Bukan Sekedar Junalisme-Jurnalisme(an)


Judul: Agama Saya Adalah Jurnalisme
Penulis: Andreas Harsono
Penerbit: Kanisius
Cetakan: I, 2010
Tebal: 268

Judulnya sangat menggelitik dan profokatif. Apalagi dinegara yang sudah menentukan 6 agama yang patut dianut, maka di luar enam agama tersebut tidak boleh dijadikan keyakinan. tiba-tiba muncul buku yang berjudul “Agama saya adalah jurnalisme.” Tidak tahu juga apakah judul tersebut mencari sensasi atau kontroversi ataukah sebuah refleksi bagaimana posisi jurnalisme. Tapi melihat pengarangnya adalah andreas harsono yang sudah kenyang dengan pengalaman jurnalisme. Tentunya dengan berbagai pengalamannya tersebut judul tersebut tersebut bukanlah mencari kontroversi atau sensasi.

Dunia jurnalisme menjadi topic yang menarik untuk dijadikan diskusi, bahkan tidak sampai berhenti pada titik itu. Jurnalisme telah menjadi sebuah pengetahuan yang dikaji dan dikembangkan. Dikampus kampus jurnalisme menjadi primadona. Entah itu sebagai arena pertaruhan wacana, atau Cuma sekedar berita. Bahkan untuk tataran nasional jurnalisme tidak hanya sekedar bermain dengan berita tapi telah masuk dalam rana politik sampai menjamah rana bisnis.

Kemapanan jurnalisme bukanlah sesuatu yang mengherankan. Bahkan kalau kita kembali membaca buku sejarah masa silam jurnalisme menjadi sebuah instrument penting dalam perjuangan. Tengok saja dalam buku 100 tokoh pers karangan Daniel dakide, maka hampir sebgaian besar nasional pada waktu itu aktif terlibat dalam jurnalisme. Maka jurnalisme pada waktu itu dikenal sebagai jurnalisme perjuangan. Perjuangan para pejuang dan pelaku jurnalisme sambung-menyambung mulai dari tokoh pra kemerdekaan, kemerdekaan, orde baru, dan sampai zaman reformasi. Dan masing-masing zaman mempunyai cirri khas dan tantangannya masing-masing.

Seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi mengharuskan jurnalisme menyesuaikan diri. Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah menggeret gerbong jurnalisme begitu cepat. Saking cepatnya jurnalisme mengalami banyak transformasi. Tidak hanya dalam peran tapi dalam rana kapitalisme jurnalisme juga mengambil peran.

Inilah Jurnalisme

Setidaknya dalam kecepatan pertumbuhannya ruh jurnalisme tetap Nampak, walaupun terkadang tertutupi oleh kamuflase varian modal dan kepentingan. Dalam tarik ulur antara esensi jurnalisme, modal, dan kepentingan, andreas harsono mencoba memberi deskripsi yang mendalam mengenai jurnalisme. Dalam buku ini, penjelasan yang diberikan tidak menghakimi tapi justru memberi penjelasan yang komprehensif. Artinya tidak menggiring kita pada satu pandangan kemana jalan jurnalisme tapi memberi pilihan kemana jurnalisme harus kita bawa.

Secara garis besar pemikirannya dalam buku ini dipetakan dengan sederhana dan sangat aplikatif. Dengan membagi menjadi tiga tema pokok pembaca akan lebih mudah memahami dan mengerti arah pembahasan.
Pertama, laku wartawan. Setidaknya issu yang sering dipermasalakan dan menjadi bahan diskusi dan seminar adalah code of conduct (kode etik wartawan). Tidak hanya dalam tataran individual dalam institusi pun hal ini sering menjadi perdebatan. Tidak ayal kode etik waratawan tida bisa berlaku efektif. Ditengah itu semua andreas harsono mengemukakan 9 element jurnalisme. 9 elemen tersebut merupakan intisari buku yang dikarang oleh bill kovach dan tom rosenstiel, yaitu kejujuran, kepada siapa wartawan menempatkan loyalitasnya?, disiplin dalam melakukan verifikasi, indepensi, memantau kekuasaan dan menyambung lidah mereka yang tertindas, forum public, memikat dan relevan, berita yang proporsional dan komprenhensif, dan yang terakhir adalah etika dan tanggung jawab sosial. Kesembilan element tersebut merupakan hasil dari pengalaman panjang uda tokoh jurnalisme (bill kovach dan Tom rosentiel).

Kedua, penulisan. Sebagian besar wartawan terkadang tidak mempunyai kemampuan menulis. Padahal ketika proses penulisan berita diperlukan skill menulis untuk mendapatkan berita yang berkualitas. Dengan berita berkualitas pembaca akan lebih mudah memahami, arah dan tujuan informasi akan mudah samapai. Tidak jarang seorang wartawan karena kemampuan menulisnya bermasalah informasi menjadi kabur dan menjerat wartawan pada kasus pidana. Maka skill menulis menjadi bagian penting bagi wartawan.

Ketiga , dinamika ruang redaksi. semua berita yang telah dikumpulkan akan melalui proses cetak maka harus melalui dapur redaksi. nah disinilah kebijakan berita menyangkut apa, isinya apa, bahkan isu yang ditekankan ditentukan. Terkadang berita yang sudah diambil kalau tidak sesuai dengan pimpinan redaksinya bisa di cut. Ruang redaksi memang menjadi bagian penting dalam jurnalisme. Perkembangan dan kualitas sebuah perusahaan media, baik cetak maupun elektronik sangat dipengaruhi kebijakan redaksi. memilih pimpinan redaksi yang salah akan menjadi blunder bagi perusahan media.

Keempat, peliputan. Untuk mendapatkan hasil berita yang berkualitas maka informasi yang diperoleh bagus. Informasi yang baik akan diperoleh dari hasil peliputan yang baik pula. Peliputan yang baik diperoleh dari wartawan yang mempunyai kemampuan reportasi yang baik. maka seorang wartwan harus belajar dan mengetahui proses peliputan. Salah satu yang menarik adalah investigasi, sebuah jurnalisme yang berusaha membongkar atau mengungkap fakta yang sesungguhnya. Namun terkadang wartawan terjebak oleh prosedur investigasi yang salah. Tidak jarang kemudian wartwan terkena kasus pidana gara-gara investigasi, semisal dituduh menyebarkan informasi yang salah (fitnah).

Sayangnya buku yang ditulis oleh andreas harsono hanyalah kumpulan artikel atau esainya. Sehingga tidak memberi penjelasan secara menyeluruh dan utuh mengenai jurnalisme. Walaupun ditulis dari pengalaman empiris dikombinasikan dengan pengetahuan wartawannya buku ini layak anda baca. Karena sebuah pengalaman langsung mengenai praktek jurnalisme akan member pengetahuan yang lebih kontekstual dan subntantif.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s