SMP WAHID HASYIM


Orang menyebutnya bengawan solo. Konon sungai ini merupakan sungai terpanjang dipulau jawa. Sungai yang membentang melewati desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi. Sungai yang menjadi sumber penghidupan masyarakat, terkadang juga merepotkan masyarakat karena sering meluap.

Sudah sering aku merasakan bagaimana ketika sungai ini meluap. Maklum desaku merupakan salah satu desa yang tepat berada disi bengawan solo. Tiap tahun merupakan agenda wajib bengawan solo menginvasi desaku. Maka bagiku ini bukanlah musibah tapi sebuah rutinitas tahunan yang menyenangkan. Aku bisa membuat rakit dari pohon pisang bermain kesana kemari memandangi rumah yang tergenang air sampai tinggal kelihatan gentingnya, tapi ada pula yang hanya tenggelam sampai lantainya saja, termasuk rumahku.

Desaku memang kecil. Dihuni sekitar 500KK. Sebagian besar adalah petani, tapi ada juga yang merantau. Tak tanggung-tanggun Jakarta, Malaysia, merupakan favorit tempat mengais pundi-pundi rupiah. Desa yang terletak di kecamtan laren, kabupaten lamongan, provinsi jawa timur, negara Indonesia. Walaupun desaku kecil aku sungguh mencitainya dan berharap suatu hari nanati bisa tidur tenang selamanya disana.

“allahuakbar Allahuakbar” gema suaraadzan subuh berkumandang. mata yang tadinya tertutup tenangsecara otomatis terbuka. Hati yang damai dalam kondisi tidur sontak bangun. “ayo cepat pergi kemushola nanti ketinggalan” perintah ibuku dengan penuh kasih. Kurapikan tempat tidur, kutata bantal yang berserakan kesan kemari. aku berjalan pelan dengan mata masih setengah merem. Menuju tempat berwudlu. “ayo cepat! Nanti ketinggalan” perintah ibu semakin mendesak. “sebentar bu” cepat cepat aku ganti pakain tidurku dengan baju takwa, celana pendek aku ganti dengan sarung, dan untuk sentuhan terakhir aku pakai mahkota kebesaran “peci.”

Itulah ketika aku mulai menginjak jenjang sekolah SMP. Masa dimana aku harus mulai dengan suasana baru, teman baru, bahkan dengan diriku yang baru. Sebenarnya tidak begitu, semenjak MI aku sudah terbiasa bangun subuh, bahkan terkadang tidak sadar aku bangun jam 2 tau 3. Saking seringnya bangun maka secara otomatis aku sendiri bangun. Bahakan ketika suara adzan berkumandang pada lantunan “allahuakbar” otomatis langsung bangun.

Aku bersyukur tinggal dikeluarga ibuku. Setidaknya ibu member contoh yang baik kepadaku. Bahkan terkadang aku merasa malu jika melakukan hal-hal kecil yang tida berguna dan menyinggung perasaan ibuku. Kalau aku tidak bangun maka ibu akan membangunkanku waktu subuh. Ketika aku tidak bangun maka pasti aku kena damprat. Walaupun hanya sekedar sindiran atau mimic wajah cemberut bagiku seperti pukulan tinju Muhammad ali yang menusuk tajam dalam kapalaku.

Secara harfiah, ibu tidak menuntut aku untuk ini atau itu. yang ibu tahu bahwa ketika anaknya salah maka harus di ingatkan. Bagi ibuku tidak baik ketika anak harus dipaksa-paksa.biarlah dia belajar sendiri. Itulah aku rasakan sampai sekarang. Bahkan sikap ibuku yang seperti itu justru merangsang kesadaranku sebagai anak. Maka secara sadar setiap langkah dan tindak tandukku harus baik, tidak boleh membuat ibuku marah. Sampai sekarang pun aku masih bersikap seperti itu.

