Senandung Cerita Remaja Desa

“Hai Tim darimana? badanmu kotor sekali” seorang teman menyapa dengan penuh semangat. “Habis dari sawah bantu bapak, mumpung masih dirumah” jawabku dengan suara lirih agak sedikit malu. Memang hari ini aku menyempatkan diriku untuk membantu bapak di sawah. Seperti orang desa pada umumnya bapakku adalah seorang petani. Setiap hari kesehariannya pergi kesawah. Terkadang bapak mengajak kami sekeluarga kesawa. Ya, mau tidak harus bekerja di sawah sebagai sumber penghidupan.

Setelah menyapa tiba-tiba temanku mengajak aku duduk. Tubuhnya tegap, dengan rambut sedikit gondrong, mata yang tajam dengan bola mata hitam. Hidung nya agak lebih sedikit ketimbang orang Indonesia pada umumnya. Kami berdua pulang dengan santai mencari tempat duduk yang nyaman. Seperti seorang kekasih kami mengobrol begitu akrab, suara kecil tawa keluar, tangan sedikit jahil saling mencubit, bahkan kami tak segan untuk saling melempar senyum. Namun disini kami bukan muda-mudi yang sedang kasmaran tapi soerang teman lama yang sudah lama tidak bertemu. Wajar jika kemudian kami saling bersikap layaknya orang yang sedang kasmaran.

“Tim enak sekali ya kamu bisa kuliah. Bisa mengejar gelar sarjana yang diidam-idamkan oleh setiap orang. Apalagi kamu bisa kuliah di UGM yang terkenal itu” gerutu temanku sedikit iri. “Iya, aku harus harus banyak bersyukur bisa kuliah. Tapi bagiku tidak penting gelar sarjananya tapi ilmu yang aku dapat” jawabku dengan sedikit lantang. “Tapi kamu juga enak bisa pergi keluar negeri. Aku aja belum pernah, berarti lebih hebat kamu” gumamku sedikit menjunjungnya. Sore itu memang menjadi sangat indah dan berarti.

Kami berdua memang teman akrab semenjak kecil. Maklum, kami sudah satu atap di bangku sekolah, bahkan sudah hampir 12 tahun. Tiga tahun di TK, 6 tahun Madrasah ibtidaiyah, dan 3 tahund di SMP. Apalagi tempat tinggal kami masih dalam satu desa. Keseharian kamu selalu kami habiskan bersama. Bahkan ketika kami masih merawat sapi, menyabit rumput menjadi kegiatan rutin yang kita kerjakan bersama.

Sebagaimana pepatah katakan dimana ada pertemuan pasti sisitu ada perpisahan. Setelah hampir 12 tahun menghabiskan waktu bersama takdir tuhan pun memisahkan kita secara fisik maupun peran. Setelah lulus SMP kami menempuh jalan yang berbeda. Aku sendiri malanjutkan ke SMA yang katanya dibilang Favorit sedangkan dia melanjutkan di SMA di daerahku sendiri. Semenjak itu kita jarang bertemu selama tiga tahun. Bahkan setelah tiga tahun selesai SMA kita pun belum sempat untuk bertemu.

Percakapan kami pun semakin intim. Romantisme masa lalu memancing kami untuk saling berbagi cerita. Sebuah penggalan cerita yang menjadikan kami terpisah dan menentukan jalan kami berdua. Disinilah cerita-cerita inspiratif kami bagikan. “Tim, sebenarnya aku sangat iri kepadamu. Sejak kecil aku sudah punya cita-cita untuk kuliah tapi sekarang malah bekerja” ujar temanku. “setiap orang punya takdir masing-masing mungkin kamu ditakdirkan untuk bekerja dan membantu orang tuamu sedangkan aku ditakdirkan untuk bisa sekolah lagi” ujarku.

Secara perekonomian kita memang hampir sama. Orang tua kami sama-sama petani. Kalau di hitung-hitung untuk menempuh jenjang SD-SMA bisa tergolong mampu, tapi kalau untuk pendidikan tinggi itu mustahil. Setelah lulus SMA kami menempuh jalan masing-masing. Temanku dengan segala keterbatasannya memutuskan untuk menjadi TKI ke malaysia. Sedangkan aku dengan segala karunia dan nikmat yang di berikan Tuhan bisa melanjutjan kuliah ke UGM.

Temanku ini memang mempunyai rasa bakti yang besar. Sejak kecil sudah sering membantu orang tua. Pergi kesawah membantu membajak sawah, mencari rumput untuk makan sapi, bahkan sekedar menyapu halaman rumah dia kerjakan. Maklum lingkungan desa yang kami tinggali sangatlah penuh nilai-nilai adat dan keagamaan.

Soal keahlian temanku ini bisa dibilang paling beruntung. Karena lebih dibanding dengan teman-teman yang lain. Salah satunya adalah keahlian mencari rumput. Maklum sebagain besar kita adalah petani, untuk menambah penghasilan maka ditambah dengan pekerjaan sampingan merawat ternak sapi. Karena itu sejak kecil kami sudah terbiasa mencari rumput.

