Nothing is Impossible

Setiap orang pasti pernah mersakan kegundahan di dalam hidupnya karena memang begitulah hidup. Bahkan tidak jarang kita menemukan banyak sekali pelajaran baik dari buku-buku maupun kenyataan empiris bahwasanya hidup manusia sungguh harmonis. Adakalanya kita senang tidak lama kemudian kita mengalami kesedihan. Selalau ada hal yang positif dan negatif yang muncul sebagai hal penyeimbang. Bukankah ada malam ada siang ada laki-laki dan perempuan dan seterusnya.

Begitupun apa yang kursakan saat ini. Aku merasa gunda. Bukan tidak lain karena beasiswaku hanya empat tahun padahal awal kontrak yang aku tanda tangani 5 tahun. aku tidak tahu apa ada perubahan dalam kontrak tersebut.

 

Memang si tinggal skripsi tapi masalah baru muncul, setelah lulus apa yang bisa aku lakukan? Aku harus mengabdi ke pondok institusi yang telah menjadi perantra akua dapat beasiswa.
Kalau bisa aku menulisnya dan menceritakannya buku ini mungkin bukan artikel tapi akan menjadi sebuah novel. Tapi biralah menjadi angan-angan sambil menulsi sedikit beberapa permasalahn yang aku hadapi serta mencari slusinya. Di tengah kegundahan itu tiba-tiba saya teringat akan sebuah rumus tuhan. Apakah rumus tuhan itu? Marilah kita

 

mencoba mempelajari rumus tuhan dan semoga dapat mengambil hikmahnya.
sebenarnya tuhan telah membuat sebuah rumus dan itu sungguh-sungguh rumus tuhan dalam kitab sucinya Al- Qur’an. Masih ingatkah kita tentang surat alam-nasra (surat 5-6), yang artinya “ maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” Di sini tuhan telah menjelaskan kepada kita bahwa sanya tuhan akan memberikan kemudahan bagi orang yang mau berusaha. Tuhan akan membalas jeripaya seseorang. Dengan kata lain jika kita melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh walaupun itu terkadang tidak mungkin bagi

 

orang lain pasti kita akan diberi jalan untuk melakukannya.
Memang secara ilmiah tidak bisa dijelaskan tapi mungkin menjadi pekerjaan rumah bagi para Ilmuan. Namun pelru dicatat kenyataan empiris membuktikan berbeda. Masih ingatkah teori relativitas eistein yang mengatakan tidak ad

 

a yang tetap di dunia ini secara logika berarti segala sesuatu masih menyimpan kemungkinan-kemungkinan lain. Jika kita mempararelkan teori eistin tersebut dalam realitas kehidupan mungkin ada benarnya. Saya mungkin sering merasakannya. Bahkan terkadang saya menemukan kenyataan itu pada diri saya dan teman-teman.
Saya mempunyai teman, dulu adik kelas sya bahkan satu desa dan tetangga. Namanya Muflikhun Peternakan UGM 2008. Secara ekonomi keluarga ini termasuk menengah bawah. Bahkan teman saya hanya mempunyai ibu karena bapaknya sudah meninggal. Jadi missal untuk melanjutkan pendidikan tinggi apalagi Negeri bisa dibilang tidak bisa

 

. Tapi kenyataannya teman saya bisa diterima di UGM yang terkenal mahal. Uniknya teman saya medapat beasiswa dari Departmen Agama.
Teman saya yang lain namanya Amiatuz Zuhriyah 2007 Komunikasi UGM. Bisa dibilang sama seperti teman saya yang pertama. Berasal dari keluarga menengah bawah. Bedanya masih mempunyai ayah dan ibu. Bahkan ayahnya adalah pedang kerupuk sedangkan ibunya buruh cilok di desanya. Tidak kebayanng dalam hidupnya bisa kuliah di UGM. Bahkan dia sangat mensyukuri bisa kuliah di Perguruan Tinggi Negri. Sama seperti teman saya yang pertama dia jug

 

a mendapat beasiswa dari Departemen Agama.
Yang lebih mengharukan lagi teman saya Aris pertanian UGM 2008. Masuk UGM lewat jalur penelusuran bibit unggul tidak mampu. Pergi ke ugm hanya meminta doa restu ibu. Dengan menumpang trek pengangkut garam, kemudian

 

selama beberapa hari menumpang di masjid sebagai tempat tidur. Tiba-tiba muncul menjadi pengusaha muda mandiri lewat juara beberapa kompetisi dan menjadi pengusaha burger jamur. Dulunya sering pinjem uang teman sekarang justru meminjami teman yang tidak punya uang.

 

Saya sendiri adalah anak seorang petani. Secara ekonomi saya juga termasuk menengah bawah. Logikanya jika nanti saya melanjutkan keperguruan tinggi maka pasti tidak mampu. Tapi kenyatannnya saya bisa masuk ugm. Yang lebih mengharukan lagi cerita teman saya anak pertanian UGM.

 

Contoh di atas bukanlah sebuah rekayasa, tapi sebuah fakta empiris. Bukankah Einstin dengan teori relativitas

 

mengatakan tidak ada yang tetap di dunia ini. Maka sebagai manusia janganlah mengeluh atau bahkan putus asa menghadapi masalah apapun. Bukankah tuhan telah berjanji setelah kesulitan ada kemudahan. Maka yang harus dilakukan adalah berusaha dan terus berusaha. Senjata yang paling ampuh adalah kesungguhan dan kegigihan. Bah

 

kan untuk zaman modern sekarang senjata yang perlu kita pegang adalah kesungguhan.
Kalau begitu di dunia ini tidak ada sesuatu yang tidak mungkin (nothing is impossible). Yang perlu kita lakukan adalah melakukan apa yang bisa kita lakukan. Mengeluh adalaha pekerjaan yang pasti mendatangkan ketidakberhasilan, tapi kesungguhan bisa mewujudkan yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin bahkan akan memunculkan

 

kemungkinan-kemungkinan yang lain.

 

Apakah dulu orang kebayang bisa berkomunikasi dengan orang lain yang berbeda waktu dan tempat. Bahkan bisa secara face to face melalui benda elektronik. Buktinya sekarang d

 

imanapun dan kapanpun bisa saling berinterakasi dengan kecanggihan teknologi yang bagi orang dulu tidak mungkin.
Jika kita sudah tau rumus seperti itu apa kita akan berdiam saja? Atau justru sebaliknya kita akan menjadi orang yang berusaha dan terus berusaha? Silakan pilih!

 

2 thoughts on “Nothing is Impossible”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s