Ayo Belajar!

Entah apa yang terjadi di negeri ini. Persoalan demi persoalan seolah tidak kunjung selesai. Bahkan persoalan-persoalan banyak yang menumpuk tanpa ada ujung penyelesaian. Padahal bangsa ini sudah mencapai usia 65 tahun. tapi kalau boleh jujur saya menganggap Indonesia sudah lama ada sebelum kemerdekaan 1945.
Dalam periode tersebut peristiwa demi peristiwa telah menempah perjalanan bangsa. Lihatlah mulai dari era penjajahan Belanda, Jepang, samapi era kemerdekan dibawa rezim orde lama, orde baru, sampai sekarang era reformasi. Masing-masing era telah memberikan pembelajaran terhadap bangsa. Belanda memberikan pelajaran bagaimana penjajahan telah menyebabkan kesengsaraan dan kebodohan. Jepang dengan begitu kejamnya menyuruh kerja paksa. Orde lama mengajari bagiaman efek dari demokrasi terpimpin, sampai era orde baru yang mengajari bagaiman akibat dari sistem otoriter.
Memang masing-masing rezim telah mengajari bangsa ini. Baik yang mengadung sisi positif maupun negatif. Tapi satu yang patut menjadi perhatian kita adalah kejadian demi kejadian tidak pernah kita ambil hikmahnya dan terulang kembali. Memang bukan peristiwa yang sama tapi esensinya sama.
Contoh kecil adalah Dunia persepak bolaan Indonesia. berapa kali kejadian tawuran seporter terjadi. Tawuran di lapangan antara pemain dengan wasit dan pemain dengan pemain. Bahkan berapa kali para pemain walk out gara-gara keputusan wasit yang dianggap tidak adil.
Harapan seolah bertepuk sebelah tangan. Di struktur kepengurusan gembar-gembor akan menciptakan persepakbolaan professional. Berbagai cara dilakukan termasuk memberi sanksi dan denda. Faktanya berapa kalu dan jumlah dendan yang dikenakan kejadian yang sama terulang berulang kembali. Padahal kalau kita lihat rakyat sangat menggemari olah raga sepak bola. Seharusnya para pengurus PSSI dan Klub sadar bahwa kita bisa menciptakan perubahan melalui sepakbola. Rakyat ingin menyaksikan pertandingan sepak bola yang baik aman dan menghibur bukan tawuran.
Kalau kita tidak ingin para supporter brutal dan bertindak anarkis (negatif) para pemain juga harus memberikan contoh. Bukan malah justru memancing penonton untuk bertindak anrkis dengan berlaku tidak suportif.
Hari ini kamis (03/02/11) kejadian itu terulang. Pertandingan ISL antara Persisam Samarinda Vs Deltras Sidoarjo diwarnai ketidak sedian para pemain Deltras melanjutkan pertandingan. Gara-garanya keputusan wasit mengesahkan gol Persisam di menit 88. Mereka mengklaim sebelum bola dioper ke choi dong so bola sudah keluar.
Bagi saya hal ini sungguh memalukan. Memang ketika kita merasa dicurangi pasti merasa sakit. Tapi apa kemudian kita harus bersikap negatif yang tidak perlu. Padahal pertandingan tersebut disiarkan langsung oleh salah satu TV nasional yang berarti bisa disaksikan oleh seluruh rakyat Indonesia. Bukankah ada sebuah sistem. Dimana sistem itu nanti akan menindak siapapun yang dianggap bersalah selama bisa dibuktikan.
Bagi saya itu aneh, ngomongnya ingin menjadikan sepak bola Indonesia profesioanl la kok malah member contoh yang tidak professional. bukankah banyak contoh yang bisa kita gunakan sebagai bahan refleksi. Contohnya persepakbolaan eropa atau mungkin liga lain yang sudah professional. Mereka tidak akan melakukan walk out di tengah pertandingan. Bagi mereka tugas pemain adalah bermain untuk masalah kecurangan bisa di urus nanti di pengadilan atau tugasnya lembaga sepakbola yang sudah dilegitimasi.
Masih ingatkah piala dunia 2010 di Afrika. Pertandingan antara inggris vs jerman. Ketika itu tendangan lampard sudah jelas masuk dilihat dari siaran ulang. Tapi karena wasit tidak jeli menganggap itu tidak gol. Tapi para pemain menghormati keputusan tersebut tidak walk out.
Jarang kita temukan di liga yang sudah professional ada pemain yang walk out gara-gara kesalahan wasit. Padahal liga yang kita banggakan ini sudah berlangsung lama, dan setiap musim mengusung profesinalisme persepakbolaan Nasional.
Bukankah kita ini manusia dan manusia senantiasa belajar. Seperti dalam teori kognitif sosial dijelaskan bahwa manusia hidup dan berkembang selalau menyerap apa yang ada dilingkungannya. Dia akan memasukkan dalam ingatannya kemudian akan memilah dan memilih. Apa yang patut ia tiru atau tidak. Bukankah kita bisa tahu api panas setelah kita pernah merasakan panas. Kemudian kita akan berusaha untuk tidak terkena panasnya api.
Kalau begitu bangsa ini termasuk bangsa yang senang bermain dengan api padahal sudah tahu kalau api itu bisa berbahaya? Mau gimana lagi? Kalau ingin professional mari laksanakan bukan cuma omong doan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s