Hidup Lebih Santun dengan Pemikiran Gus Dur

Judul : Melanjutkan Pemikiran dan perjuangan Gus Dur
Penulis : A. Muhaimin Iskandar
Penerbit : LKiS
Cetakan :I, Juli 2010
Tebal :xviii+182
Peresensi :MUHAMMAD KHOTIM

Kalau mau membaca catatan tokoh bangsa Indonesia, maka akan kita temukan Indonesia mempunyai banyak tokoh pemikir yang disegani di dunia. Siapa yang tidak kenal dengan Kihajar Dewantara dengan filosofi pendidikannya Taman Siswa, Soekarano dengan Nasioanlismenya, sampai Hatta dengan pemikiran ekonominya, dan masih banyak tokoh lainnya. Pertanyaannya masihkah pemikiran-pemikiran para tokoh bangsa ini sudah teraplikasi dalam kehidupan berbangsa bahkan menjadi bahan diskusi di setiap universitas atau dunia akademik?

Sebagaimana pepatah bilang bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya. Penghargaan itu tidak hanya terwujud melalui upacara formal setiap tahun atau acara taburr bunga. Tapi sebuah penghargaan yang lebih dari itu yaitu menyebarkan ajaran baik dari para tokoh bangsa. Bukannya pepatah bilang gajah mati meninggalkan gading. Maka manusia mati tidak meningglakna harta tapi jasa dan pemikiran. Karena itu akan selalu dikenang oleh masyarakat.

Di tengah gempuran budaya modern kita tidak menyangkal adanya krisis figure teladan di negara Indoesia. Hal ini sungguh sangat ironis. Bukannya kita mempunyai tokoh yang sangat berkualitas yang patut dijadikan teladan. Bahkan jarang sekali dimasyarakat bahkan di dunia akademik mendiskusikan pemikiran para tokoh bangsa. Untuk itu kita patut mengapresiasi usaha dari bapak muhaimin iskandar dengan menulis buku Melaanjutkan Pemikiran dan Perjuangan Gus Dur.

Terserah orang menilai Gus Dur seperti apa. Tapi bagi bangsa ini Gus Dur adalah sosok guru bangsa. Selama hidupnya di abdikan untuk memajukan dan menyebarkan perdamaina bangsa ini. Bahkan Gus Dur kita kenal sebagai sosok figure yang sederhana tapi penuh teladan. Lalu apa yang diberikan Gus Dur terhadap bangsa ini?

Di tengah kehidupan beragama yang perural banyak diantara kita yang menyerukan untuk saling bertoleransi dan bertenggang rasa. Tapi realitasnya justru masih banyak diantara kita yang masih terjebak dalam konflik. Agama hanya diartikan sebagai suplemen bukan sebagai komplemen. Agama merupakan bagian dari kehidupan berbangsa. Agama tidak hanya ajaran yang bersifat simbolik, norma, dan nilai yang bersifat legal-formal yang menilai sesuatu menjadi hitam putih.

Agama diturunkan kebumi adalah untuk kebaikan dan memudahkan hidup manusia beserta alam seisinya. Agama diturunkan bukan memberi beban, menakut-nakuti, atau menjadi ancaman bagi agama lain. Agama hadir untuk memudahkan tugas manusia sebagai kholifah di bumi dan mewujudkan kemaslahatan diantara mereka (hal 3). Maka tidak benar jika kemudian ada pemaksaan atau kekerasan terhadap pemluk agama lain.
Di tengah masa transisi dari sistem otoritarisme ke demokrasi bayak timbul perdebatan dikalangan umat islam. Apakah demokrasi sesuai dengan khasanah agama islam. Tapi bagi Gus Dur demokrasi merupakan manifiestasi dari tujuan syariat islam dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan negara yang pruralistik maka keutuhan dan persatuan bangas hanya akan terbentuk dalam sistem demokrasi. Untuk itu demokrasi merupakan harga mati.

Di Indonesia masalah penegakan HAM masih menjadi persoalan besar. Penjaminan hak-hak memang sudah di jamin dalam UUD tapi realitasnya banyak rakyat yang masih tertindas terutama hak-hak minoritas. Keprihatian Gus Dur tentang masalah ham bisa kita lihat dalam pemikirannya tentang pemaknaan agama. Agama turun ke bumi adalah untuk kebaikan manusia. Artikulasinya melalui syariat yang menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan, jaminan atas keselamtan akal dan fisik, jaminan atas keselamtan keluarga dan keturunan, jaminan atas profesi (pekerjaan), dan terkahir jaminan atas kebebasan berikir.

Salah satu bukti bagaimana beliau sangat perduli terhadap penegakan HAM adalah semenjak beliau menjadi president beliau mencabut inpres no 14/ 1967 tentang agama, adat istiadat, dan kepercayaan china. (hal 35).
Tidak hanya sampai disitu. Semasa hidupnya Gus Dur dengan gigih membela kaum minoritas. Hal ini tidak lain karena masih banyak masyarakat kita yang mengejawentahkan kehidupan bertoleransi hanya dalam tataran hidup rukun. Penulis sebagai salah satu orang kepercayaan dan orang dekat Gus Dur sangat faham bahwa Gus Dur sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Tidak memandang ras, adat, dan agama. Toleransi tidak hanya terwujud dalam hidup harmonis tapi terwujud dalam bentuk dialog.

Di tengah kehidupan bernegara yang prural, pemikiran-pemikiran Gus Dur menjadi sangat relevan. Tidak hanya dalam dataran konsep tapi realitas yang ada mendesak kita untuk segera mengaplikasikannya. Apalagi disintegrasi bangsa saat ini terancam oleh pemaknaan sempit tentang agama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s