Indarwati

Hidup itu terus berjalan, dan sang waktu tidak bisa dihentikan. Bahkan jika engkau ingin menghentikannya satu detik pun tidak akan mampu. Satu-satunya yang bisa hanyalah tuhan, namun itupun masih dalam tanda Tanya karena tuhan belum pernah membuktikannya. Detik terus berjalan menjadi menit, menit terus berjalan menjadi jam, jam terus berjalan mejadi hari, hari berjan menjadi bulan, terus begitu dan begitu. Kita tidak tahu kapan sang waktu akan habis dan berhenti, dan kiamat dating sebagaimana janji agama. Tapi yang pasti sang waktu akan terus berjalan, berlari, tanpa bisa berhenti, berulang.
Aku sendiripun berfikir panjang. Waktu-waktu telah berlalu, mengendap menjadi sebuah baying masa lalu. Menjadi bingkai-bingkai kenangan, menempati setiap ruang dalam fikiraanku. Setipa saat bisa kunikmati menjadi hiburan pribadi dalam lamunan yang tiada henti tanpa batas waktu dan ruang.
Terkadang Berfikir seandainya sang waktu akan berhenti dan aku bisa mengulang masa lalu. Akan ku perbaiki kesalahan-kesalahanku, kutambah kebaikanku. Dan aku tidak akan takut mengarungi hidup karena jika ada sesuatu yang keliru aku bisa memutar sang waktu.
Masa-masa MI telah berlalu, suka duka telah menjadi bumbu, terkadang menjadi selimut, menjadibantal, atau bahkan menjadi cambuk. Mengental menjadi kenangan, butiran-butiran Kristal, permata, batu, emas, bara, yang semua itu telah tertanam jauh dalam pikiran. Masa MI yang lugu, tidak tahu mode, gaya rambut, pakaian. Tidak tahu computer, televise, yang ada hanyalah radio butut yang dibeli oleh bapakku dari negeri perantauan. berangkat sekolah berjalan kaki dengan baju yang sudah patent, uang saku yang tidak pasti, tapi toh aku tidak pernah protes kepada bapak ibuku terlebih lagi tuhan. Aku cinta hidupku dan cinta tuhanku.
Sebagaima sang waktu yang tidak mau berhenti, begitupun diriku yang berjalan seperti sang waktu. Mau tidak mau SMP menjadi cerita selanjutnya dalam hidupku. Kalau sebelumnya aku sudah bercerita lewa “SMP WAHID HASYIM” ya memang itu apa adanya. Silakan menilai sendiri, tapi tidak ada salahnya aku pun member kesimpulan, yaitu SMP telah mengajari aku bagaimana menjadi orang dan bagaimana menempatkan diri.
Sebagaimana pohon yang tumbuh dan berkembang. Pada awalnya hanyalah sebuah kecambah yang terdiri dari dua daun dan satu batang, tapi setelah tumbuh pohon itu semakin lengkap, muncul daun yang lebih banyak, batang lebih banyak, bahkan bisa melakukan penyerbukan dan menghasilkan buah. Begitupun diriku yang semakin tahu sisi kehidupan, baik, buruk, pintar, bodoh, jelek, cantik, dll.
***
Seminggu bersekolah di DU rasa sedih menyelimuti. Maklum aku adalah anak rumahan sebelumnya jadi berpisah dengan orang tua dan teman-teman adalah sebuah kehilangan. Namun lama-kelaman akhirnya bisa menyesuaikan diri. Teman bertambah banyak, kegiatan semakin menumpuk. Sekolah yang berjalan dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore semakin mempersempit waktuku bahkan mempersempit ruang waktuku membuat waktu semakin cepat berjalan.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Rasanya sulit untuk mengungkapkan seluruh kenangan SMA dalam sebuah kertas putih dengan aturan jumlah kata. tapi sebuah kenangan tidak harus diceritakan seluruhnya terkadang kita bisa mengambil moment penting untuk diceritakan.
Mungkin ini sebuah kelanjutan. Entahlah pembaca mau menamakannya apa. Tapi memang dari zaman dulu sampai sekarang cinta menarik untuk dibicarakan. Mungkin juga dalam hidup para pembaca cinta akan mendominasi kisah paling berkesan dalam hidup. Bahkan bisa menjadi kenangan paling kelam. Hahaahaha terseralah.