**
Pagi itu aku udah siap dengan pakaian rutin. Celana panjang yang sudah using, kaos lengan panjang yang lebih using dari celanaku, ditambah topo using warisan bapakku. Kuambil sabit yang sudah dipersiapkan ibu. Aku bawa karung sedikit besar. sebumnya aku sudah mempersiapkan sepeda jengki buatan china. Ibuku yang dari tadi sibuk di pawon menyiapkan sarapan sudah siap pula dengan pakaian rutin. Setalah siap semua berangkatlah kami kesawah menabit rumput untuk makan ternak.

Kegiatan itu selsai sekitar jam 10 pagi. Buru-buru ibu menyuruh segera pulang kerumah. “ pulanglah duru le kamu nanti kan sekolah” penrintah ibuku. “iya bu, terus siapa nanti yang membantu ibu bawa rumput?” tanyaku. “itu gampang, kamu harus pulang nanti kamu terlambat sekolah.” Aku tidak bisa menolak, maka sejak itu aku langsung pulang.

Dirumah, aku sudah tidak sabar untuk masuk sekolah. Maklum ini adalah pertama kali masuk sekolah SMP. Semuanya serba baru, buku, seragam, sepatu, tas, teman, guru, dan lingkungan. Pasti sangat menyanangkan. Ditambah ada beberapa temanku juga sekolah di SMP yang sama. Jam menunjukkan pukul 11. Karena saking senangnya aku suap siap semuanya. Hati ini seolah tak sabar menunggu. Seperti berharap cemas menunggu adzan dhuhur.

Tepat pukul 11.45 aku mulai melangkahkan kaki dari rumah. Sebelum berangkat, aku tidak lupa untuk berdoa terlebih dahulu. “ya Allah aku berniat kesekolah untuk mencari limu, maka ridhoilah setiap langkah kakiku” itulah doa yang aku ucapkan dalam hati. Selesai berdoa aku usapkan kedua telapak tangan kemukaku dan langsung cabut. Dijalan teman-teman sudah menungguku. Mereka sepertinya juga merasakan apa aku rasakan. Wajah dan tingkah mereka sepertinya sangat gembira.

Siang itu panas sekali. Kami kira-kira 10 orang berangkat bersama menyeberangi Sungari, menelusuri tanggul, dan melewati desa, baru kami bisa sampai disekolah. Dalam hati aku berpikir mampukah aku menjalani ini selama tiga tahun. Tapi aku sadar memang hidup itu harus tegar dan berani. Apapun yang aku alami adalah proses aku menuju diriku yang sesungguhnya.

**
Sesampai disekolah aku sempatkan sejenak membasu muka yang seperti terbakar. Maklum dalam perjalan cuaca sangat panas ditambah aku tidak memakai topi. Debu berterbangan mencari mangsa. Panas yang menjilat-jilat menerpa muka. Pada awalnya aku sangat mengeluh karena aku yang berawakan kulit coklat bertambah hitam. Ya begitulah.

Karena ini adalah awal masuk maka tidak ada kegiatan belajar mengajar. Didalam kelas diisi acara perkenalan walaupun sebelumnya sudah ada MOS. Tapi tidak semua mengingat dengan baik satu-persatu nama-nama itu. dipandu oleh guru kelas kami satu persatu mengenalkan diri. Masing-masing menyebutkan nama dan cita-cita. Termasuk aku. Tapi tiba-tiba ada sedikit berbeda. Teman-teman mendnegar seksam dan hikmat ketika salah satu teman sekelas memperkenalkan diri.

Dia tidak tinggi, kira-kira 165 cm, sama seperti tinggiku. Wajahnya bulat, seperti rembulan. Hidung yang sedikit mancung, mata yang bersinar, dengan bola mata hitam kelam, membuat wajah itu seperti rembulan. Sayang aku tidak bisa melihat bentuk rambutnya, kalau saja rambut itu tampak dan terurai akan semakin menambah cantik dan eloknya wajah itu. dan ketika melihatnya orang-oarng tidak akan bosan-bosannya. Dalam hati aku bertanya-tanya siapa gerangan orang itu. suranya kalem, sikap yang sedikit pemalu. “bangun bro” sura temanku menyadarkan aku dalam lamunan.

