berani mengkritis kebijakan pemerintah secara radidal cenderung kekiri-kirian. Bahkan sangat berani mengkritik golongan tua yang yang sedang mempin sebagai segerombolan pahlawan yang lupa dengan janji-janjanya.
Kedua , Gie disamping sebagai seorang aktivis juga soerang yang mencintai alam. Kegemarannya mendaki gunung dan aktif di mapala adalah sebuah bukti. Bahkan Gie dalam buku hariannya mengatakan bahwa salah satu yang diperlukan untuk belajar mencintai bangsa ini adalah dengan cara mengenal alam. Dengan mengenal alam Indonesia rasa cinta tanah air bisa dikembangkan. Tapi justru Gie yang malang kecintaannya terhadap alam, alam jugalah yang memanggilnya untuk selama-lamanya.
Ketiga, Gie adalah pemuda yang proporsional dalam bergaul. Tidak seperti pemuda lainnya Gie menganggap bahwa cinta hanyalah sebatas nafsu kelamin tidak heran mengapa Gie tidak pernah pacaran, namun akhirnya Gie juga menyadari bahwa tidak selamanya cinta sama dengan nafsu. Pikiran-pikiran seperti itu yang akhirnya membuat Gie teguh pada garis perjuangannya sebagai seorang idelis. Bukti nyata adalah Gie yang sempat merenung karena sebagian besar menerima Gie sebagai teman tapi tidak untuk sebagi orang dalam (suami).
Walaupun buku ini telah mengalami cetak sampai sepuluh kali justru itu yang menunjukkan buku ini sangat diminati. Terlepas dari kritik-kritik tentang buku ini secara kualitatif sebgai buku. Apalagi dalam konteks sekrang dimana para golongan muda telah mengalami krisis moral. Paling tidak dengan gambaran sosok Gie yang teguh pada rel idealis bisa menjadi pijakan. Tidak hanya itu kritikan-kritikan Gie dalam buku hariannya juga mengingatkan kita jangan sampai lupa dengan janji yang telah kita ucapkan walaupun kita sudah pada singgasana kekuasaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s