Penetapan atau Pemilihan?

Tiba-tiba ditengah musibah bencana merapi, Presiden SBY membicarakan tentang RUU Keistimewaan DIY. Ditengah rakyat jogja bahu-membahu membantu saudara-saudara mereka yang terkena musibah tidak terbesit dalam pikiran mereka mempermasalkan status daerahnya dan rajanya. Tapi pernyataan pak SBY telah menyulut hati mereka tentang satatus istemewa yang sebenarnya sudah ada sejak dulu walaupun tidak harus ada status formal dari pemerintah.
Tulisan dibawah ini hanyalah secuil dari fakta sejarah yang perlu kita ketahui dan fahami. Berpijak dari situ kita bisa berpandangan kritis, apakah keistimewaan DIY patut kita presiasi atau tidak. Sebaai intelektual kita harus berpandangan kritis.

RUUK dapat kita lihat dalam TIGA perspektif.
pertama, perspektif dinamika kesultanan yogyakarta:

1. Keraton yogya memang memiliki peran besar dalam sejarah bangsa. tanpa keterlibatan keraton dan pilihan politik keraton secara sadar, sulit dibayangkan lahirnya republik ini. bandingkan dengan peran keraton lain, yang bahkan tidak jarang terlibat kolaborasi dengan kolonial belanda.

2. selain peran sejarah tersebut, keraton juga telah terbukti melakukan transformasi struktural-budaya secara internal. keraton telah melakukan perubahan perubahan penting yang menunjukkan dinamika dan keterbukaannya. UGM, misalnya, sampai saat ini masih menempati tanah keraton dan merupakan kontribusi realnya. Dulu, ketika UGM dibuka, keraton dengan tangan terbuka menyedikan SITI HINGGIL sebagai tempat untuk kuliah. Anda tahu Siti Hinggil? dalam tradisi keraton siti hinggil merupakan ruang sosial yang pada awalnya hanya untuk kasta brahmana dan kstaria (priyayi), dan mustahil kasta sudra seperti anda-anda ini (hahaha) bisa mengambah siti hinggil. siti hinggil arrtinya, tanah yang tinggi, tanah yang luhur, karena memang diperuntukkan khusus untuk petinggi kesultanan. namun dengan membuka siti hinggil sebagai tempat kuliah, bermakna keraton melakukan transformasi kultural, menegakkan kesetaraan, dan kontribusi bagi perkemban sosial dan pengetahuan bangsa.

3. berbagai kisah HB IX yang senantiasa turun ke masyarakat, menyamar menjadi rakyat jelata, mencoba meresapi dan menghayati denyut nafas masyarakat secara langsung. sebuah kepemimpinan yang sulit ditemukan bahkan dalam konteks kehidupan politik modern. salah satu kisahnya, suatu hari HB IX berjalan jalan pakai mobil butut di daerah monjali. kemudian ada mbok bakul yang mecegat, dan tidak tahu kalo yag sedang dicegat adalah HB IX. dengan tanpa beban, mbok bakul meminta HB IX untuk menaikkan dagangan untuk di bawa ke pasar beringharjo. di tengah jalan, mbok bakul masih sempat untuk mempercepat laju mobil agar tidak kesiangan sampai beringharjo. Sampai pasar beringharjo, mbok bakul meminta HB IX untuk menurunkan dagangannya, sementara petugas pasar bengong karena tahu yg sedang diperintah mbok bakul adalah HB IX. Setelah selesai, HB IX diberi uang sebagai ongkos, dan pergi. gegerlah pasar, dan setelah diberi tahu mbok bakul semaput. itu sekedar contoh moral kepemimpinan HB IX.

4. deklarasi dari HB X yang mentransformasikan keraton dari pusat kekuasaan politik menjadi pusat budaya, dan menegaskan tahta untuk rakyat.

point-point di atas sekedar menegaskan bahwa keraton pun mengalami proses transformasi, proses adaptasi yang sangat maju. hal ini yang harus dihargai.

kedua, perspektif demokrasi.

1. sekalipun keraton punya jasa besar dalam sejarah, bukan berarti keraton mendapatkan hak istimewa yang berlebihan. yang istimewa bukanlah keratonnya, namun warganya. karenanya warga yogya harus diberi hak untuk menentukan masa depannya.
2. kepemimpinan adalah persoalan publik, bukan privat, dan tidak mungkin dilakukan berdasarkan secara garis keturunan. pertanyaan2 ini susah dijawab jika dengan penetapan: bagaimana jika suatu saat ketika sultan mangkat penggantinya masih balita? bagaimana jika tidak punya anak laki2 seperti saat ini? bagaimana jika terjadi dualisme kepemimpinan seperti keraton solo? bagaimana jika satu keluarga tersandung masalah hukum?
3. penetapan akan menyulitkan akuntabilitas kekuasaan.
4. Sultan menunjukkan ketidakjelasan sikap dengan msh menjadi aktifis politik, menjadi pengurus golkar.

ketiga, perspektif kritis. ini perspektif kami warga pmii:
1. yang sedang terjadi adalah semacam ketegangan yang belum usai antara sistem politik yang berakar pada tradisi leluhur yang berumur panjang dan teori politik modern demokrasi yang dibawa kaum akademik yang tidak memiliki sensitivitas lokal dan sejarah.

2. metode penetapan murni juga problematik dan menyimpan problematisasi. bahkan transformasi keraton saat ini justru terlihat aneh jika dikaitkan dengan kasus pasir besi. keberpihakan keraton dan keluarga yang turun lansgung pada konglomerasi besar dan tidak empatik terhadap para petani lahan pasir menunjukkan pergeseran nilai yang terjadi di kepemimpinan HB X.

3. namun demikian, mengganti dengan sistem demokrasi murni sama saja membiarkan yogya karta terjerumus dalam arus neoliberalisme ekonomi dan politik. demokrasi hanya akan menggeser ototritas tradisi ke otoritas modal, dan akan menelan kedaulatan rakyat yang diandaikan sejak awal oleh demokrasi. jika pemilihan dilakukan, dipastikan yang punya modallah yang akan memang dan menghancurkan nalar publik. kembali kita dibeli oleh kaum borjuasi.

4. penetapan menurut sudut pandang teologi kami bertentangan syariat dan fikih politik yang kami pahami.

5. karena itu dibutuhkan mendialektikan ketegangan antara tradisi yang secara sadar juga terbuka untuk diperbaharui dan demokrasi yang dibawa kaum kampus namun menyimpan problem yang mengerikan yakni kuasa modal. konsep parardhya yang dibangun oleh JIP merupakan konsep yang paling mendekati penyesuaian dua ketegangan di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s