Ini Bukan Soal Uang

Sudah hampir 4 tahun aku tinggal dijogja. Merantau hanya untuk mencari ilmu. Itung-itung mengikuti sunnah nabi “carailah ilmu sampai kenegeri china” walaupun hanya dijogja bagiku itu seperti sunnah nabi karena aku memaknai hadist tersebut secara subtansial bukan tekstual. Sepertinya penddidikanku memang ditakdirkan untuk selalu merantau MI (madrasah ibtidaiyah) di lamongan, SMP juga di lamongan, SMA di jombang dan kuliah di Yogyakarta. Dan suatu hari nanti saya juga berharap bisa melanjutkan S2 di Australia.
Suatu hari aku menyempatkan diri pulang kampung. Itung-itung mengisi liburan di kampung halaman, membantu orang tua, mengikuti pengajian, dan bernostalgia dengan suasana kampung. Sampai suatu saat aku terlibat percakapan dengan teman-teman lamaku.
“sibuk apa nih di kampung?”
“biasa dirumah bantu-bantu orang tua”
“gak ngelanjutin sekolah?” tanyaku.
“mana mungkin kulia, bro. orang seperti aku gak punya uang untuk biaya kuliah. Mending kerja nyari uang sambil bantu ortu” jawabnya sambil tertawah kecil. “beda sama kamu bro. kamu kan pinter dan sekrang kamu adalah calon orang sukses.” Perakapan itu berlanjut cukup lama dan kita bernostalgia mengenang masa Mi, SMP. Sambil tertawa-tawa, guyon-guyon menciptakan sauna gayeng diantara kita.
Di kampung aku juga menjumpai teman-temanku yang lain dan hampir sama. Rata-rata mereka tidak melanjutkan jenjang kuliah setelah SMA. Diantara mereka memberikan alasan yang berbeda-beda. Tapi ada dua alasan yang sangat berkesan dalam meninggalkan kesan mendalam dalam hatiku. Pertama, mereka menganggap kuliah itu hanya orang-orang pinter, kedua biaya kuliah mahal.
Dua alasan itu menggantung dalam pikiranku. Ketika aku pulang dan beristirahat aku tenangkan sedikit pikiranku. Aku buka lembaran-lembaran buku yang pernah aku baca. Mengingatk-ingat informasi yang pernah masuk dalam otakku. Mengingat-ingat seminar-seminar yang pernah aku ikuti terutama menyangkut pendidikan, diskusi-diskusi menyangkut pendidikan. bahkan lebih dalam lagi aku diamkan diriku merefleksikan terhadap perjalanan hidupku. Karena kondisiku hampir sama dengan mereka.
“apakah benar mereka sekolah karena tidak punya uang? Apakah benar mereka tidak sekolah karena tidak pinter?” tanyaku. Sepertinya alasan mereka tidak bisa memuaskan nalarku. Toh selama ini aku menemukan banyak orang yang tidak punya uang, sama-sama miskin tapi mereka juga kuliah. Kalau mereka mengatakan kuliah harus pintar tidak ada persyaratan dalam pendaftaran orang kuliah harus pinter.
Contohnya tetanggu sendiri sebut saja namanya Paijo, sebagai orang yatim bisa dibilang dia orang miskin, bahkan jika kita menggunaan ukuran BPS tentang kategori orang miskin dia bisa dikatakan cukup miskin, lebih ekstrim lagi jika menggunakan ukuran kesejahteraan berdasarkan pendapatan perkapita internasional bisa dibilang “sangat miskin.” Toh dia bisa menyelesaikan sampai S3 (SD, SMP, dan SMA). Bahkan sekarang menempun pendidikan tinggi di salah satu Universitas negeri di Yogyakarta.
Anda semua bisa membayangkannya apakah bisa orang yang dikatakan sebagia orang miskin menurut statistic BPS dan PBB bisa mengenyam pendidikan tinggi yang mahal. Jika anda menggunakan ilmu logika yang paling modern atau statistic yang paling modern maka tidak akan ketemu.
Lain lagi dengan aris, mahasiswa pertanian yang masuk universitas Gadjah mada melalui jalur penelusuruan bibit unggul tidak mampu. Berangkat keyogyakarta dengan menumpang pengangkut garam Yogyakarta. Sesampai diyogyakarta harus menginap dimasjid. Berangkat kuliah hanya bermodal kaki menempuh kurang lebih 4 kilometer setiap hari. Ditengah kuliah sempat mau dikeluarkan.
Dengan bermodal semangat pantang menyerah, doa ibu, dan dukungan temannya aris berhasil keluar dari kesulitan yang membelenggunya. Sempat menjuarai beberapa kompetisi nasional interpreuner dan sukses dengan usaha masrum burgernya aris sekarang menatap kedepan.
