Seperti Apakah Pak SBY?


Iseng-iseng dalam lamunan saya, teringat guyonan ala mantan president Gus Dur.  Ketika beliau ditanya dalam suatu wawancara tentang terpilihnya beliau menjadi president beliau menjawab dengan unik khas gaya Gus Dur. Beliau menjelaskan bahwa dalam sejarah Indonesia dari president yang pertama sampai keempat itu penuh dengan kegilaan. President pertama gila wanita, president kedua gila harta, president ketiga gila teknologi, president keempat rakyatnya yang gila.

Dalam lamunan kemudian saya berfikir sekiranya julukan apa yang akan Gus Dur berikan kepada president kelima Indonesia. Patut disayangkan Gus Dur terlebih dahulu pulang kehadirat Tuhan sebelum beliau memberikan julukan “guyon”  kepada president kelima Indonesia. Tapi saya mengambil hikmahnya  bahwa mungkin Gus Dur sengaja tidak mengeluarkan julukan itu tapi memberikan tugas itu kepada rakyat Indonesia.

Pepatah bilang orang mati itu dikenang karena jasanya bukan hartanya. Ungkapan itu sepatutnya menjadi bahan renungan bagi kita semua. Khususnya bagi para orang yang diberi amanah memegang kekuasaan. Bukankah kita semua pemimpin. Dan setiap pemimpin pasti akan dikenang baik oleh kelurganya (rumah tangga) atau oleh rakyat (negara). Namun pertanyaannya adalah mau dikenang sebagai pemimpin seperti apa? Mengutip dari film “My Name Is Khan” tokoh utamnya khan diajari ibunya bahwa di dunia hanya ada dua jenis orang yaitu orang baik dan buruk. Jadi cuma ada dua pilihan dikenang sebagai pemimpin yang baik atau buruk? Silahkan pilih!

Kalau pak SBY itu pemimpin jenis yang mana? Kalau pertanyaan itu bisa kita jawab mungkin kita bisa memberikan julukan “guyon” yang tepat sebagaimana yang Gus Dur inginkan. Paling tidak kita punya ukuran untuk menilai pak SBY. Pertama, mengenai penegakan HUKUM, kedua mengenai kesejahteraan sosial, dan ketiga pemerintahan.

Pertama Hukum, Dari awal masa kepresidenan pak SBY terutama program seratus hari. Ekspektasi rakyat sangat luar biasa. President dengan tegas akan menegakkan supremasi hukum. Hukum akan ditegakkan pada siapapun dari tingkat bawah sampai atas. Langkah realnya beliau kemudian mengupayakan agar peran Jaksa agung, polri, dan KPK bisa bersinergi. Lembaga-lembaga ini nantinya menjadi unjung tombak penegakan HUKUM.

Tapi ibarat panggang jauh dari api. Justru lembaga penegak HUKUM menjadi mainan para mafia HUKUM. Kasus penyuapan terhadap Jaksa Agung muda urip menampar kejaksaan begitu telak. KPK yang diharapkan bisa menjaring koruptor menjadi mainan para koruptor. Kasus yang menimpa Chandra dan Bibit sebagai ketua KPK menjadi bulan-bulan di media. Bahkan pemimpin utamanya Antasari Azhar terlibat kasus pembunuhan berencana. Hal itu menyebabkan KPK fakum cukup lama. Tidak jauh berbeda dengan nasib dua lembaga penegak Hukum tersebut, Polri justru terlibat berbagai kasu yang lebih rumit, kasus Susno Duaji, rekening para pejabat polri yang menggelembung. Bahkan yang terbaru, bagaimana polri bisa kecolongan dengan kaburnya gayus dari tahanan. Bisakah kita mengandalkan lembaga kita? Silakan menjawab dengan argument masing-masing.

Kedua Kesejahteraan sosial, Pasti kita ingat dari tahun ketahun, pemerintah selalau mengklaim bahwa angka kemiskinan menurun. Padahal angka penurunannya sangat kecil, tapi pemerintah membesar-membesarkan. Kalau kita semua mengikuti berita di media, pasti ingat ada sebuah berita yang mengagetkan, salah satu rakyat di Indonesia meninggal gara-gara keracunan makan singkong. Rakyat semakin bingung lantaran harga kebutuhan pokok makin hari makin mahal. Lombok yang tadinya sekilo harganya 15 ribu menjadi samapi 100ribu, uniknya petani yang menanam tidak menikamati mahalnya harga cabe tapi para tengkulak. Kita juga masih belum pernah dengan kalau para petani sejahtera adanya adalah petani mengeluhkan murahnya harga gabah, mahalnya harga pupuk dan peptisida. Dalam hal usaha rakyat masih kesulitan dalam memperoleh modal karena rumitnya persaratan di bank. Apakah ini bisa dikatakatan sejahtera?

Ketiga Pemerintahan. Dari awal president SBY mengatakan akan menciptakan pemerintahan yang bersih. Bersih dari apa? Justru yang ada adalah pemerintahan  yang korup. Pemerintahan Daerah dari Aceh sampai Papua tersandra Korupsi (kompas,24/1). Bahkan beberapa kepala daerah yang terpilih justru terlibat kasus korupsi.   Bahkan lembaga sekalas DPR tidak luput dari kasus Korupsi. Bahkan yang terbaru DPR sering melakukan pelesiran keluar negeri, yang itu menurut logika tidak bermanfaat. Bahkan tidak ada transparansi mengenai anggaran. Bisakah itu dikatakan pemerintahan yang bersih?

Tapi ditengah kemelut ketidak beresan di Negara ini, presiden dengan santai dan diplomatis selalau memerikan jawaban yang normative. Sesungguhnya ditengah kemelut tersebut president adalah kunci membongkar ketidak beresan dan membereskannya. Solusinya bukan dengan mengajak dialog dengan tokoh agama. Bukan dengan inturuksi kepada satgas. Sudah saatnya pemerintah meninggalkan pencitraan. Permasalahn tidak selesai dengan pencitraan. Tapi tindakan. Bukannya pak SBY menangis dan Curhat!

Kalau Almarhum Gus Dur sudah memberikan pendapat president dari awal samapi empat, maka boleh saya katakana pak SBY adalah president yang gila “Nama Baik” setujukah anda? Terserah anda saya yakin masing-msaing punya penilaian. Paling tidak saya sudah memberikan beberapa argument.

One thought on “Seperti Apakah Pak SBY?”

  1. Percayalah semua ini saya lakukan demi kabaikan anda dan saya akan slalu menunggu hal itu juga perlu anda ketahui saya tidak sedikitpun membenci anda dan saya tidak ingin anda menyesal di akhirat kelak percayalah sebaik ~ baiknya penyesalan hanya saat kita berada didunia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s