Mengenang Jalan Raya-Anyer Panurukan


Judul : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit:Lentera Dipantara
Cetakan: 7, Maret 2009
Tebal:147 halaman
Sepertinya kata-kata Jasmerah tak kan pernah hilang dari ingatan, tapi aneh memang. Kata-kta itu seolah lenyap tidak ada arti ketika melihat realitas. Bukannya bangsa yang besar adalah bangsa yang mengetahui dan faham sejarahnya sendiri. Namun dengan pelan tapi pasti banyak artefak dan dokumen seajrah yang tidak terurus bahkan tidak terdokumentasi. Itulah sepertinya yang terjadi pada Jalan Raya Pos (anyer- panurukan).
Tidak banyak orang yang perduli dengan sejarah atau bahkan tahu dan faham bagaimana jalan tersebut di bangun. Bagaimana mau ingat, Negara saja hanya diam dan tidak ada usaha untuk mengenangnya atau bahkan membuatkan museum. Mungkin juga banyak yang hanya sekedar tahu namanya saja dan sebatas melintasinya, baik untuk keperluan tamasya, berbisnis, tau sekedar menikmati pemandangan alam sepanjang jalan raya tersebut.

Itulah sepertinya yang tertuang dalam curahan hati seorang Pramodya Ananta Toer. Dengan data-data serta kenangan dimasa lalu ketika masih senang melakukan petualangan. Pramodya yang merupakan salah satu maestro sastra nasional menuangkannya dalam buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Tidak berbeda dengan buku-buku karyanya yang lain, Pram dengan segala kelebihan dan kekurangannya (justru itu kelebihannya) mendeskripsikan dan menjelaskan dengan gaya bercerita.

Genosida

Pernakah ada yang tahu kenapa di buat jalan raya pos, ataukah ada juga yang tahu berapa pekerja yang dipekerjakan? apakah ada yang tahu juga jumlah korban yang telah mejadi tumbal dibalik kemegahan dan kebesarannya? Sepertinya referensi yang selama ini kita terima hanyalah bahwa jalan raya pos dibangun hanya untuk memperlancar Negara kolonial Belanda mempertahankan Negara Hindia Belanda dari serangan Negara sekutu bersama tidak lebih. Pengetahuan yang hanya bersifat substansial itu ternyata hanyalah bagian kecil dari peristiwa besar dalam pembangunan jalan raya.

Setidaknya Pramodya mengatakan bahwa pembangunan jalan raya memang dibangun untuk mempertahankan Negara colonial hindia belanda. Dibalik pembangunan tersebut ternyata banyak fakta yang tidak pernah ditulis dan dikomunetasikan. Dengan kemampuannya yang di dukung dengan data-data pramodya menjelaskan pembangunantersebut dari anyer samapia panurukan. Sebagaimana cirri khasnya, pramodya memperindah tulisannya dengan fakta-fakta diluar permaslahan tapi menyangkut kondisi social budaya masyakat yang menjadi koraban.

Setidaknya ada dua hal yang perlu kita fahamai. Pertama, pembanguna jalan tersebut sebelumnya sudah ada, oleh herman William daendels atas inisiataifnya sendiri jalan tersebut dilebarkan 7 meter. Kebijakan daendelsa dirancang berdasarkan pengalamnya ketika melakukan perjalanan dari anyer ke semarang. Pada kelanjutannya daendels membebankan pembanguna itu kepda setiap bupati yang daerhanya dilewati. Sudah pasti yang kemudian yang menjadi korban adalah rakyat pribumi melalui bupati.

Kedua, selama ini tidak ada data yang pasti berapa korbang yang telah menjadi tumbal pembangunan jalan raya pos. jika kita menilik data hasil dokumentasi inggris selama rafles memeritah tercatat korban berjumlah 20.000. namun kita patut kritis bahwa data tersebut hanya taksiran dan pembulatan saja. Inilah yang kemudian dikatakan oleh pramodya sebagai genosida.

Yang pasti pembanguna jalan raya pos anyer panurukan telah menjadi kuburan terbesar dinusantara yang untuk saat ini tidak ada arsip atau momunennya. Padahal seharusnya bangsa ini kalau mau lebih bijak bisa mendirikan museum atau monument peringatan untuk mengingatkan kepada anak cucu dan generasi mudah akan kekejaman daendels.

Semoga bangsa ini tidak menjadi bangsa yang tunasejarah. Lupa akan dimana dia lahirkan, dan siapa yang melahirkannya. Buku ini patut mendapat apresiasi guna mengenang kekejaman akaum imperialism. Mengenang kembali puing-puing, artefak-artefak yang telah dikorbankan dan digunakan membangun bangsa ini yang sampai sekarang bisa kita nikmati. Yang bagi anak cucu kita nantinya sebagai pelajaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s