Cinta bagi sebagian orang adalah perasaan suka atau saying. Tapi definisi ini mungkin terlalu sederhana. Tapi bukan berarti salah karena pengalaman seseorang akan menimbulkan intepretasi yang berbeda atau kesadaran kognitif yang beragam.
DU 2 telah memberi pengalaman bagiku tentang cinta. Sebuah kisah cinta anak pondok yang merana, karena batasan aturan. Banyak orang mereduksi makna cinta menjadi pacaran. Uniknya kisah cinta saya adalah cinta melintasi batas daerah. Ini sebuah kisah lanjut dari cinta SMP yang belum sampai. Perasaan suka yang terpendam selama SMP berusaha di wujudkan ketika SMA. Lucunya adalah Pondok pesantren dengan peraturan ketat mengatur relasi cewek dan cowok adalah setting yang menantang, tidak hanya keteguhan cinta tapi strategi agar cinta bisa bersemi ditengah tanah gersang dimana cinta haram untuk tumbuh dan bersemi.
Sungguh pengalaman SMP tak pernah bisa hilang. Bahkan semakin menghantui pikiranku. Senyum, manis, dan tawa tanpa suara menempati setipa ruang dalam pikiranku. Sayangnya rasa ini tidak pernah sampai. Bahkan ketika aku menyempatkan pulang kekampung halaman selalu kucoba mengobati rasa ini.
Tapi memang cinta (nafsu kali ya?) bisa membikin manusia menjadi makhluk yang paling tidak rasional. Tidak jarang kita melihat orang bunuh dari gara-gara putus sama pacar yang dicintai atau gara-gara cemburu orang membunuh. Tidak terkecuali aku dan aku mengakuinya. Contohnya, seharusnya uang saku kita gunakan untuk membayar SPP tapi gara-gara cinta kita rela mengkorupsinya demi wanita yang kita cintai seperti mentraktir makan, membelikan pulsa, atau bahkan membelikan barang berharga.
***
Indarwati, ah gadis cantik ini selalu saja datang. Terkadang muncul seperti pencuri yang mencuri perhatianku, terkadang datang bagai penghibur yang datang menghiburku, datang sebagai orang yang menyebalkan karena sering kita berdebat. Sampai saat kita berpisah pun engkau selalu datang. Bahkan ketika aku dikurung dalam penjara suci pondok pesantren darul ulum pun engkau diam-diam menyusup. Untungnya petugas keamanan tidak pernah menemukanmu yang selalau hadir dalam pikiranku.
Indarwati, saking lekatnya engkau dalam pikiranku, sampai-sampai aku harus membuat jadwal khusu buatmu, kapan harus menelponmu, berapa uang yang harus kusisikan untuk biaya menelponku, bahkan jadwal pulang kampong pun harus kuluangkan waktu untuk bertemu denganmu.
Indarwati, gara-gara engkau aku harus bangun malam hanya sekedar menikmati free talk yang berlangusng dari jam 1 sampi 5 pagi. Sampai-sampai aku harus rela dimarahi emak karena ramai dimalam hari. Ya ya sekali lagi terkadang cinta (nafsu) membuat kita menjadi manusia paling tidak rasional.
Indarwati, demi engkau sampai samapi aku menjadi manusia pengkhianat. Kerena akau telah menghianati orang tuaku, saudaraku untuk tidak pacaran terutama setelah saudaraku menyetujui aku bersekolah di DU. Tapi tak apalah, demi engkau indar aku rela menjadi manusia paling tidak rasional.
Tapi apa engkau menyadarinya bahwa cintaku (nafsu) kepadamu sungguh besar lebih dari benda paling besar di dunia. Sampai pada malam itu dengan perasaan malu, tapi pingin, aku bersama temanku menelponmu. Tahukah engkau bagaimana aku bercerita kepada temanku bahwa aku sungguh suka padamu. Sampai-sampai temanku dengan suka rela membantuku untuk mengungkapkan perasaan ini. Oh sungguh-sungguh aku mencintaimu.
“indar sebenarnya khotim suka kepadamu” ucap temanku pada suatu percakapan telp setahun yang lalu. “kenapa khotim gak ngomong sendiri” tanyamu.
