BALAIRUNG


Setidaknya kenangan satu tahun itu masih tertanam baik dalam pikiranku. Seperti kebanyakan peristiwa lain dalam hidupku. Rangkaian-rangkaian kejadian itu, yang berjejer rapi dan teratur membentuk narasi cerita jalan hidupku. Jika mengingat satu persatu hati tergelitik rasa haru, sedih, dan gelih. Mungkin juga apa yang aku rasakan juga dirasakan para pembaca. Jika para sastrawan selalu berusaha menciptakan karya sastra yang sempurna, seorang seniman selalau gigih menghasilkan seni tingkat tinggi, maka aku sebagai manusia biasa akan berharap jalan hidupku akan mencapai puncak sebagai manusia sejati, semoga!

Entahlah, tiba-tiba gedung tua nan mega itu, yang didisain berbentuk kotak persegi panjang selalu muncul dalam pikiranku. Gedung tua yang menjadi kebanggaan salah satu universitas terbaik di Indonesia. Dengan gaya klasik, berlantai tiga, dengan dasar lantai keramik kuno semakin menambah kesan klasik dan romantic. Pepohonan yang rimbun, mengelilingi taman, menambah suasan segar dan asri ditengah panasnya kondisi cuaca panas kota Jogjakarta. Muda-mudi yang asyik duduk-duduk bercanda, berdiskusi, dan berlai kecil semakin membuat hati betah.

Perlu pembaca ketahui juga, di gedung ini pula dulu kisah Novel cintaku dikampus biru karangan bang hadi siregar difilmkan. Film itu menambah kesan romantic dan klasik terhadap gedung tersebut. Jika pembaca ingin merasakan romantisme gedung ini silakan datang sendiri.
***
Ah ah tuhan memang sang disanair terbaik diseluruh jagad. Semua yang ada didunia ini adalah hasil dari karya-Nya. Manusia hanya perantara maka tidak patut manusia mengklaim dan bersikap sombong dengan karyanya.

Angin semakin bertiup kencang, membawa kesegaran alami yang tak kalah dengan mesin modern AC. Mengipas-mengipas dari arah barat dan timur. Sesekali berhenti dan bertiup lagi. Suara dedaunan yang gemerisik, dan tangkai pohon yang bergoyang lunglai menghasilkan paduan suara yang tak kalah dengan orchestra. Cahaya matahari yang tertupi pepohoan sesekali terlihat indah seperti lampu bioskop.

Dengan posisi sedkit membungkuk aku rebahkan kepalaku diatas meja yang berdisain bulat dan tangkai payung ditengahnya menambah kesan romantic. Aku tak tahu kenapa tiba-tiba aku datang ketempat itu. Serasa hati ini terpanggil dan berjalan sendiri, mengikuti mata hati yang memberontak, memaksa aku untuk mengais kisah-kisah yang sepertinya tidak akan pernah terhapus dalam ingatanku.

“lagi apa khotim” pertanyaan singkat tapi membuat diriku kaget dan diam sejenak. Tidak seperti biasanya, dia yang aku kenal adalah wanita muslimah yang selalu menjaga diri, jarang memperlihatkan ekspresi berlebihan ketika berjumpa teman sejawat. Sikap seperti itu wajar. Sebagai lulusan pondok pesantren dia tahu sebatas apa pertemanan antara dua manusia yang berbeda kelamin apalagi hubungan darah. Bagaimana cara bergaul yang sopan sesuai dengan diajarkan agama. Tidak seperti jaman modern sekarang. Pergaulan yang semakin semaunya sendiri, etika dan moral yang semakin dipinggirkan.

“biasa ning nyantai dirumah sambil bantu ortu mengecat rumah” balasku.
“kapan balik kejogja?”
“mungkin awal agustus” jawabku.

Tidak tahu mengapa percakapan singkat melalui sms itu sungguh berkesan dan melekat tajam di hati. Aku yang tadinya nyantai tanpa ekspresi tiba-tiba sumeringah. Hati terasa terbangunkan oleh dorongan suka dan cinta. Niat hati yang ingin lama tinggal dirumah tiba-tiba mendadak ingin segera kembali kejogja. Hahahahaha apa ini perasaan cinta yang sering aku dengar dan lihat di TV atau dalam novel cinta yang selama ini aku baca.