Di pagi buta kami siap dengan seragam lengkap, dengan baju agak usang dan terlihat kusut, sepeda yang terlihat gagah, dengan karung yang telah siap terikat di sepeda, kemudian meluncur ke medan pertempuran. Setiap mencari rumput bersama-sama pasti dia yang paling pertama selesai. Keahliannya itu membuat orang tuanya sangat senang, bahkan orang tuaku tidak segan untuk memujinya. Bahkan dianatara emanku dia dijuluki sebagai propesor aret . Terkadang terbesit rasa iri dalam hati, seandainya aku bisa ahli dalam bidang ngarit-mengarit pasti orng tuaku sangat senang sekali. Tapi itulah dia temanku yang rajin, giat, dan pekerja keras.

Sedangkan aku dimata teman-teman seorang yang pendiem, cenderung sebagai anak rumahan yang patuh terhadap orang tua. bahkan kutu buku telah dilekatkan pada diriku. Tidak pandai dalam hal mencari rumput atau sekedar permainan layang-layang, maupun kelereng. Bahkan untuk membantu orang tua bekerja disawah pun aku tidak pernah. Bukan karena tidak mau tapi orang tua yang tidak membolehkan karena aku dianggap masih belum mampu. Padahal dalam hati niat sekali bisa membantu dan belajar.

Setelah lulus SD kami berdua melanjutkan ke sekolah SMP yang sama. Namun tidak ada hal yang sangat berkesan kecuali saat kami bersama-sama dalam kegiatan ekstra sekolah. Waktu itu kami bersama-sama masuk ekstra volly dan sepak bola. Alhamdulillah kami termasuk siswa yang aktif dan dipercaya oleh platih untuk masuk dalam tim inti. Namun tidak seperti temanku aku lebih di percaya sebagai penyeimbang tim, sedangkan temanku dipercaya sebagai penyerang dan pendulang poin. Baik ketika bermain voll maupun sepak bola.

Untuk sampai disekolah (SMP) kami perlu perjalanan 45 menit jalan kaki. Sekolah dengan desa dipisahkan oleh sungai bengawan solo. Untuk bisa sampai maka kami harus menyeberang sungai. Kemudian dilantujan berjalan menelusuri tanggul bengawan solo sepanjang 1 km lebih. Sebagaimana dua sisi mata uang, perjuangan untuk sekolah kami pun merasakan susah senangnya. Susahnya ketika musim panas kita seolah dijemur sepanjang jalan, ketika musim hujan, kami harus rela mencincing sepatu sekedar agar tidak basa.

Tak terasa kami sudah mengobrol cukup lama. Ingatan yang terbang melayang membwa kami pada ingatan romantisme perjuangan di SD/SMP. “tim, rasanya aku kangen dengan masa-masa itu, wajah-wajah yang penuh kepolosan, tawa senyum riang, seolah menjadi air penyejuk dahaga. Kapan ya bisa seperti itu lagi” dia berdiri tegak sambil memandang kelangit. Apa boleh buat, aku posisikan dududukku lebih nyaman, dengan kedua tanganku kutarik kebelakang. Aku bersandar sambil menatap langit. “beginilah hidup, berjalan seperti sebuah cerita yang ditulis tidak ada akhirnya, walaupun berakhir nantinya ketika kita sudah menjemput ajal” ujarku dengan sedikit menggurui.

Angin bertiup semakin kencang. Matahari semakin malu dan perlahan bersembunyi. Pohon-pohon bergoyang tertiup angin. Tiba-tiba “khotim sebentar lagi aku akan menikah. Aku sudah melamar adik kelas gadis pujaanku. Aku tinggal mencari bekal dulu selama setahun. Bagaimana dengan dirimu?” tanya temanku sambil tersenyum.

Dalam hati aku merasa malu. Tiba-tiba temanku bercerita tentang kabar gembira tentang rencana pernikahannya dan bertanya rencana pernikahanku. Jujur saja, dimata penduduk kampungku aku dianggap pintar karena telah mendapatkan beasiswa. Apalagi bisa melanjutkan kejenjang kuliah. Bayangan mereka aku akan menjadi orang yang sukses, padahal kenyataannya aku masih belum tahu jalan hidupku ada pada jalur kesuksesan atau kemlaratan. Kalau temanku sudah jelas dia mengabdikan dirinya untuk bekerja, sementara aku harus kuliah.

Tapi biarlah hidup ini mengalir seperti air. Tinggal kita harus menjaga supaya alirannya sesuai dengan yang kita inginkan. Kita pun tida tahu Tuhan sudah mentakdirkan kita menjadi apa. Tapi yakinlah setiap takdir Tuhan adalah kasih sayang-Nya. Aku sendiri adalah anak desa yang kesehariannya mencari rumput, pergi kesawah, tidak ada bayangan untuk meanjutkan pendidikan sampai sarjana yang sangat di idam-idamkan kebanyakan orang.

Bersekolah dan mencari ilmu. Sesehari membantu orang tua. Berjalan menelusuri jalan guna shalat di masjid. Berjalan berberapa langkah guna menunaikan kewajiban mencari ilmu. Merelakan tubuh dicambuk oleh panasnya sinar matahari, kedinginan oleh usapan air hujan. Tapi yang pasti bahwa Tuhan akan menjawab setiap niat dan kayakinan seseorang.

Kami berdua berjalan santai, tangan kananku aku taruh dileher sebelah kanan begitupun dia. Meletakkan tangan sebelah kirinya disamping leher kiriku. Berjalan pulang menelusuri persawahan yang terlihat damai. Dengan diiringi tarian pohon dan semilirya tiupan angin sore. Bagi kami hidup adalah keyakinan dan perjuangan menjadi lebih baik.
Tamat….

2 thoughts on “Senandung Cerita Remaja Desa”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s