Mendekontruksi Ulang Demokrasi Kita


Judul : DEMOKRASI UNTUK INDONESIA: Pemikiran Politik Bung Hatta
Penulis :Zulfikri Suleman
Penerbit : PT KOMPAS GRAMEDIA
Cetakan : I, April 2010
Tebal : vii+268 halaman
Peresensi : Muhammad Khotim
Samuel P. Hutington dalanm bukunya Democracy’s Third Wave mengatakan bahwa demokrasi telah di terima dunia sebagai pandangan umum. Hal ini kemudian diterjemahkan bahwa demokrasi menjadi satu-satunya jalan terbaik untuk membangun kehidupan suatu bangsa. Demokrasi kemudian diadopsi secara masal oleh Negara-negera berkembang.

Pengadopsian secara masal itu kemudian tidak di sertai cara pandang kritis. Demokrasi merupakan konsep pemikiran politik seperti kekuasaan, Negara, dan birokrasi. Konsep-konsep tersebut berkembang di Negara-ngara barat dan berhasil memajukan kehidupan masyarakat barat. Tapi apakah konsep tersebut bisa langsung di terpakan di Negara-negara berkembang? Padahal secara social, ekonomi, dan budaya Negara-negara barat sangat berbeda dengan Negara berkembang.

Akibat yang terjadi kemudian adalah Negara-negara berkembang gagal menjadi Negara yang mandiri dan sejahtera. Justru Negara-negara berkembang yang mengadopsi demokrasi menjadi menjadi budak bagi Negara-negara maju (barat). Demokrasi yang mengusung nilai-nilai pembangunan gagal menjadi solusi bagi Negara-negara berkembang. Justru kemiskinan, pengangguran, dan perbedaan antara yang kaya dan miskin semakin besar (mansour fakih, 2001:199).

Buku yang ditulis oleh Zulfikri Suleman, dengan mengangkat pemikiran Bung Hatta mencoba memancing kita untuk mengkritisi sifat demokrasi barat yang di praktekkan Indonesia. Baginya demokrasi yang di adopsi Indonesia gagal membawa kesejahteraan dan pembangunan bangsa. Bahkan demokrasi telah menyihir masyarakat dunia termasuk Indonesia. Seolah demokrasi menjadi jawaban terhadap segundang permasalahn bangsa. Sehingga meninggalkan banyak ruang kosong. Dengan mengangkat pemikiran Bung Hatta zulfikri mencoba mengisi rung kosong tersebut dengan kritis.

Demokrasi Hatta

Hatta merupakan sosok yang kita kenal sebagai pahlawan nasional. Yang mengiring perjuangan bangsa dari prakemerdekaan sampai kemerdekaan. Hatta menempuh pendidikan formalnya di ELS, namun cuma bertahan 2 tahun kerena alas an kurang nyaman. Kemudian pindah ke padang di rumah bapak tirinya. Di sana Hatta sekolah di MULO. Di MULO inilah Hatta mulai kenal dengan organisai JSB dan tokoh-tokoh pejuang. Setelah tamat dari MULO Hatta melanjutkan pendidikan ke batavaia, tepatnya di prins Hnedriks School (sekolah menengah dagang lima tahun). (hal.64-37)

Setelah selesai PHS Hatta memutuskan studinya ke negeri Belanda. Hatta mengambil sekolah tinggi dagang (Handles Hoge Schoole). Ketika di Belanda inilah Hatta mulai terlihat sebagai sosok pemikir yang kritis dan berkharisma. Uniknya walaupun Hatta mengambil studi tentang ekonomi tapi Hatta menyempatkan diri membaca buku social, politik dan sejarah bangsa-bangsa. Melalui organisai PI Hatta mulai menggalang kekuatan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di negeri Belanda. Melalui PI Hatta juga aktif membaca surat kabar Internasional dan berinterkasi dengan dunia Internasional.