Hati semakin gelisa, setiap detiknya tersa lama, ruangan terasa sempit, sesekali duduk dan berdiri, jari-jari seolah bergerak sendiri memencet tombol HP. Sesekali mata menengok layar HP, mengharapkan HP berbunyi dan ada SMS yang masuk. Aku seolah terpenjara dalam rumahku sendiri, dalam kamarku sendiri. Dalam hati aku yakinkan hati bahwa ini hanyalah nafsu, godaan. Aku yakin bahwa dia adalah sahabatku, teman kuliahku, aku tidak boleh bertindak ceroboh dengan mengatakan cinta kepadanya. Persahabatan sudah cukup buat kita berdua dan tentunya untuk teman-temanku yang lain.

Memang hatiku terlalau rapuh, pergolakan hatiku dimalam itu sungguh perjuangan yang berat dan yang menang adalah aku ingin menjadi pacarnya dan aku harus bisa mengubah dia. Di malam itu pulah aku memutuskan diri untuk segera berkemas dan kembali pulang kejogja.

Orang tuaku sedikit kaget karena aku mendadak memutuskan untuk kembali besok pagi, tapi aku berasalan bahwa aku harus mempersiapkan diri termasuk administrasi kuliah jadi aku harus balik lebih awal. Orang tuaku yang tidak tahu apa-apa tentang dunia kampus dan kuliahku hanya mengangguk dengan wajah sedikit murung seolah tidak rela. Malam itu segera aku siapkan segala sesuatunya untuk aku bawa kejogja.
***
Berising suara motor dan mobil silih berganti menghampiri kupingku. Sesekali kuputar lantunan lagu dangdut lewat HP untuk mengusir suara bising itu. Entah apa yang terjadi denganku. Tak terasa perjalanan selama 7 jam tersebut tidak terasa. Kota demi kota aku lewati dan kota-demi kota pula aku pandangi. Sepertinya otak ini hanya berpusat pada satu titik. Tangan tak henti-hentinya memencet tombol HP. Sesekali aku senyum dan tertawa sendiri dengan HP. Mungkin orang akan merasa aneh ketika ada didekatku. Tapi sekali lagi entah apa yang ada dalam otakku?

“ketika nanti sampai dijogja, aku akan segera ingin bertemu dengannya. Dengan segenap keberanianku dan kata-kataku aku akan ungkapkan. Walaupun engkau tidak mesti menerimanya, atau bahkan engkau akan menceramai aku. Dan aku yakin engkau adalah bukan wanita biasa. Seperti wanita-wanita yang selama ini aku kenal. Engkau yang aku kenal adalah wanita yang memegang prinsip. Prinsipmu yang tidak akan pacaran dan aku tahu itu.” itulah lamunanku selama perjalanan.

Tak terasa aku sudah harus berganti bus. Suara kondektur yang keras dan tegas membangunkanku dari lamunan. Orang-orang bersesakan saling mendahuli ingin segera keluar dari penjara bus. Tidak terkecuali aku. Di samping jalan temanku yang sedikit gelisah sudah siap mengangkutku. Mungkin dia terlalu lama menunggu kedatanganku. Maklum menunggu adalah kegiatan yang paling membosankan.

Di kamar kosku aku tak henti berkomunikasi dengan SMS. Sebisa mungkin aku harus bisa menyenangkannya. Atau bahkan ketika dia meminta bantuanku aku akan siap selalu. Bahkan untuk bantuan yang aku tidak mungkin melakukannya akan akan membantunya. Walaupun nanti tidak tahu harus pakai cara apa saja. Maka setiap hari aku harus selalu siap untuk membantu, seperti tukang ojek yang selalau menunggu penumpang dan siap selalau untuk mengantar.

Sebagaimana kesepakatan kita. dia kembali kejogja sama dengan aku. Bedanya dia yang berasal dari pasuruan tidak bisa bersama denganku. Tapi tidak apalah mungkin waktunya belum tepat. Lewat SMS pun bagiku sudah cukup, malah lewat SMS aku lebih bisa mengungkapkan perasaanku dan seperti lebih bebas. Hehehehehehe

Akhrinya kesempatan itu mulai terbuka dan aku bisa merasakan dan melihatnya. Lewat SMS aku mulai berani blak-blakan. Walaupun aku jujur mengakui bahwa aku masih belum bisa mewujudkan impianku untuk terbuka dengannya. “ning jujur saja aku suka ma pean” tanyaku. “khotim aku gak suka pean ngomong gitu” jawabnya lewat SMS. “iya ning aku tahu pean pasti ngomong kayak gini, tapi aku tidak mau membohongi perasaanku sendiri, aku terlanjur suka ma pean.” Aku terus bergerilya. “iya khotim aku tahu. Aku juga suka pean tapi bukan suka perasaan, tapi perjuangan dan kegigihan sampean.” Jawabnya semakin kukuh dan menegaskan bahwa janganlah sampai kita terbwa gaya pergaulan modern.

