Keluar dari Dominasi dan Hegemoni

Judul: Teori Pembangunan dari Kiri ke Kanan
Pengarang: Kevin P. Clements
Penerbit: Pustaka Pelajar
Cetakan: II, November 1999
Halaman:ix+101
Peresensi: Muhammad Khotim
Flashback kemasa lalu maka akan terhampar sebuah fakta sejarah menarik bahwa Negara-negara Asia dan Afrika merupakan Negara yang menjadi jajahan Negara-negara Barat. Ujung-ujungnya faktor yang menjadi pendorong adalah faktor Sumber Daya Alam. Atau bagi kita yang pernah belajar sejarah maka pendorong bangsa-bangsa kulit putih datang ke Asia dan Afrika adalah, Gold, Glory, dan Gospel. Karena ketiga hal itulah bangsa kulit putih berlomba-lomba datang ke Asia dan Afrika.

Untungnya kesadaran bangsa-bangsa Asia dan Afrika bisa membangkitkan mereka bahwa mereka dalam penjajahan bangsa kulit putih. Dimulai dengan pengaruh radiasi kemenangan Jepang atas Rusia menbangkitkan nasionalisme bangsa Asia Afrika. India dengan Mahatma Gandhi berhasil memerdekaan India dari penjajahan Inggris, Afrika Selatan dengan Nelson Mandela berhasil membangkitkan rakyat Afrika Selatan, tidak terkecuali dengan Indonesia berhasil memerdekakan diri dari Belanda, Jepang , dan Inggris. Namun apakah benar Imperealisme Negara-negara Barat telah berakhir? Atau justru kita masih dalam Imperealisme baru Negara-negara Barat.

Kita patut kritis mengenai Imperialisme, walaupun sekarang adalah zaman modern. Setiap Negara mendeklarasikan kemerdekaan dan kebebasan. Imperialisme dan kolonialisme hanyalah cara primitive. Tidak relevan dengan konteks zaman sekarang. Faktanya Negara berkembang tidak jauh berbeda ketika dalam penjajahan. Walaupun Sekarang Negara-negara berkembang belomba-lomba membangun negaranya masing-masing. Melakukan pembangunan disegala bidang untuk mencapai kesejahteraan.

Kevin C. clement dalam buku ini dengan jelas memberikan analisis dengan memakai sudut pandang teori pembangunan. Baginya Negara-negara ketiga (Asia dan Afrika) tidak jauh berbeda ketika masih dalam masa penjajahan, yaitu mereka masih dalam keadaan miskin, dan kelaparan. Menariknya Negara-negara maju berlomba-lomba mengembangkan teori-teori yang berusaha diterapkan untuk memajukan Negara-negara berkembang. Namun sebaliknya justru yang terjadi Negara tidak berhasil memajukan perekonimian bermisi mensejahterakan masyarakat. Justru yang menjadi sejahtera adalah golongan elit dan ningrat. Akibatnya kesenjangan antara kaya dan miskin semakin tajam.

Negara berkembang dalam pembangunan menggunakan teoeri-teori yang diadopsi dari negara-negara barat. Kenapa harus teori yang dikembangkan barat? Karena sampai sekarang negara-negara barat berhasil membangun pondasi perekonomian mereka yang kuat. Tidak ayal negara-negara berkembang mengadopsinya. Pengguanaan teori barat juga tidak lepas dari uda hal.

Pertama, karena toeri-toeri pembangunan merupakan alat yang pas untuk melakukan legitimasi kebijakan-kebijakan ekonomi. Kebijakan yang diambil berbasis pada rasionalitas teori akan lebih mudah diterima. Tidak heran banyak negara-negara berkembang mengeluarkan kebijakan selalu diawali dengan klaim-klaim teoritis. Kedua, berbagai macam permasalahan yang dihadapi oleh negara berkembang terlalu kompleks difahami. Untuk itu pemikiran teoritis lebih komprenhensif untuk menjelaskan dan memberikan solusi.

Keberhasilan negara-negara barat tidak lepas dari teori-teori yang mereka kembangkan. Tidak ayal teori tersebut mereka gunakan untuk melakuakn hegemoni dan dominasi. Teori dalam pandangan ini bisa kita lihat dalam dua fungsi yaitu teori berhasil menjadi alat legitimasi dan menjadi alat yang tepat untuk menjawab berbagai macam permasalahan.

Selama ini barat mengklaim bahwa teori pembangunan yang paling tepat diterapkan agar dicapai kemajuan adalah teroi neoklasik. Teori tersebut membawa semangat perdagangan bebas. Dengan menswastanisasi maka sumberdaya alam akan lebih efektif dan efisien baik dalam penggunaan maupun pengelolaan. Campur tangan pemerintah dianggap akan menjadi penghambat kemajuan.

Namun, ternyata pada masa paerang dunia I dan II negara-negara di dunia mengalami krisis. Kejadian tersebut membuat para pakar ekonomi memberikan analisis dan teori baru. Maka munculnya teori srukturalis. Teori ini lahir sebagai reaksi terhadap toeri neoklasik yang dianggap gagal membawa kemajuan terhadap negara-negara berkembang dan tidak memberi jawaban yang komprehensif kenapa hal itu bisa terjadi.

Kemunduran yang dialami negara-negara berkembang dianggap karena adanya strukur yang menghambat. Semisal struktur birokrasi yang terkadang rumit menyulitkan pengusaha dalam mengembangkan usahanya. Birokrasi pemerinah yang terkadang memprioritaskan pengusaha-pengusaha tertentu akan menciptakan pusat-pusat monopoli oleh perusahaan besar. akibatnya usaha kecil tidak bisa berkembang. Unuk itu pemerintah harus bertindak unuk mengatasi masalah atau hambatan tersebut. Namun pada teori strukturalis semangat yang dibawah tetap sama dengan teori neoklasik, yaitu pembangunan ekonomi tetap harus dibebaskan dari campur tangan pemerintah bedanya pemarintah mengambil peran untuk membuat kebijakan yang itu sifanya terbatas salah satu tujuannnya adalah supaya distribusi modal bisa merata.

Memang buku ini tidak memberikan jalan keluar mengenai teori yang paling ideal untuk diterapkan tapi dengan memberikan analisis mengenai kelemahan dan keunggulan mengenai teori neoklasik dan strukturalis kita dihadapkan pada pilhan-pilihan. Mana yang tepat untuk kita terapkan atau kita aplikasikan. Karena setiap teori ternyata tidak bisa diterapkan untuk semua negara.

2 thoughts on “Keluar dari Dominasi dan Hegemoni”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s