Ini sebuah contoh tidak lazim. Coba kita pakai ilmu ekonomi yang paling modern sekalipun. Seperti teori ekonomi yang paling dasar “dengan modal sekecil untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya atau modal merupakan bagian penting dalam menentukan keberhasilan” teori tersebut tidak akan cocok. Kalaupun kita cari maka tidak akan ketemu dalam ilmu ekonomi. Kalau mau lebih kreatif mungkin akan ditemukan cabang ilmu baru. Atau bahkan hanya bisa dijelaskan secara metafisik bukan menurut hokum positif. Bukankah seorang eisnten yang kita sebut sebagai bapak ilmu pengetahuan tidak pernah mengatakan bahwa fasilitas menentukan kualitas tapi kualitas ditentukan oleh kemauan. Dan sebuah tekad atau kemauan itu tidak bisa diukur dan dijelaskan secara ilmiah.
Bahkan kalau kita mau lebih ngoyo dan mau membaca biografi macam-macam tokoh dunia anda akan menemukan sebuah keajaiban yang tidak bisa dikaji oleh ilmu modern sekrang ini. Mereka berhasil karena adanya kemauan yang kuat. Dengan kemauan yang kuat mereka berhasil menjadi orang-orang hebat.
Kalau semisal anda-anda masih tidak percaya, ada contoh lagi. Di Yogyakarta saya tinggal dengan mengontrak rumah bersama-sama sekitar 8 orang. Mereka semua adalah mahasiswa UGM. Rata-rata mereka berada difakultas yang bisa dibilang ratingnya cukup signifikan.
Karena saya satu kontrakan maka saya sangat mengenal mereka termasuk latar belakang keluarganya. Rata-rata mereka orang desa yang orang tuanya kerja di sawah. Kita sudah bisa membayangkan pernghasilan petani sebulannya berapa. Dan kalau kita kalkulasikan dengan jenjang pendidikan yang mereka tempuh seyakin-yakinnya mereka tidak akan mampu. Bisa-bisa penghasilan orang tua mereka tidak cukup untuk membiayai mereka kuliah, makan, kos-kosan, dan membeli buku.
Seperti hari, suatau hari dia pernah curhat dengan saya “mas mas sebenarnya saya kasihan sama orang tua saya. Dulu saya tidak pernah kepikiran bisa kuliah. Saya hanya berfikir kerja dan bisa bantu ortu” bicaranya pelan dengan muka sedikit memelas. “lal terus” tanyaku. “aku masih kepikiran dengan orang tuaku, aku kasihan sama mereka. Aku ingin bekerja dan membantu mereka” seperti putus asa.
“piye to! Kamu seharusnya bersyukur bisa kuliah. Tugasmu sekarang bukan mengeluh tapi berjuang dan membuat orang tuamu bangga” jawabku sedikit membentak. Aku sedikit agak tersinggung, bagaimana tidak, sudah diberi kesempatan kuliah lewat beasiswa tidak bersyukur malah mengeluh.
Teman-temanku satu kontrakan pun tidak jauh berbeda dengan hari. Latar belakang keluarga mereka adalah petani dengan penghasilan tidak cukup untuk membiayai mereka kuliah. Toh sekarang mereka bisa kuliah melalui beasiswa.
Aku melihat keatas sambil manggut-manggut dengan tangan mengleus dagu. Aku berfikir Kalau begitu alasan yang saya temukan pada teman-teman saya gugur seketika. Saya rasa ini bukan masalah pinter atau tidak pinter, tidak ada ukuran pinter, semua orang pinter, dan pintar itu karena belajar bukan karena keturunan. kalau mereka masih berdali dengan alasan tidak punya biaya. Bukankah contoh diatas sangat nyata bahwa banyak orang yang miskin tidak punya biaya untuk sekolah toh mereka bisa kuliah. Berarti ini bukan masalah uang! Sepertinya saya senang sekali telah berhasil menggugurkan alasan teman-teman saya yang tidak melanjutkan pendidikan formal. Karena menganggap kekurangan mereka sebgai penghambat. Saya sudah menemukan jawabannya.
**
Setelah berfikir dan menemukan sebuah kesimpulan aku dikejutkan oleh kasus yang lain. sebut saja namanya fajar. Dengan perawakan gemuk dengan wajah tidak tampan dengan bangga becerita kepada saya bahwa sekarang dia sekolah di sekolah unggulan “kak sekarang saya sekolah SMA yang ber-RSBI.” “Apa pula itu RSBI”, tanyaku sedikit heran. “RSBI itu kak Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional” jawabnya sedikit congkak. “disana fasilitasnya lengkap, ada computer disetiap kelas, ada TV, Internet, pokoknya serba lengkap.”
“wah berarti engkau hebat sekali bisa sekolah internasional, pasti kau akan menjadi pintar ya” jawabku sambil sedikit kecut.
Percakapn itu berlangsung singkat tapi justru menggelitik nalarku. Pertanyaan-pertanyaan datang silih berganti bergelantungan didalam otakku. Tadinya teman-temanku yang tidak melanjutkan sekolah sekarang adik kelasku yang bersekolah di SMA yang bertitel RSBI dan tentunya mahak sekali. Dalam hati aku tertawa. Temanku-temanku protes tidak kulia gara-gara tidak punya uang dan tidak pinter sekarang adik kelasku yang bersekolah disekolah yang mahal dan menjanjikan kepintaran kepadanya. “Aneh-aneh saha dunia ini” gumamku.
