Our Live is Mystery

Jakarta – Jika saya masih bisa bergerak, artinya saya tidak sakit – Lance Armstrong,

Lance Armstrong adalah sosok ikonik dan signifikan dalam sejarah sport, terutama balap sepeda. Lahir sebagai “true cyclist”, Armstrong menunjukan bakat alaminya saat berumur 10 tahun lewat ketertarikan akan balap sepeda dan lari. Dengan usia sedini itu ia meraup juara triathlon (kombinasi sport antara renang 1,000 meter, 15 –mil sepeda, dan 3 mil lari) perdananya saat umur 13 tahun. Ia menjadi atlet nasional triathlon ternama rentang waktu 1989-1990. Ia menapaki level professional saat beranjak 16 tahun.

Armstrong muda memilih fokus terhadap dunia balap sepeda sebagai sport favoritnya saat ia duduk di bangku SMA. Di masa pendidikannya itu, delegasi U.S Olympic mengundang dirinya untuk melakukan sesi training di Colorado Springs, Colorado. Keputusan yang signifikan untuk karir bersepedanya (walaupun ia tetap melanjutkan edukasinya kelak dengan kelas privat dan memperoleh gelar Diploma tahun 1989. Ia masuk ke jajaran junior world team pertengahan summer tahun 1990 dan langsung mendapat tempat ke 11 di World Championship Road Race, membukukan kemenangan dengan waktu terbaik sepanjang sejarah balap sepeda junior Amerika. Tahun yang sama, ia menjadi juara amateur U.S, mendepak semua pembalap professional dan meraup dua kemenangan sekaligus: First Union Grand Prix dan Thrift Drug Classic. Ia menuntaskan perlombaan terpanjang perdananya di lomba Tour Du Pont tahun 1991 di yaitu 12 stage racing, melintasi 1,085 mil selama 11 hari.

Tahun 1993, ia mencatat sejarah baru di ranah balap sepeda dengan menggondol tiga tropi sekaligus “Triple Crown” —Thrift Drug Classic, Kmart West Virginia Classic, dan CoreStates Race (U.S. Professional Championship). Tahun yang sama, ia menduduki posisi kedua di Tour DuPont. Di umur seperempat abad, ia menjadi pembalap sepeda terbaik dunia dengan reputasi yang jauh dari definisi “standar”.

Di tengah puncak karirnya, tepatnya bulan Oktober 1996 ia divonis menderita kanker testis, penyakit yang karakteristik ‘penyerangannya’ lebih sering menyerang pria usia 15-35 tahun dan sudah menjalar hingga ke paru-paru serta otaknya. Kesimpulannya, kankernya ganas. Harapan hidupnya tinggal sekitar 40%, dan kesehatannya makin menurun. Jika terdeteksi lebih awal, akuransi penyembuhannya bisa mencapai 90%. Ia pun disarankan menghentikan latihan fisik intens. Tapi seperti kebanyakan anak muda sebayanya, Lance membangkang semua “warning signs” tersebut. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan konsekuensi atas keacuhannya. Ketika kanker menyebar semakin akut ke seluruh perut, paru-paru, dan otaknya, tipis baginya untuk melanjutkan “masa depannya yang cerah.” Balap sepeda menjadi sesuatu yang tidak signifikan lagi untuknya.

Fisiknya lemah. Jangankan untuk menjalani latihan intens, bersepeda keliling rumahnya saja ia tidak sanggup. Mental juara, merupakan hasil didikan keras dari orang tuanya sejak dini. Dulu, saat ia kelelahan dan berhenti di tengah jalan saat lomba triathlon perdananya, ibunya berkata “kamu tidak boleh berhenti meskipun harus berjalan!.” Armstrong pun membungkus lomba itu dengan kemenangan. Armstrong tidak menyerah akan penyakitnya. Ia mengedukasi dirinya, melakukan proses penyembuhan. Dan ketika kemoterapi intens yang dijalaninya selesai, ia sembuh dari kanker.

Saat kondisinya berangsur membaik. Lance Armstrong kembali dengan latihannya, mulai dari latihan sederhana dengan berat badannya yang turun drastis. Namun, penurunan berat badan ini malah menjadi keuntungannya untuk kembali mengikuti turnamen. Saat latihan di trail Blue Rider Mountain, Lance memotivasi dirinya sendiri untuk menciptakan rekor lebih tinggi. Dengan vonis penyakit dan rentang waktu pemulihan, ia bersumpah menang.

Intuisinya terbukti pada tahun 1999 saat ia mulai kembali ke panggung balap sepeda, event Tour de France yang sangat prestisius. Dengan start lambat ia membiarkan orang lain melewatinya. Di tengah hujan yang dingin di gunung Alpen itulah, akhirnya Lance bangun dari kubur dan tidak memberi ruang kepada satupun kompetitor-nya, menyalip cepat dan merebut urutan terdepan. Menapaki podium puncak Tour de France untuk pertama kalinya. Dan karirnya semakin melaju signifikan, ia memenangi kembali event Tour de France enam kali berturut-turut. Lebih dari itu berbagai penghargaan juga diraihnya, seperti “Sport Personality terbaik”. Antisipasi pembangkangan luar biasa, dari vonis “gantung sepeda” hingga mampu menciptakan rekor dunia tujuh kali.

Di masa itu pula, ia mendirikan Lance Armstrong Foundation, atau yang kita kenal dengan sebutan LIVESTRONG, sebuah yayasan tempat berbagi, fondasi yang membangun kesadaran penuh akan bahaya penyakit kanker yang level kesadaran dan wilayah edukasinya sangatlah kurang. LIVESTRONG merupakan manifestasi dari hidup seorang Lance Armstrong bagi penderita kanker, juga merupakan representasi dirinya untuk komunitas global pengidap penyakit berbahaya ini. LIVESTRONG membuka gerbang bagi siapapun bukan hanya penderita kanker untuk berbagi, dan saling berkontribusi. Ia mengajak dunia untuk melihat kanker dari perspektif berbeda. Sang juara dunia mendeklarasikan dirinya sebagai “seseorang yang selamat dari kanker, bukan korban kanker.”

Lance Armstrong resmi berhenti dari aktifitas bersepedanya tahun 2005 dan melanjutkan dedikasi penuh pada LIVESTRONG, sebuah movement global untuk penderita kanker di seluruh dunia. Terakhir, ia merilis satu buku yang inspiratif, melukiskan pergulatan eksternal/internal hidupnya dengan tema perlawanan terhadap tatanan hidup pasrah: Lance Armstrong – It’s Not About The Bike, My Journey Back To Life (2000) dan Every Second Counts (2003). Tahun 2008, Armstrong ditahbiskan oleh majalah Time Magazine sebagai “The Most Influental People.

Masa kejayaan Lance Armstrong di Tours de France tahun 1999-2005 sangat inspiratif dan signifikan bagi dunia, tapi peperangan melawan kanker baru saja dimulai — bukan untuk dirinya saja, tapi untuk semua penderita kanker di seluruh jagad raya dan semua orang yang sepakat bahwa penyakit kanker bisa menimpa siapapun. Penyakit yang merekonstruksi seluruh hidupnya dan ia manifestasikan lewat LIVESTRONG. Seperti ucapannya, “I take nothing for granted. I now have only good days, or great days.” Dan rasanya menyebut dirinya seorang ikonik inspiratif bagi para atlet, para penderita kanker, teman dan lingkungan sekitar, dan mungkin Anda, bukanlah sesuatu yang berlebihan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s