MENDEKONTRUKSI IDEOLOGI

Judul : Matinya Ideologi
Penulis : Danill Bell
Penerjemah:Nuswantoro
Penerbit :INDONESIATERA
Cetakan :I, 2001
Tebal :XV+161
Peresensi :MUHAMMAD KHOTIM*

Sejarah mengenalkan kita terhadap kehidupan masa lampau. Bahkan mendorong kita untuk melakukan sebuah renungan dan analisa terhadap masa lampau. Bahkan tidak hanya sebatas mengenalkan, justru sejarah telah membawa kita merasakan kehidupan yang di pengaruhi oleh masa lamapu. Karena sejarah diyakin tidak mandeg dalam dataran teks dan ingatan tapi masih terus berjalan dan membentuk rangkaian peristiwa-peristiwa yang lain.

Begitupun jika kita mencoba mempelajari sejarah perkembangan ideologi-ideologi terutama ideologi besar di dunia. Dikatakan ideologi besar karena memang dari segi cakupan pengaruh dan penganutnya cukuplah luas. Bagaimana kita lupa, dengan ajaran Marx yang pada waktu itu disebut sebagai setan yang menghantui dunia. Tidak jauh berbeda dengan Marx, Negara-negara Eropa dan Amerika dengan bangga mengenalkan revolusi industry. Dengan mengusung nilai liberalisme mengangkat kedudukan individu di atas segala-galanya. Tapi satu hal yang sebenarnya menjadi tujuan mereka yaitu mencapai sebuah tatanan kehidupan yang lebih baik, secara ekonomi, politk, dan sosial. tapi apakah dengan idelogi bisa menjawab harapan mereka?

Patut kita cermati adalah ulasan Bell. Dari persoalan-persoalan tersebut Daniel Bell mencoba membuat uraian kritis mengenai ideologyi. baginya ideologi adalah sebuah pemikiran utopis yang tidak memberikan kepastian apa-apa. Buktinya ideologi telah membawa manusia pada perang dan konflik berkepanjangan. Bahkan telah menelan banyak nyawa. Dengan rinci Bell menjelaskan kritiknya dalam bukunya yang berjudul Matinya Ideology. lalu apa yang coba bell jelaskan memalu buku tersebut?

Mendekontruksi ideologi

Tidak jarang orang mengatakan sebagai seorang ideolog. Dengan membabi buta mengatakan bahwa ideologyi merupakan jalan satu-satunya mendapatkan tata kehidupan yang lebih baik. Nyatanya ideologi hanya menjadi alat legitimasi yang digunakan oleh sebuah rezim. Tidak hanya untuk memperkokoh kekuasaannya tapi juga melakukan ekspansi kenegara lain. Lalu apakah ideology kita maknai sesempit itu? Dan hanya kita gunakan dalam hal politis saja?

Fran Magsus Suseno membagi kategori ideologi menjadi tiga. Pertama ideology penuh, kedua ideologi terbuka, dan ketiga idelogi dalam arti implicit dan tersirat. Pembagian tersebut didasarkan begitu luasnya cakupan ideologi. Faktanya penerapan ideologi tidak sama bagi setiap orang, masyarakat, dan Negara. Ketika ideologi dikategorikan penuh karena memang pengertian ideologi diterapkan secara menyeluruh bahkan samapi setiap sendi kehidupan, baik, nilai norma. Sedangkan ada juga yang hanya menerapkan ideologi hanya sebatas contoh, bisa dipakai atau tidak.

Tidak jauh berbeda dengan para pakar yang mendefinisikan makna ideologi. Bell mendefinisikan ideologi tidak hanya sebatas sistem kepercayaan tapi suatu kompleksitas ide-ide yang khusus dan berpengarauh. Lebih jau jauh bell membatasinya pada konteks abad 19. Karena pada waktu itu ideologi berkembang dengan cepat. Salah satunya adalah yang di pelopori oleh Marx yang kita kenal dengan marxisme.

Sebagai serang ahli sosiologi bell melihat ideologi dari perspektif lain. Berbeda dengan pendahulunya yang sebagian besar memandang ideologi dari perspektif politik. Dasar teorinya menggunakan sosiologi sebagai perspektif, Bell mencoba menganalisis adanya relevansi nilai-nilai atau norma yang diyakini masyarakat dengan tindakan sosial. bell berkesimpulan seperti itu berdasarkan fakta. Bagaimana ideologi menjadi satu keyakinan yang menggerakakkan manusia.

Namun patut dicatat bahwa sejarah telah memperlihatkan dengan jelas bagaimana kemudian ideologi gagal menjawab permasalahan yang sedang dialami masyarakat. Justru sebaliknya ideologi menjadi salah satu sumber konflik. bahkan telah menyebabkan perang dan menimbulkan banyak korban. Bahkan ideologi telah menjamaah banyak aspek kehidupan. Tidak hanya persoalan politik, ekonomi, sosial, bahkan budaya. Bagi bell ideologi tidak lagi bisa menjadi satu-satunya keyakinan penuh untuk mencapai tatanan kehidupan yang lebih baik. Untuk itu dalam buku ini bell berpendapat bahwa ideologi sudah tidak bisa menjadi satu-satunya jalan mencapai cita-cita bersama atau ideologi telah mati. Bagi bell resikonya terlalau besar, faktanya dunia telah berkekembang begitu cepat. Bahkan ekonomi menjadi penggerak utama.

Namun bukan berarti ideologi kemudian ditinggal. Bagi bell pendekatan ideologi sebagai satu-satunya alat untuk mencapai sebuah cita-cita bersama. Banyak faktor yang sebenarnya patut di perhatikan. Salah satunya adalah ekonomi yang sekarang ini telah mendorong berbagai Negara untuk sebisa mungkin meningkatkan perdagangan.

Menariknya dalam buku ini Bell mencoba mendeskripsikan masyarakat Amerika yang kita kenal sebagai penganut ideologi kapitalisme. Banyak orang salah memahami masyarakat amerika, terutama pandangan masyarkat eropa. Bell mencoba mengangkat bahwa tumbuhnya ideologi kapitalisme Amerika justru dimulai dari bisnis keluarga. Kompleksitas kehidupan masyarakat Amerika kemudian menuntut Bell mencoba mendekontruksi kembali toeri massa. Selama ini pengertian yang berkembang menyatakan bahwa kemjuan teknologi informasi telah meleburkan masyarakat dunia. Kejadian-kejadian dibelahan dunia yang lain akan menyebabkan pengaruh di daerah lainnya.

Namun bukan berarti tidak ada kontroversi. Bell juga mendapat banyak kritikan dari berbagai ilmuan. Bagi para ahli judul yang dikemukakan Bell terlalu fulgar. Banyak yang berpendapat bahwa tidak mungkin sebuah ideologi mati. Faktanya sampai sekarang banyak kalangan berjuang mati-matian mencapai tatanan yang ideal dengan memakai nama ideologi. yang patut mendapat perhatian sekarang adalah apakah konsep ideologi benar-benar mati atau memang butuh pengertian yang lebih komprehensif. Untuk itu buku yang dikarang Daniel bell ini patut dibaca terutama bagi para mahasiswa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s