Lalu apa konsep demokrasi Hatta? Pengalaman-pengalaman Hatta ketika di Belanda, dari bcaan-bacan buku-buku tentang ekonomi, social, plotik, dan sejarah bangsa-bangsa serta kunjungannya kebeberapa Negara telah membekas sangat mendalam. Bagi Hatta demokrasi merupakan konsep yang paling tepat, tapi Hatta menggaris bawahinya tentang demokrasi. Bahwa demokrasi tidak bisa diterapkan secara murni sisetiap Negara.

Dalam buku ini di kemukakan padangan Hatta terhadap kekurangan demokrasi barat. Bagi Hatta demokrasi barat memilik kekurangan di bidang politik dan ekonomi. Dibidang politik demokrasi telah melahirkan faham liberalisme secara umum. Dalam brosur kearah Indonesia merdeka Hatta memberikan pendapat bahwa demokrasi tiada membawa kemerdekaan bagi rakyat, melainkan menimbulkan kekuasaan kapitalisme. Maka demokrasi tidak hanya cukup dalam bidang politik tapi juga harus ada demokrasi dalam bidang ekonom (hal.141).

Pendapatnya itu kemudian menjadi kritik kedua terhadap demokrasi barat, yaitu demokrasi barat dalam bidang ekonomi. Faham liberalisme yang melahirkan demokrasi membawa kepentingan individu. Artinya kebebasan individu di akui baik dalam bidang politik terutama ekonomi. Kebebasan dibidang ekonomi kemudian melahirkan kapitalisme. Hukum rimba yang mengatakan yang kaya makin kaya dan miskin-makin miskin akhirnya menjadi kenyataan. Terutama di Negara-negara ketiga yang ada di bawah Negara-negara maju.
Namun Hatta adalah pengkritik yang baik. Tidak hanya memberikan kritikan terhadap demokrasi barat yang gagal di Negara-negara berkembang tapi juga memberikan padangan. Lebih dalam Hatta memberikan tawaran tentang demokrasi Untuk Indonesia. Demokrasi ideal seperti apa?

Bagi Hatta demokrasi barat berhasil diterapkan dinegara-negara maju karena sesuai dengan budaya dan karakter masyarakat barat yang individualis. Wajar jika demokrasi barat diterapkan secara murni dinegara-negara berkembang gagal karena karakter masyarakat timur yang kolektif. Namun bukan berari demokrasi secara subtansi jelek. Hanya saha demokrasi yang perlu dikembangkan menurut Hatta adalah demokrasi yang digali dari kahasanah bangsa itu sendiri. Untuk Indonesia Hatta menilai bahwa demokrasi yang cocok adalah demokrasi yang dibangun atas dasar kolektivitas dan kekeluargaan. Dibidang politik demokrasi menjunjung tinggi nilai musyarawah mufakat (kolektivitas) dalam mengambil keputusan sedangkan dalam bidang ekonomi dikembangkan ekonomi berdasarkan kekeluargaan yang terwujuda dalam koperasi.

Buku ini memberikan kritik yang tajam terhadap faham demokrasi terutama demokrasi barat. Dan sangat relevan dengan apa yang terjadi di Indonesia. Dibidang politik demokrasi lebih bersifat struktural dan prosedural sedangkan dibidang ekonomi cenderung kapitalis.
Setidaknya buku ini menjadi sebuah wacana yang mengisi ruang-ruang kosong. Menjadi bahan-bahan diskusi wacana untuk masa depan Indonesia kedepan. Sekaligus melestarikan pemikiran-pemikran asli para tokoh bangsa.

One thought on “Mendekontruksi Ulang Demokrasi Kita”

  1. Rekan rekan PMII.
    Saya termasuk pengagum bung Hatta. Saat ini saya bersama beberapa teman tengah menggagas

    PEMILU ALTERNATIF BUNG HATTA: Tanpa Partai, Murah, Mudah dan Lebih Demokratis.

    Gagasan ini diinspirasi oleh Buku DEMOKRASI KITA karta Bung Hatta.

    Kami mohon masukan dari rekan2 sekalian.

    Selengkapnya, rekan2 dapat melihatnya pada video di alamat berikut:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s