Antara Kinerja dan Istana Baru

Setidaknya beberapa minggu ini pikiran saya terasa jenuh dan pusing dijejali berita tentang tingkah politikus senayan. Aneh-aneh saja tingkahnya. Mengutip perkataan Mantan President Gus Dur yang mengatakan bahwa politikus senayan yang duduk di DPR seperti murid TK. Setidaknya itu semakin menjadi kenyataan. Walaupun suara sana-sini bilang tidak begitu. Tapi mari kita saksikan bersama-sama apakah begitu atau tidak.
Dinamika dan fenomena tingkah anggota DPR semakin seru dan menjadi bahan yang layak dijual di media massa. Kinerja-kinerja yang telah dilaksanakan sangat menarik untuk disimak. Bahkan sangat layak Dijadikan bahan-bahan diskusi dan seminar. Tidak lain karena para wakil rakyat tersebut yang dipilih rakyat secara langsung begitu semangat bekerja membuat kebijakan yang katanya atas nama rakyat.

Kinerja DPR layak dijadikan sebuah narasi cerita menarik. Mungkin bisa kita mulai dari kasus suap yang dilakukan oleh Miranda Gultom, yang demi mendapatkan status Gubernur Senior BI rela mengeluarkan uang milyaran sebagai uang jajan anggota DPR. Anggota DPR kita pun diem-diem saja duduk nyaman dengan pemberian tersebut yang notabeyna secara hukum merupakan suap. Entah anggota DPR memang tidak tahu atau memang tahu. Setidaknya cap taman kana-kanak sedikit ada benarnya.

Capek dan lelah, tapi status sebagai rakyat yang dalam demokrasi mendapat kedudukan paling tinggi mengharuskan kita berkoar-koar mengoreksi kinerja pemerintah. Walaupun terkadang suara kita hilang ditengah jalan tidak sampai pada wakil kita. Kalau begitu narasi cerita panjang kita batasi saja.
Salah satu bagian cerita Narasi itu adalah tentang gedung baru. Konon katanya DPR Indonesia akan membangun gedung seharga 1,138 triliyun. Gedung itu nantinya akan menggantikan gedung lama yang katanya tidak muat. Dengan kapasitas ruang 2003, dengan rincian yang tidak bisa dijelaskan. konon juga satu ruangan tersebut seharga 800 juta. Dengan luas kamar masing-masing 111,1 m/persegi dengan harga 1 m/perseginya 7,2 juta.

Bahkan di masyarakt isu tersebut menjadi pembicaraan. Ada yang bilang gedung tersebut akan dilengkapi dengan shower, televise, internet, kulkas, ah pokonya serba lengkap. Saking serunya masyarakat membicarakan isu tersebut ada yang berharapa bisa melihatnya. Tapi yang lain bilang kita ini tidak pantas kita kan rakyat bisa. Yang lain pun menambahi dengan mengatakan bahwa gedung itu kan dibuat dengan uang kita. Pembicaraan itu pun sahut menyahut tidak tahu ujung akhinrnya, tapi ada celetukan menarik, “kalian semua ki kok repot, seharusnya kalian sudah beruntung punya rumah jadi gak usah menghayal masuk gedung DPR, itu hanya untuk orang pinter.”

Tidak salah memang ketika para wakil kita ingin membangun gedung baru DPR toh semoga dengan gedung baru semoga kinerjanya lebih baik demi kesejahteraa bersama. Tapi memang ditengah permasalahan negara yang tidak ada habisnya keinginan para wakil rakyat terhormat patut untuk diredam. Setidaknya gedung lama yang ada masih cukup. Toh patut kita hargai gedung tersebut sebagai salah satu icon negara kita. Nah mungkin akan terlihat aneh jika buku UUD negara kita yang sudah sekian tahun bergambar gedung DPR lama diganti dengan DPR baru.

Semisal apakah wakil rakyat kita membutuhkan gedung yang semewah itu ditengah rakyat Indonesia kurang lebih 250juta sebagian masih dalam garis kemiskinan. Kita pasti mempertanyakan dimana hati nurani mereka. Bukankah menurut John locke negara didirikan untuk mensejahterakan rakyat bukan negara. Bisa kita bilang hanya orang yang sombong, egois, dan munafik yang akan melakukan hal itu. Maka tidak mungkin para anggota DPR yang dipilih secara langsung adalah orang yang sombong, egois, dan munafik. Karena ketika mereka kampanye menarik suara mereka berpenampilan baik, memberi senyum kemana-mana, bahkan ada yang menebar uang kemana-mana.

Setidaknya ketika mereka dipilih karena beberapa alasan. Pertama, mereka dianggap sebagai orang pintar. Kedua, orang memilihnya karena berharap akan memberi perubahan terhadap hidupnya. Ketiga, karena program yang ditawarkan memang sangat menggiurkan. Keempat, karena memang mempunyai charisma dan disukai banyak orang. Nah anda termasuk pemilih tipe yang mana. Anda bisa mengoreksi diri anda dan pilihan anda dan menilai apakah sekarang pilihan tepat atau tidak.

Rumah memang termasuk kebutuhan Primer. Wajar semua orang menginginkan rumahnya senyaman mungkin. Tapi toh kita harus berfikir rasional dan wajar. Apalagi para wakil rakyat kita, yang begitu bernafsu membangun gedung baru dengan dana yang cukup wah dengan fasilitas yang wah sudah mempunyai rumha yang mewah pula dari gaji sebagai anggota DPR.

Orang bilang rumahku adalah surgaku. Tapi semoga para wakil rakyat tidak berfikir jabatanku kesempatanku. Mumpung ada kesempatan mari membangun gedung DPR yang mewah agar kita lebih nyaman ada di senayan. Semoga wakil rakyat tidak memjadi aktris karena sering muncul dimedia karena pola dan tingkah laku seperti anak TK. Mengeluarkan berbagai macam kebijakan diluar fungsi dan jabatannya.

Gedung baru bukan salah satu cara untuk membuat anggota dewan bekerja lebih baik. tapi tanggung jawab akan memberi legitimasi yang kuat bukan dengan symbol-simbol semu. Semoga rakyat Indonesia lebih teliti memilih anggota dewan tidak hanya sekedar milih dan yang dipilih adalah koruptor. Ibaratnya membeli sesuatu dalam karung. Tidak tahu apa yang dibeli.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s