“dia malu sama kamu”
“oh.”
Itulah untuk pertama kali aku berusaha mengungkapkan rasa suka terhadap seorang gadis. Bisa dikatakan itulah “menembak gadis” menurut budaya gaul sekarang.
Indar masih ingatkah engkau denga itu. Ah waktu itu karena aku sudah SMA muncul sedikit keberanian, walaupun lewat temanku aku mengatakan itu. Tapi jawabmu sungguh membikin aku tersipu malu ketika engkau mengatakan menerimaku. Aku sudah lupa bagaimana engkau mengatakan mau. Tapi gak apa-apa itu sebagai misteri yang mungkin akan menjadi PR ku untuk menemukannya.
Indarwati banyak cara aku lakukan untuk memebuktikan cintaku kepadamu. Seperti aku rela membelikanmu buku pelajaran agar bisa membantu sekolahmu. Bertemu denganmu setiap kali pulang dan saling bertukar informasi tentang nilai kita masing-masing. Jadi pingin ketawa melihat masa-masa itu.
Indar tapi memang aku tidak pernah mengerti perasaanmu dan aku sudah diselimuti cinta buta. Dan memang akhirnya terbukti bahwa engaku ternyata tidak mencintaiku. Kau hanya berpura-pura mencintaiku. Aku tidak tahu motive indar berlaku seperti itu atau mungkin indar menganggapku seperti anak kecil. Ya ya ya
Indar sampai pada suatu hari ketika aku pulang dari pondok masku sedikti menyindir “pacarmu diperkosa orang.” Timbu tanda Tanya besar walaupun kutupi dengan wajah sedikit tertawa. Hehehehehe “mana mungkin? “ pikirku.
Indar ternyata memang omongan itu bukan hanya sekedar sindirian. Sekampung sudah tahu bahwa engkau sudah di usir dari rumah gara-gara melakukan perbuatan tercela. Dan ketika rasa ini sudah membuncah aku datang dan menemuimu di temapat pelarianmu.
Aku masih ingat betul sekali bagaimana pertemuan itu. Di ruang tamu yang gelap karena lampu mati (tidak tahu sengaja mati atau tidak) kau duduk tenang, berjilbab. Aku tidak tahu apa senyummu sapa seperti dulu atau sudah berubah karena gelapnya ruangan.
Indar akhirnya engkau jujur padaku. Dengan bergelimang air mata, kau bercerita bagaimana cowok barumu menggaulimu. Dengan detailnya kau menceritakan kronologinya. Ketika kamu ditipu diajak untuk mengikuti perkemahan sampai kamu disasarakn kehotel dan mengaku sebagai suami istri. sampai akhirnya kejadian terkutuk itu menghancurkan dirimu sendiri.
Ah aku tidak tahu apa tangisanmu itu wujud penyesalan atau hanya untuk mencari simpati dariku. Tapi akhirnya engkau jujur bahwa engkau tidak pernah mencintaiku.
“tim kamu hanya aku jadikan cadangan ketika aku tidak bisa bersatu sama cowoku. Aku menerima cintamu karena aku tidak mau melukai perasaanmu”
Itulah perkataanmu padaku. Aku jadi tertawa, membayangkan bagaimana dulu aku sangat mengagumimu karena kepintaranmu, kecantikanmu. Bagaimana aku berjuang mendapatkanmu, menyisikan ungkan untuk menelponmu, bangun malam untuk menelponmu sampai-sampai SMS yang berisi kata-kata sayang. Hahahahahaahahaha
Ternyata engkau lebih memilih kepada orang lain.
Indar aku sangat berterimakasih kepadamu. Paling tidak sepertinya engkau telah mengajari aku. Seperti bahwa kecantikan dan kecerdasan bukannya segalana. Kemudian janganlah mencintai sesuatu dengan berlebihan tapi sewajarnya. Ya ya indar aku faham.
Tapi indar engkau memang tidak bisa hilang dalam memoriku. Banyak kau catatkan kenangan manis dan pahit. Sampai sekarang pun ketika engkau sudah beranak aku tetap berusaha bisa berhubungan denganmu. aku berharap suatu hari nanti bisa merajut cerita bersamu. Semoga tuhan menghendakinya. Amin!
Tunggu kelanjutannya.

One thought on “Indarwati”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s