Derajat Sepotong Tempe


“Dasar otak tempe!”
Wajah guru itu, suasana ruangan itu, warna lantai yang merah agak pudar, dinding yang kuning juga agak pudar, papan tulis hitam yang juga pudar berukuran 2×1,5 meter, wajah teman-teman dengan tatapan yang amat tajam, ada yang kasihan ada yang nyukurin, masih melekat betul di benak beni, ketika guru matematikanya memanggilnya ke depan sambil menyerahkan nilai ujian.

Empat dengan lingkaran di luarnya, itulah angka yang muncul dengan tinta merah pas di pojok kanan atas kertas ujian matematika beni. Hancur. Remuk hati beni, bukan karena angka empat itu. Tapi karena rasa malunya di depan tiga puluh enam teman-temannya, menjadikannya seolah-olah manusia paling tolol di dunia.
Ada apa dengan tempe?. Pikir beni. Kenapa tempe ikut dipermasalahkan dalam urusan ujian matematikanya.

Apa tempe yang membuatnya mendapat nilai empat, apa tempe yang memposisikannya menjadi orang bodoh, tempe yang membuat orang melarat tetap dengan kemelaratannya, karena biasanya orang yang beli nasi dengan tempe tandanya ia tak punya uang, seorang istri yang selalu menggoreng tempe berarti ia ngirit karena gaji suaminya dikit. Padahal dalam buku-buku yang dia pelajari, tempe mengandung protein nabati yang sangat tinggi sehingga lebih baik dari ayam yang harganya tiga ribu lima ratus satu potong sekalipun, sementara tempe hanya dihargai lima ratus rupiah per potong.
***
Berita tentang seorang anak SD yang putus sekolah setelah mendapat makian ‘otak tempe’ menjadi headline di koran-koran. Sejak itu pemuda-pemuda yang masuk warung enggan mengambil tempe karena takut dikatakan otak tempe. Tempe-tempe di warung-warung makan pun tak pernah habis, dan selalu jadi penghuni terakhir di atas meja. Tak ada yang lain.

Tak hanya di kantin sekolah tempat dimana bocah cilik itu mendapat makian ‘otak tempe’, tapi juga di semua warung nasi tak pernah tempe-tempe itu disentuh pengunjung. Tempe seolah menjadi momok yang menakutkan. Pemakan tempe itu sama artinya dengan setolol-tololnya orang.

Pemilik-pemilik warung tak pernah lagi memasak tempe. Tak ada tempe goreng, gudeg-gudeg pun tak lagi menyediakan tempe bacem, termasuk tempe tumis, tempe potong korek api, sayur kacang campur tempe, tempe kuah santan, tempe bumbu merah, semua jenis masakan tempe tak lagi ada.

Penjual tempe mengeluh. Mereka ganti usaha. Ada yang ikut juragan mebel, juragan kerupuk, kuli bangunan, ada yang bertahan dengan sepetak tanah dengan tanaman kedelai mereka yang dijual kering mentah begitu saja tanpa diolah menjadi tempe. Percuma, tak akan laku.
***
Pagi-agi habis subuh biasanya terdengar suara ‘priiiiiit…..!’, Peluit si penjual tempe yang selalu ontime jam lima pagi. Lalu jam tujuh terdengar teriakan ‘hoooo peeeee…!’, si pejual tahu tempe. Tapi kini tak lagi suara hooopeeee yang terdengar, tinggal hooo saja karena tempenya sudah tak ada.

Tempe kini menghilang, dari warung-warung makan, warung-warung sayuran, pedagang keliling, pasar-pasar, toko-toko, mbok-mbok wlijo , dan dapur-dapur tak lagi menyajikan tempe di meja. Tempe menghilang dari peradaban. Sampai-sampai istilah tempe lambat laun makin jarang dibicarakan.

Dulu, di sepanjang tepi jalan, ada saja penjual gorengan tempe, orang menyebutnya dengan tempe gimbal, tempe berbalut tepung terigu lalu digoreng, paling enak kalau dimakan hangat-hangat. Kini mereka hanya menjual pisang goreng, tape goreng, dan tahu goreng, kadang sama ketela goreng.

Para pembuat tempe, lama tak pernah lagi buat tempe. Dulu, bisa membuat tempe lima sampai sepuluh kilo kedelai per hari, kemudian susut dan semakin susut. Tapi mereka masih bikin, meski hanya segenggam untuk makan di rumah. Tapi, kian hari orang rumah enggan makan tempe, takut tolol katanya. Sejak itu pembuat tempe tak pernah lagi membuat tempe, hingga bertahun-tahun lamanya. Mereka pun akhirnya lupa bagaimana cara mebuat tempe. Obat-obat tempe tak lagi diproduksi, sudah tak laku lagi.
Tempe akhirnya benar-benar menghilang dari peradaban.
***
Bocah gendut cilik itu, entah dimana dia. Tak ada kabar, hanya tiga hari koran, radio, dan tivi ramai membicarakannya. Kini dimana dia tak ada yang tahu, juga tak ada yang peduli. Siapa dia, anak mentri juga bukan, hanya seorang anak dari pasangan suami istri buruh tani yang sehari-hari bergelut dengan rumput dan lumpur.

