Belajar Berdemokrasi di Kampus Biru

Kampus menjadi tempat untuk belajar berdemokrasi. Kalau masyarakat ikut berpartisipasi dalam pemilihan umum (pemilu) memilih presiden dan wakil presiden serta anggota DPR, maka di kampus, mahasiswa belajar berdemokrasi melalui pemilihan raya mahasiswa (pemira).

Pemira di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menjadi waktu yang sibuk sebagian mahasiswa. Setelah sempat tertunda karena bencana Gunung Merapi, Pemira UGM dapat diselenggarakan mulai bulan Desember 2010. Semangat mahasiswa tetap berkobar.

Seperti halnya pemilu negara atau daerah. pemira yang di selenggarakan tidak kalah dengan pemilu nasional. Baik dalam publikasi, lobi-lobi maupun jumlah partai kontestan. Layaknya pemilu ataupun pilkada, di beberapa sudut kampus dipenuhi beberapa foto mahasiswa. Bahkan di setiap sudut papan pengumuman di setiap fakultas dipenuhi oleh beberapa foto. Foto-foto itu tidak lain adalah para mahasiswa yang mencalonkan diri menjadi Presiden Mahasiswa dan Dewan Perwakilan Mahasiswa.

Seperti tidak mau kalah dengan para politisi sungguhan para mahasiswa mencoba mengeksplorasi diri dengan membuat visi dan misi untuk menarik perhatian pemilih. Visi misi itu ada di setiap baliho sebagai bahan kampanye. Tapi ada yang unik, kalau baliho para politisi nasional sering tampil formal dengan embel-embel sosok publik figure. Para mahasiswa memapang foto-foto mereka apa adanya. Bahkan, mahasiswa yang sok keren mereka bisa memapang foto yang narsis abis. Bagi mahasiswa, demokrasi adalah kebebasan untuk berekspresi, berpendapat, dan memilih.

Dari nama-nama partai yang dipilih mahasiswa pun menunjukkan kebebasan ekspresi mereka. Kontestan yang mengikuti pemira UGM 2010 berjumlah 9 partai yaitu Partai Balairung, Partai Keluarga Mahasiswa, Partai Future Leader Party, Partai Macan Kampus, Partai Bunderan, Partai Sayang Mama, Partai Kampus Biru, Partai Srikandi, Dan Partai Boulevard.

Di UGM, sistem pemilihan mengadopsi negara demokrasi yang memakai sistem multipartai maka setiap mahasiswa berhak mendirikan partai. Namun, tidak semudah yang di bayangkan. Ada beberapa persyaratan yang harus di penuhi sebagaimana yang termuat dalam UU Pemira. Sedangkan, untuk calon Dewan Perwakilan Mahasiswa ada 70 calon. Calon Presiden Mahasiswa terdapat enam orang. Dua diantaranya adalah calon independen dan empat calon dari partai.

Untuk meramaikan acara pemira, Komisi Pemilihan Raya Mahasiswa (KPRM) selaku penyelenggara pemira melakukan beberapa tahapan pemilihan. Kegiatan tersebut adalah berupa debat untuk masing-masing partai, masing-masing DPM, dan terutama adalah debat presiden. Bahkan untuk calon capresama diadakan debat khusus di TVRI Yogyakarta. Strategi kegiatan kampanye tersebut tidak lain adalah memberikan kesempatan bagi peserta Pemira, baik partai, para calon DPM dan presiden untuk menarik simpati mahasiswa. Disamping itu merupakan sosialisasi pemilihan raya mahasiswa sekaligus menumbuh kembangkan semangat demokrasi.

Pemira yang berlangsung kurang lebih sebulan bisa dikategorikan sukses. Data yang tercatat mahasiswa yang mengikuti sekitar 9202 untuk pemilihan legislatif atau DPM. Suara tersebut dibagi kesembilan partai dengan rincian sebagai berikut, Partai Balairung 578 suara, Partai Keluarga Mahasiswa 376 suara, Partai Future Leader Party 327 suara, Partai Macan Kampus 1411 suara, Partai Bunderan 2504 suara, Partai Kampus Biru 1437 suara, Partai Sayang Mama 895 suara, Partai Srikandi 672 suara, dan Partai Boulevard 1000 suara.
Untuk pemilihan presiden mahasiswa, jumlah pemilihnya sebanyak 10.357. Calon Presiden Mahasiswa nomor urut 1 mendapat 1.565 suara, calon nomor 2 mendapat 4.066 suara, calon presiden dengan nomor 3 mendapat 750 suara, calon presiden nomor 4 mendapat 990 suara, calon presiden dengan nomor urut 5 mendapat 1.323 suara, dan calon presiden dengan nomor urut 6 mendapat 827 suara. Jumlah suara yang tidak sah 520 dan yang abstain 316 suara. Keseluruhan suara tersebar di 33 TPS yang ada di setiap fakultas. Namun, ada beberapa fakultas yang mempunyai jumlah pemilih sedikit. Salah satunya di Fakultas Filsafat yang hanya ada satu pemilih.

Regenerasi melalui Kampus

Patut kita akui juga bahwa banyak beragam pendapat mengenai pemira. Misalkan seperti diatas bahwa Fakultas Filsafat jumlah pemilihnya sangat minim. Hal ini memang bisa dilihat karena di Fakultas Filsafat, Badan Eksekutif Mahasiwa (BEM) memang tidak berfungsi lagi bahkan bisa dikatakan vakum. “Pemira merupakan pekerjaan yang mubadzir dan hanya membuang-buang dana, karena selama ini BEM Universitas belum memberikan konstribusi kepada mahasiswa” kata Hari, salah satu mahasiswa Fakultas Filsafat angkatan tahun 2008. Namun ada juga yang berpendapat lain. “Pemira merupakan salah satu kegiatan yang bermanfaat untuk melatih jiwa kepemimpinan dan belajar berpolitik” ujar Khoirul Atqiya, mahasiswa Fakultasi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik angkatan tahun 2007.

Setidaknya beberapa pendapat di atas patut menjadi bahan renungan. Universitas bisa di ibaratkan adalah pabrik sumber daya manusia. Dari kampus nantinya akan dihasilkan produk-produk sumber daya manusia. Manusia yang ahli ekonomi, sosiologi, politik, hukum dan teknik. Mereka adalah para intelektual yang natinya menjadi pondasi untuk terus berdirinya suatu bangsa. Mereka jugalah yang nanti akan menjadi calon presiden atau calon legislatif.

Cara pandang kita mengenai universitas sebagai pabrik SDM harus kita maknai lain. Bahwasanya universitas tidak hanya penghasil SDM pekerja tetapi merupakan ladang dimana benih-benih unggul ditanam. Artinya bahwa melalui kampus generasi apapun bisa dihasilkan termasuk para elit bangsa ini. Pasti pemegang elite di Negara kita adalah orang-orang yang sudah mengeyam bangku perkuliahan. Kita patut mengakui ada beberap para elit juga yang tidak alumni bangku kuliah, mereka adalah orang-orang yang tidak melalui proses regenerasi.

Kegiatan pemira merupakan hal positif dimana para generasi mudah melakukan proses pembelajaran. Proses dimana mereka mencari ide-ide yang paling ideal menurut mereka. Mereka melakukan proses dialektika membenturkan berbagai macam teori dan konsep. Bertarung dalam kontestasi politik kampus dengan mengusung ideologi masing-masing. Mereka adalah penerus yang akan menggantikan generasi tua. Mereka adalah proyeksi masa depan Indonesia. (dimuat di Kompas, 8 maret 2011).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s