Pendidikan Indonesia

Tahun ini drama ujian nasional untuk tingkatan SMA dan SMK sudah mencapai titik puncaknya. Seperti tahun lalu detik-detik pengumaman menjadi detik yang paling ditunggu sekaligus paling tidak di inginkan. Sebagaimana data dari dinas pendidikan nasional mengatakan bahwa angka kelulusan tahun ini mengalami kenaikan, walaupun tidak begitu signifikan, tapi hasil tersebut harus diamini sekaligus ditingkatkan. Sekitar 99,81% siswa SMK dinyatakan lulus sedangkan untuk SMA mencapai 99,52%.

Lantas dengan angka seperti itu apakah UN masih relevan atauakah menghapus UN dan mencari sistem yang lain?
beragam pendapat muncul mengenai hasil UN tahun ini disalah satu pihak banyak yang mengatakan puas dipihak lain mengatakan belum. Kepuasan itu tidak lepas dari hasil kelulusan UN yang mengalami kenaikan walaupun dengan banyak catatan. Sedangkan bagi yang tidak puas mengatakan UN merupakan sistem yang tidak tepat yang di adopsi dari kurikulum luar sehingga aplikasinya masih menimbulkan banyak masalah.

Pendidikan minim visi

Ditengah pengumuman hasil UN mengalami kenaikan dunia pendidikan kita patut mendapat banyak sorotan. Pertama, pendidikan sebagai intitusi tranformasi nilai dinailai gagal menanamkan nilai-nailai pancasila. Institusi pendidikan merupakan instrument penting bagi sebuah negara. Siapapun dan negara manapun pasti akan mengamini itu. untuk itu maka setiap orang atau negara mengembangkan sistem pendidikan yang baik, selaras dan sejalan dengan bangsa itu sendiri dan selaras dengan kemajuan zaman.

Didalam institusi pendidikan secara normative akan berlangsung sebuah pendidikan dan pengajaran. Dimana ilmu dan nilai akan diajarkan. Maka dari itu hakikat pendidikan dan pengajaran adalah pemberian pengertian dan contoh atau secara garis besar memberikan tuntunan kepada pertumbuhan dan perkembangan manusia sehingga mencapai kedewasaan dalam arti jasmani dan rohani. maka di sini ada indikasi bahwa pengajaran pancasila tidak selaras dengan hakikat pendidikan dan pengajaran.

Kedua, kasus NII memberikan indikasi bagaimana institusi pendidikan kita lemah sehingga muda dimasuki faham-faham yang jauh dari nilai-nilai bangsa. Setidaknya kasus brain watching yang dilakukan NII terhadapa beberapa mahasiswa menjadi sebuah indikasi bagaimana sistem pendidika yang lemah yang mengakibatkan anak didik kita sangat mudah terpengaruh terhadap nilai atau ajaran diluar nilai kebangsaan. Padahal pendidikan merupakan benteng bagi bangsa melindungi generasi mudah dari faham kiri yang subversive.

Ketiga, dunia pendidikan yang semakin elitis jauh dari cita-cita pendidikan rakyat pancasila. Kapitalisme yang disadari atau tidak telah merasuki dunia pendidikan kita. idikasinya apa? Berdirinya sekolah-sekolah unggulan dengan title nasional maupun internasional telah memetakan dan member sekat-sekat antara sekolahnya orang kaya dan miskin. Semisal sekolah-sekolah yang berlabel internasional sudah pasti yang mengisi adalah anak para elite. Padahal pendidikan yang digagas oleh para founding father sejak zaman colonial adalah pendidikan rakyat pancasila yang mempunyai misi mencerdaskan segenak rakyat Indonesia bukan elite Indonesia.

Keempat, moralitas anak anak didik yang semakin mengalami dekadensi dari tahun ketahun. Tujuan pendidikan adalah menghasilkan manusia-manusia yang berbudi luhur. Berarti ketika seseorang mamasuki pendidikan mereka akan diajarkan nilai-nilai yang selaras dengan kamanusian, moralitas. Justru sekarang ini banyak anak didik mengalami disorientasi nilai. Banyak anak didik yang terjebak dalam pergaulan bebas. Mengkonsumsi budaya modern secara mentah tanpa ada selektif kritis. Contoh kecil adalah budaya konfoi ketika kelulusan, corat-corat baju. Padahal dari tahun ketahun sudah diperingatkan bahwa hal tersebut adalah bertentangan dengan nilai moral yang selama ini diajarkan di sekolah.

Pendidikan rakyat pancasila

Ketika kihajar dewantara mendirikan taman siswa beliau begitu gigih memperjuangkan sistem pendidikan yang digali dari nilai-nilai bangsa. Hal ini terwujud melalui 5 asas pendidikan taman siswa. Pertama, asas kebangsaan yang tidak bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Kedua, asas kebudayaan yang sesuai dengan kecerdasan zaman. Ketiga, asas kemerdekaan yang disiplin pada diri sendiri dan tertib damai masyarakat. Keempat, asas kemanusiaan yang memperjuangkan kemajuan kemanusiaan lahir batin. Kelima, asas kodrat alam yakni manusia menyatu dan berselaras dengan alam.

Lima nilai yang diperjuangkan bapak pendidikan kita merupakan nilai yang beliau kaji dari pengalaman beliau ketika memperoleh pendidikan colonial yang pragmatis dan diskriminatif. Ditambah hasil studi banding beliau ketika berkunjung ke india melihat sistem pendidikan yang didirikan Rabidranath Tagore.

Nah ketika kita mencoba merefleksikan sistem pendidikan kita sekarang ini maka akan sangat jauh dari cita-cita tersebut. sistem pendidikan yang kaku dengan ruang-ruang yang sempit, telah membelengguh perkembangan dunia pendidikan. Paradigma posistivistik menggiring pendidikan kita pada ukuran-ukuran angka yang menjadi tujuan. Sehingga mereduksi tujuan pendidikan pada hasil yang bagus tanpa mengembangkan cara pengarana yang lain.

Liberalisai pendidikan justru memperparah kondisi tersebut. buktinya adalah spesialisasi pendidikan justru menggiring kita pada sistem pendidikan colonial yang hanya bertujuan menghasilkan buruh kerja. Logika yang dikembangkan adalah ekonomi dimana segala sesuatu yang menjadi ukuran adalah untung rugi. Maka yang perlu bukan lagi proses pendidikan tapi bagaimana menghasilkan pendidikan yang cepat.

Lebih aneh lagi, seolah negara ini miskin ahli pendidikan dengan membiarkan segala permasalahan itu semakin menumpuk tanpa penyelesaian. Bukankah pendidikan kita telah dirancang semenjak sebelum kemerdekaan. Didalam pancasila sudah jelas dirumuskan visi dan misi pendidikan. Khasanah pendidikan yang ditanam oleh founding father terpampang jelas. Jika kita semua masih berpaling dengan menjiplak sistem pendidikan negara lain, yang kaku, diskriminatif, liberal, dan membelenggu maka tunggulah sampai dimana pendidikan bukan lagi mendidik atau pengjaran tapi sebuah industry yang mencetak segala sesuatu secara instan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s