Ya ya, memang susah untuk menaklukkan wanita sepertimu. Kau hidup dalam lingkungan keluarga yang kolot. Tidak mengenal gaya pergaulan modern (pacaran). Ditambah tiga tahun dipondok yang memaksamu dan mengajarimu nilai-nilai agama. Mengisi otakmu dengan aturan ini dan itu, termasuk bagaimana cara bergaul. Dan aku pernah mendengar dari mulutmu sendiri tidak akan pacaran seumur hidup. Bagiku itu sebuah karang besar yang harus aku robohkan dan hancurkan. Mengenalkan padamu kihidupan yang lebih luas dan bermakna. Pacaran itu bukan hal yang salah kalau kita berpegang pada agama dan tahu batas-batasnya.
“ning besok kita bisa ketemu gak dibalairung? Aku ingin ngomong sesuatu.” Tanyaku semakin mendesak. Ya ya, emang kalau rasa suka sudah meracuni hati inilah rasanya. Selalau berfikir bagaimana bisa dia jadi milikku, padahal aku sudah sering mendengar cinta tidak harus memiliki. Bahkan ada yang bilang pacaran sejati adalah setelah menikah. Entahlah aku asyik hanyut dalam perasaan. “iya khotim besok kita ketemu dibalairung.” Jawabnya.

Malamnya aku merasa gelisah, apa yang harus aku katakana besok. Apakah aku harus langsung ngomong terus terang kalau aku suka? Ah itu terlalu cepat, dia pasti akan menolak. Ah besok langsung saja ketemu, kata-kata itu pasti datang sendiri. Aku penjamkan mataku dan berlahan mulai tidur setelah aku kirim SMS “met tidur ning.”

Cinta-cinta karenamu orang yang tadinya gagah menjadi pecundang. Orang yang rasional menjadi tidak rasional. Entah kamu ini makhluk seperti apa, tapi faktanya engkau telah menulis sejarah yang luarbiasa. Bukankah salah satu factor napoleon turun tahta karena factor perempuan, dan masih banyak lagi. Itulah sepetinya yang engkau tularkan kediriku. Aku yang biasanya bangun jam 8 pagi, tiba-tiba harus bangun jam 3 malam hanya sekedar membangunkannya dan mengajaknya sholat. Padahal aku mulai jarang bangun jam 3. Semoga ini awal positif tidak hanya sekedar mencari perhatian.

“mas bangun.” Tiba-tiba ada suara yang berbisik ditelingaku. Ah ternyata satpam balairung yang membangunkanku. Dana kut tak sadar bahwa aku sedang tertidur. Para satpam mengira aku pingsan atau mungkin aku stress. “iya, mbak maaf ada apa ya?”
“saya kira anda pingsan.” Jawabnya.
“enggak kok mbak. Udara yang sejuk disini membuat aku terasa nyaman dan tertidur.”
“yaudah maaf yam as.”
Dalam hatiku bergumam “mbak satpam ni ganggu saja, wong orang lagi asyik mengenang masa romantic malah dibangunin.”

Ya tapi aku patut berterimakasih. Karena aku tidak jadi mengingat waktu itu. biarlah itu menjadi kenangan pribadiku. Sebuah peristiwa dimana aku bisa menaklukkan perempuan yang dikenal tegas pintar dan memegang prinsip. Aku hanya bisa senyum manis didalam hati. Balirung, engkau memang berkenang di hatiku. Tidak salah memang novel bang hadi “cintaku di kampus biru” dan aku mungkin menjadi orng kedua yang menjadi pelaku cintaku dikampus biru. Aku akan mengenangmu, dan suatu saat nanti semoga bisa kembali bersama anak dan istriku. Aku akan menceritakan kepada mereka cintaku dikampus biru.
tamat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s