Komersialisasi Bencana

Mengherankan dilokasi penampungan korban meletusnya gunung merapi berbagai sepanduk terpampang. Mulai dari spanduk partai politik, produk makanan, aktifis LSM, organisasi keagamaan. Seolah sedang berlangsung sebuah kompetisi anatara para LSM, pemerintah, partai politik, dan organisai keagamaan.
Seolah kita tidak pernah berfikir dan belajar. Dari sekian banyak bencana yang telah melanda negeri ini dengan segudang pengalaman yang seharusnya juga sudah menumpuk. Pastilah semua pihak sudah sudah siap, baik pemerintah maupu masyarakat dalam penangan bencana. Justru sebaliknya, penanganan bencana masih menjadi persoalan.

Ada beberapa catatan mengenai peran pemerintah, LSM, maupun masyarakat. Peran ini terkadang melenceng dari yang seharusya. Pertama, pemerintah dalam hal ini sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap penangan bencana seharusnya punya langkah yang strategis dan jangka panjang. Langkah strategis adalah bagaimana pemerintah dengan data yang sudah ada membangun sistem tanggap bencana. Artinya pemerintah sudah membangun berbagai jaringan yang nantinya selalu tanggap dan siap seaktu-waktu jika bahaya datang. Baik secara logistic maupun non-logistik. Termasuk menyangkut masa depan pengungsi setelah proses pengungsian.

Langkah strategis lainnya adalah bagaimana pemerinatah dengan legalitas bisa mengakomodasi berbagai LSM atau element masyarakat untuk bekerja bersama dalam menangani para korban bencana. Contohnya, bagaimana menjamurnya institusi politik, LSM, dan orgaisasi keagamaan yang terkadang tidak terkoordinasi. Yang seharusnya membantu malah membikin masalah baru. Anatara institusi yang satu dengan yang lain tidak ada kerjasama.

Yang paling penting adalah program pemerintah merupakan program jangka panjang. Para korban bencana tidak hanya butuh logistic ketika mereka dalam masa pengungsian. Tapi mereka juga butuh kejelasan ketika mereka selesai dalam masa pengungsian. Hal ini yang seharusya pemerintah pikirkan dari awal. Terutama ketika sebuah bencana yang memang sudah diprediksi maka seharusnya pemerintah mempunyai langkah penangan yang berjangka panjang. Karena kalau tidak seperti itu akan menjadi permasalahan baru ketika masa pengungsian selesai. Misalnya warga yang hartanya sudah hilang semua maka akan terjadi penambahan kemiskinan. Kemiskinan itu akan menjadi sumber permasalahan baru.

Kedua, seharusnya LSM bisa berfungsi sebagai mana mestinya, yaitu bisa mengkafer semua apa yang tidak bisa pemerintah kafer. Kita tidak bisa mengesampingkan bahwa dalam setiap bencana LSM mengambil peran penting disamping pemerintah. Melalui LSM banyak bantuan yang bisa dikumpulkan, banyak relawan yang bisa membantu. Dalam artian LSM menjadi actor untuk mempercepat pemulihan korban bencana.

Namun ada catatan. Pengalaman menunjukkan bahwa sebagian besar LSM malah menimbulkan banyak permasalahn baru. Misalnya, bantuan yang sejatinya kalau bisa di kafer dalam satu komando banyak yang menumpuk di berbagai LSM. Padahal LSM pun belum tentu mempunyai data yang pasti. Sehingga banyak bantuan yang tidak tepat sasaran melalui LSM. Tidak jarang juga, banyak LSM membawa kepentingan kelompok. Akibatnya tidak ada kerjasama antara LSM yang satu dengan yang lain. akibatnya banyak program yag salig berbenturan.

Ketiga, masyarakat hendaknya memandang becana sebagai bencana bersama. Ini menunjukkan bagaimana rasa empati kita terhadap saudara kita yang sebangsa. Bentuk empati ini bisa bermacam-macam. Bagi kita yang jauh maka partisipasi kita bisa berbentuk 2 macam. Bagi kita yang kaya dan mampu seharsunya kita tidak segan menyumbang harta sedangkan bagi kita yang ekonomi biasa rasa empati dan do’a merupakan hal yang terbaik. Bagi masyarakat yang dekat dengan bencana bisa menyediakan tempat, tenaga, bahkan kalau berpunya bantuan logistic menjadi wajib untuk memberi.

Pemerintah, LSM, dan masyarakat hendaknya bisa bekerja bersama dan saling melengkapi. tidak hanya memetingkan posko masing-masing, berlomba menjadi yang paling eksis. Kalaupun kita niat membantu dengan tulus eksistensi itu akan datang. Para korban tidak butuh eksistensi pemerintah atau LSM tapi mereka butuh batuan untuk mengatasi kesulitan mereka.

Semoga tidak terjadi lagi, bencana bukan ajang untuk promosi produk, bukan ajang kampanye, bukan ladang dakwa, bukan ajang bersaing untuk eksis, dan bukan ajang mencari pencitraan. Tapi ajang dimana kita menunjukkan rasa empati dan tolong menolong untuk sesama. Bukankah itu tujuannya, kalau samapi melenceng, kita memang sugguh-sungguh tidak dewasa-dewasa dan tidak pernah belajar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s