Akhirnya hari pertama sekolah berakhir. Bergegas bersama teman-teman berjalan pulang, seperti gerombolan ikan kecil dalam air, dan domba pada rumput, kami begitu kompak dan ramai menelusuri tanggul, meraskan angin bertiup sepoi-sepoi, memandangi daun-daun pisang menari lincah sperti kipas raksasa. Disebalah barat Matahari yang semakin lama semakin meredup, memancarkan cahaya yang indah, membentuk warnah merah diawan. Aliran bengawan yang mengalir deras, menambah jernih mata dan hati. Tanaman jagung, padi yang menghijau, membentang luas seperti padang rumput menambah indah dan senganya hatiku. Subhanallah!

**

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Tiba-tiba aku sudah duduk dikelas tiga. Banyak kenangan yang sudah aku lalui. Galau rasa cinta, bangga karena presatasi, sedih karena luka, bahkan bahagia karena kasih sayang. Aku masih ingat betul dua tahun yang lalu. Bagaimana sosok gadis itu mempesona mataku, otakku, bahkan hatiku. Wajah yang bulat, senyum tipis, dan sedikit tahi lalat yang menghiasi pipinya yang lesung.

Sungguh gadis itu telah menjadi pendorong spriti didalam diriku. Kepintarannya memang bukan omong kosong. Informasi yang aku dengar dari teman-teman yang mengatakan bahwa dia sejak MI sudah sering rangking satu. Kedekatan dan kesukaan guru-guru kepadanya merupakan bukti lain. semua itu menjadi cambuk bagiku. Sepertinya cambuk itu selalau menyayat kuliktu, memukul dengan cepat dan terus menerus untuk bisa mengejarnya bahkan melampuinya.

Rasa persaingan itu masih terasa ketika aku sudah kelas tiga. Bagaimana kita saling berlomba mendapatkan nilai terbaik setiap ulangan, tapi aku memang harus mengakui kepintarannya. Kebanyakan aku selalu kalah. Bukan masalah buatku justru itu menjadi pelecut rasa iri untuk menjadi lebih baik dalam diriku. Aku perlu berbangga, walaupun kelas satu dia yang menjadi no 1 dan aku hanya menempati no 4 tapi kelas dua aku mulai naik sedikit demi sedikit dan akhinrya bisa berdiri dibelakangnya, aku akhirnya bisa meraih rangking 2.
Perdebtanku, perlombaanku, dan rasa puasku ternyata member implikasi lain. “apakah ini yang orang jawa bilang tresno jalaran songko kulino” lamunku. Dalam diam aku hanya menikmati itu semua. Maklum untuk ukuran anak SMP belum mengenal pacaran atau lop-lopan. Ini adalah sebuah perasaan murni suka terhadap seseorang. Tapi aku justru menikamatinya rasa sukaku membuatku semakin bersemangat tidak mau kalah darinya.

Di dalam kelas, aku berusaha sedekat mungkin denganmu. Padahal aku malu dan sangat malu. Aku ini hanya orang yang bisa menyukai dan taidak bisa mengatakan. Cukup dalam hatiku aku merasakan suka. Cukup alam mimpi aku mengatakannya. Di dalam kelas aku berusaha mencari bangku sedekat mungkin denganmu. Dalam dinamika kelas sedikit-sedikit aku curi pandang kewajahmu. Dalam perdebatan sedikit-sedikit aku melawanmu. Ah tapi aku masih ingusan tidak mengenal itu apa “menembak” tidak kenal apa itu “katakana cinta” orang kecil hanya tahu suka. Tapi aku sedikit tahu dari acara-acara televise, melalui tersanjung, cinta paulina, dsb. Mungkin itu pengetahuan kognitif yang aku punya.

Suatu hari ketika pelajaran biologi ada kejadian menarik. “tim coba lihat pak hendro kok selalau dekat denan ndati?” tanyanya sungguh sungguh curiga.
“emang kenapa? Memang dia kan pintar” jawabku sedikit masam.
“ada gossip pak hendro suka lo sama dia”
“gak mungkinlah, mana mungkin. Dia kan guru tahu mana yang baik dan buruk. lagian dia kan uda punya istri. Malah didesaku pak hendro kepala sekolah dan serin ngasih tausyiah, gak mungkin dai berbuat sehina itu.”
“yang namanya cinta tim gak kenal status, umur. Semuana akan dilakukan untuk mendapatkannya. Pokoknya cinta membuat orang tidak waras, tidak realistis!”
Aku hanya termangu sambil melihat kedepan pak hendro mengajar. Memang pak hendro sejak pelajaran dimulai selalu berada didepannya. Bahkan hanya menebar senyum di depan gadis pujaanku. “masak bodoh, gak mungkin pak hendro seperti itu.”