“tapi kenapa ya sekarang banyak lembaga pendidikan yang berlomba-lomba menjadi sekolah unggulan? Gedung-gedung sekolah dibangun megah, fasilitas ditambah sebanyak mungkin, jam sekolah ditambah, berbagai macam kegiatan diadakan.” tanyaku. “apakah ini tujuan pendidikan kita? bukankah sekarang ini setelah mendapat title internasional sekolah-sekolah itu menjadi mahal, nah kalau sudah mahal bukankah yang bisa menikmatinya hanyalah orang-orang berduwit?” pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul, sepertinya semua masalah itu mencoba terakumulasi dalam otakku. Kudiamkan diri sejenak dan berfikir.
Bukankah dalam rancangan APBN dan APBD mengamanatkan anggaran pendidikan 20%? Dan UUD dasar negara kita menjamin hak atas pendidikan rakyat, bahkan dalam sisdiknas menjamin warga negara mendapat pendidikan Sembilan tahun. Dengan anggaran 20% maka seharusnya menjamin rakyat mendapat pendidikan, guru-guru bisa sejahtera, dan para orang tua tidak perlu kuatir anaknya tidak bisa sekolah.
Tiba-tiba, aku sedikit terkejut, informasi yang terakumulasi dalam otakku tiba-tiba memberontak dan muncul sekita. Informasi tersebut berasal dari media masa cetak, elektronik, lingkungan, bahkan berasal dari akumulasi pengalaman ketika sekolah MI, SMP, SMA, dan Kuliah.
Semisal, seperti di atas sekarang lagi menjamur sekolah-sekolah yang katanya unggulan, korelasi antara unggulan ternyata berbanding lurus dengan biaya yang semakin mahal maka otomatis yang bisa masuk hanyalah wong duwe. Belum selesai disitu, ternyata jika disurvey seperti dalam media masa cetak nasional, masih banyak sekolah-sekolah dipelosok Indonesia yang sudah tidak layak pakai. Kemudian masih banyak rakyat kecil yang masih belum bisa menikmati pendidikan 9 tahun.
Ini sungguh ironis dan menghiyanati amanat pembukaan UUD 45 alenia keempat “ kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…”
Sangat jelas sekalai bahwa tugas negara adalah mencerdaskan bangsa Indonesia. Siapa bangsa Indonesia itu? bangsa Indonesia adalah rakyat Indonesia yang secara hokum menjadi warga negara Indonesia. Maka anggaran 20% merupakan salah satu implementasi dari amanat tersebut.
Maka implikasinya kebijakan pendidikan harus merata diseluruh Indonesia. Maka seharusnya tidak ada sekolah yang tidak layak pakai. Tidak ada rakyat Indonesia yang tidak sekolah. Tidak ada guru yang berunjuk rasa menuntut kenaikan gaji. Tidak ada anak-anak kecil yang mengemis dijalan. Namun memang bangsa ini seperti negara ironi, hal hal yang semestinya A di balik menjadi B.
Berbagai macam kebijakan pendidikan tidak berpihak terhadap masyarakat kecil tapi justru kepada masyarakat elit yang merugikan. Sekolah sekolah unggulan baik bertitel nasional maupun Internasional adalah sebuah kebijakan yang harus dikoreksi. Apakah ini semangat pendidikan yang diajarkan oleh Kihajar dewantara? Saya rasa tidak. Dulu ketika zaman kolonialisme belanda rakyat pribumi dipersulit mendapat pendidikan sehingga beberapa orang nasionalis mendirikan sekolah alternative, seperti yang dilakukan oleh KH. Hasyim Asy’ari, KH. Ahmad Dahlan, dan Kihajar Dewantara. Nah justru setelah merdeka apakah kita akan kembali seperti masa kolonialisme dimana pendidikan bermutu hanya boleh diperoleh oleh elite tertentu.
Alasan tidak melanjutkan sekolah formal karena tidak punya uang saya rasa bukan alasan yang tepat. Jika implementasi anggaran 20% dipenuhi maka seharusnya rakyat Indonesia bisa menikmati pendidikan. Jika pendidikan tidak melakukan eksklusifisme dengan title-titel tertentu yang diskriminatif pasti tidak ada rasa superior terhadap sesame. Jusru title-titel unggulan telah mendegradasi semangat pendidikan itu sendiri.
Maka persoalannya adalah apakah para pengambil kebijakan mau dan berkeinginan masyarakat mendapat pendidikan yang layak taukah mereka hanya mementingkan beberapa golongan yang menguntungkan mereka. Nah semoga yang maha kuasa menimpahkan ganjaran kepada mereka yang telah melalaikan tugas dan kewajibannya terhadap hak-hak rakyat Indonesia untuk mendapat pendidikan.
Sekali lagi, aku menggeleng-gelengkan kepalaku dan menutup sejenak pikiranku yang memikirkan carut-marutnya pendidikan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s