Kabarnya anak itu tak lagi bersama bapak ibunya sejak keluar dari SD kelas empat, tepat setelah mendapat julukan ‘si otak tempe’ dari gurunya, kabarnya dia sekolah di pesantren. Sampai beberapa tahun orang-orang tak pernah lagi melihatnya.
***
Dua puluh lima tahun kemudian, Indonesia diramaikan oleh berdirinya rumah makan baru saingan kfc dan mc’d, makanan khasnya bernama burger thouci. Sejak iklannya gencar di media massa, tv, radio, koran, orang-orang terutama anak muda berbondong-bondong ke burger thouci hanya untuk menjadi pengunjung pertama yang merasakan burger keluaran teranyar itu. Kabarnya pendiri burger itu adalah pengusaha muda dari Jepang. Burger itu cukup tenar di sana.

“pemirsa, ternyata setelah diwawancarai secara ekslusif oleh wartawan kami, pemilik burger thouci memiliki kenangan masa kecil di Indonesia.” Seperti biasa, media di Indonesia membanggakan seseorang ketika dia telah sukses dengan cara menghubung-hubungkan apapun tentang orang itu terhadap negara ini, entah nenek moyangnya, sepatu yang dia pakai, sabun dia gunakan untuk mandi, makanan yang dia santap, tempat dia lahir, nenek angkatnya, termasuk juga masa kecilnya yang entah berkaitan atau tidak dengan kesuksesan orang itu.

Diantara antrean panjang itu ada seorang nenek. Ia tak kalah semangat dengan barisan pemuda yang antre di depan receptionist hanya untuk mencicipi burger thouci yang lagi gencar diberitakan media Indonesia.
Satu-persatu antrian berkurang. Si nenek tak sabar. Satu, dua, nenek terus memperhatikan tiap orang yang keluar dari antrian. Masih tinggal lima lagi. Empat, tiga, dua, satu, akhirnya sampai juga giliran nenek. Diterimanya satu nampan berisi sebuah burger hangat dan segelas minuman sari jahe yang masih penuh dengan kepulan asap. Hmmmm, wanginya masuk ke rongga-rongga hidung, merangsang ke syaraf-syaraf otak.

Berjalanlah si nenek pelan menuju ke sebuah meja. Ditaruhnya nampan dari dua tangannya ke atas meja, lalu duduk. Tinggal melahap lalu menyeruput, selagi hangat, pasti sangat nikmat, pengalaman baru yang dirasakan lidah. Sebelum melahap, nenek diam sejenak, memandang makanan yang kini berada di depannya, membayangkan seperti apa rasa burger keluaran teranyar ini. Dipungutnya burger itu, dengan seni memungut yang paling syahdu, dia buka mulutnya, perlahan, menggigit perlahan, sampailah burger itu di ujung lidah, dikunyahnya perlahan, dan kressssssssssss! Mata nenek berkedip. Terlintas kenangan masa silam. Nenek pernah merasakan itu sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan rasa itu sungguh tak asing. Ya, rasa itu begitu dekat dengan kehidupannya, kehidupan masa kecil di kampung, hingga kemudian ia tumbuh besar dan rasa itu masih menemaninya. Lalu, rasa itu tak pernah ia temukan lagi, tepat sejak bocah gendut di kelasnya keluar gara-gara bentakannya, “dasar otak tempe!”

Astaga!
Nenek itu dikagetkan pada tiga kenyataan, kenyataan tentang beni, kenyataan tentang tempe, dan kenyataan tentang burger thouci.
Tak lama….
“baiklah, pemilik perusahaan burger thouci akan menyampaikan sedikit sambutan untuk pengunjung pertama restoran ini…”
Plok, plok plok, tepuk tangan begitu riuh
“inilah dia, bapak beni ritonga dari Jepang….!”

Beni ritonga?
Nama itu taka sing bagi nenek. Ia pernah menuliskannya di sebuah absen, tepat pada urutan ke lima dari atas di deretan huruf b. Kemudia nama itu yang dia coret dengan bullpen merah setelah ujian semester genap selesai. Lalu anak itu keluar.

Nenek mengucek-ucek matanya tak percaya, lalu mengedi-ngedipkannya meyakinkan, mengingat-ingat kisah dua puluh lima tahun silam tentang bocah cilik yang diumpatinya dengan makian ‘otak tempe’.

Tak salah, dia adalah beni ritonga yang dibentaknya dulu karena angka empat di nilai matematika.
Lalu burger thouci, rasa kressss yang baru saja digigit nenek, rasa yang sebenarnya tak asing tapi kini menjadi asing, rasa yang pernah ada beberapa tahun silam lalu hilang, rasa yang dulu pernah jadi umpatan orang, yang membuat orang yang memakannya menjadi manusia paling tolol di dunia, rasa itu. Ya rasa kedelai yang diolah entah bagaimana caranya nenek tak tahu, lalu dijajakan ke warung-warung, dimasak dan disajikan di meja-meja makan, di jual di pinggiran jalan bersama dengan gorengan tahu, pisang,tape , dan ketela. Dulu rasa itu punya nama, tapi apa? Nenek lupa. Nenek terlalu tua untuk mengingat satu nama dua puluh lima tahun silam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s