Aku semakin tekun belajar. Semangatku berpacu dengan rasa iri dan cemburu. Berbagai kegitan ekstra kulikuler semkin membuatku sibuk. Oleh teman-teman dan guru sekolah aku dipercaya menjadi ketua OSIS, ketua DKP, dan ketua Kelas. Bukannya aku sombong dan serakah memang ini adalah kepercayaanyang diberikan kepadaku.

**
Waktu ujian semakin dekat dan rasa suka inipun semakin terasa dalam. Hati semakin tersiksa . mulut terasa terkunci. Untunglah hari-hari itu aku bisa mengendalikan diriku. Aku sibukkan dengan les dan latihan soal-soal untuk menempuh ujian. Kira-kira aku membeli beberapa buku pelajaran sebagai teman untuk belajar. Dan aku sangat bersyukur sampai waktu ujian aku berhasil dengan baik. dengan nilai yang cukup memuaskanku.

Ada kejadian menarik sewaku akhirsanah (acara wisuda untuk anak kelas tiga SMP). Entahlah tiba-tiba ada seseorang teman perempuan yang ingin bertemu denganku. Dia mengirim pesan lewat temenku dan ingin bertemu. Aku penasaran siapa gerangan itu. apakah itu perempuan yang menjadi sainganku sekaligus pujaan hatiku. Jatungku berdetak semakin kencang. Aku tidak tahu perasaan apa ini. Tapi semoga harapanku itu benar. Dan seseorang itu adalah “indarwati.”

Aku duduk tenang, sambil mendengar tausyiah dari seorang kiyai. Dari sudut gang muncullah seorang perempuan dengan berpakaian toga. Hiasan make membuat aku tidak mengenalnya. Detak jantung berpacu dengan lankahnya. Semakin dekat dia semakin cepat pula detak jantungku. Oh aku sungguh kecewa ternyata dia bukan indarwati yang aku harapkan. Tapi dia adalah Norma, gadis yang kata teman-teman selalu memandangi aku ketika berada didalam kelas. Dia juga adalah sekretarisku ketika menjabat sebagai ketua OSIS.

“ tim maag ganggu, aku hanya ingin mengatakan bahwa aku suka padamu. Terimakasih” ucapannya jelas, dan berlangsung cepat.
Ah ah ah apalagi ini. Gadis yang aku harapakan tidak mau mengatakan itu malah orang lain yang mengatakannya. Aku berusaha menenangkan diri. Aku bawa diriku untuk membayangkan langkah diriku selanjutnya setelah SMP. Hal itu aku lakukan agar aku bisa menghapus namanya dariku.
“tim lupakan indarwati. Dia sebenarnya uda punya pacar. Dan kamu akan kalah jika tetap akan mengejarnya. Karena pacarnya adalah pak hendro.”

Perasaanku aneh, bayanganku mengenai dia sedikit beruabah arahnya. Bayangan-bayangan ini hanya rasa bertanya “mana mungkin, mana mungkin, dia adalah guruku.” Ah ah aneh aneh saha dunia ini, ternyata tidak hanya orang jahat dab buruk yang bisa melakukan hal yang nyeleneh dan aneh. Bahkan orang baik sekalas guruku pun ternyata terbawa oleh arus cinta. Cinta ternyata memang benar-benar membuat orang melakukan hal-hal yang tidak rasional. Tapi tak apalah, silakan cinta merasuki semua orang tapai sebarlah virus cinta yang menyejukkan bukan menyesakan. Aku pulang dengan menghapus kenangan tentang dia dan aku isi rencana-rencana menyenangkan untuk sekolah baru!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s