Teori Interkasionisme Simbolik

Teori interaksionisme simbolik (Goerge ritzer)

–          Teori ini didasarkan pada dua pemikiran pokok, yaitu filsafat pragmatis dan behaviorisme psikologi.

–          Filsafat pragmatism menjelaskan bahwa realitas ciptakan secara aktif ketika kita bertindak di dalam dan terhadap dunia nyata, kemudian bahwa manusia mengingat dan mendasarkan pengetahuan mereka mengenai dunia nyata pada apa yang telah mereka buktikan berguna bagi mereka.

–          Manusia mengelompokkan objek social dan fisik terhadapa apa yang mereka temukan didunia nyata sesuai dengan kegunaan mereka.

–          Bila kita memahami actor social maka kita harus mendasarkan pemahaman itu atas hal-hal yang sebenarnya mereka kerjakan atas dunia nyata.

Pemahaman terhadap teori interaksionalisme simbolik didasarkan atas kegiatan interpratasi terhadap subjek idnividu. Dimana dengan menggunakan perspektif fenomenologi yang menempatkan pandangan bahwa  kesadaran manusia dan makna subjektif sebagai focus memahami tindakan social. Teori tersebut menitik beratkan pada individu, dengan demikian berusaha menganalisis interaksi individu pada tataran mikro. Berarti yang perlu dikaji adalah iteraksi individu secara kecil dalam bentuk face to face.

Manusia adalah makhluk yang berfikir, dan kemampuan berfikir itu dibentuk oleh interaksi dengan yang lain. perlu diingat kembali bahwa toeri interaksionalisme simbolik menitik beratkan pada interkasi mikro yang terjadi dalam keseharian, yang melibatkan objek dan kejadian yang sedang berlangsung.

Pengertian yang lebih sederhana dan mudah difahami telah dikembangkan oleh Herbert Blumer dan George Herbert Mead, yang menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang berfikir, memahami, dan berperasaan, yang kemudian memberikan pengertian terhadap setiap keadaan, yang melahirkan reaksi dan intepretasi kepada setiap rangsangan-rangsangan yang dihadapi.

Reaksi dan intepretasi itu kemudian diwujudkan memalui pemaknaan terhadap symbol-simbol, atau komunikasi bermakna melalui gerak, bahasa, rasa simpati, empati, dan melahirkan tingkah laku lainnya yang menunjukkan reaksi atau respon terhadap rangsangan-rangsangan yang datang pada  dirinya. Respone itu kemudian sering sekali terpengaruh oleh karakteristik individu seperti, status social, situasi relasional, dan motivasi yang dimiliki.

Ada beberapa aturan dalam penggunaan metode interaksionisme simbolik. Mengutip dari bukunya dedy mulyana (2001:71-73)

Pertama, Individu merespon suatu situasi yang khas bernama simbolik. Penjelasannya begini, ketika manusia berinteraksi dengan lingkungannya maka manusia akan merespon terhadap apa yang mereka hadapi (benda maupun perilaku manusia). Kemudian akan memberikan pemaknaan sesuai dengan makna yang terkandung pada benda atau perilaku manusia tersebut. Missal. Ketika kita melihat seseorang membawa parang maka kita akan memaknainya dia akan berkebun atau bisa jadi akan menebas kita. Atau ketika kita melihat mimic wajah yang cemberut maka kita akan memaknainya dia marah kepada kita, karena makna mimic wajah seperti itu mempunyai makna marah atau tidak suka.

Kedua, makna adalah produk interaksi social karena makna tidak melekat pada objek, melainkan dinegosiasikan lewat bahasa. Sederhanya begini. Pemaknaan terhadap warna merah. Pada konteks lampu merah maka kita mempunyai makna berhenti, sedangkan ketika didiskotik makna lampu merah berarti mengajak kita untuk turun dan menari. Artinya bahwa pemaknaan terhadap suatu objek merupakan hasil dari interaksi bukan dari makna yang melekat pada objek. Makna tersebut merupakan hasil dari negoisasi, yang diwujudkan melalui bahasa dan symbol.

Ketiga, makna yang diintepretasikan individu dapat berubah dari waktu kewaktu, sejalan dengan perubahan situasi social. Ini didasarkan pada kemampuan manusia yang bisa melakukan proses mental,yaitu berkomunikasi dengan dirinya sendiri. atau pada ilmu komunikasi kita sebut sebagai komunikasi intrapersonal. Contoh, ketika si A berinteraksi dengan si B. maka dalam mengeluarkan pembicaraan si A akan selalu berhati-hati dalam mengeluarkan pembicaraan. Si A akan selalu memikirkan reaksi si B sehingga dia akan selalu mencari kata-kata yang sekiranya tidak membuat si B marah atau sebaliknya.

Toeri interaksionisme simbolik memiliki subtansi yaitu kehidupan masyarakat terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi antarindividu maupun antarkelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahami maknanya melalui proses belajar dan memberikan tanggapan terhadap stimulus yang datang dari lingkungannya dan dan dari luar dirinya. Tindakan itu merupakan sebuah tindakan intepretasi terhadap stimulus yang datang.

Dapat dikemukakan beberapa asumsi dan proposisi umum sebagai berikut. Pertama, fisik manusia mampu menginterpretasikan simbol secara verbal melalui bahasa serta memahami makna dibalik simbol. Kedua, melalui simbol manusia mampu menstimulir orang lain. ketiga, melalui kegitan mempelajari simbol dan menyimbolkan manusia belajar melakukan tindakan bertahap. Ketiga, simbol, makna dan nilai-nilai tidak hanya dimiliki oleh individu dan terpisah tapi bisa dalam bentuk kelompok dan mempunyai cakupan yang luas dan kompleks. Kelima, berfikir merupakan proses pencarian kemungkinan-kemugkinan yang bersifat simbolis dan proses mempelajari tindakan yang akan datang.

One thought on “Teori Interkasionisme Simbolik”

  1. Good…

    Tapi kang, keterkaitan interaksionisme dengan fenomenologi apa ya?
    ko’ polanya hampir sama begitu?
    tolong penjelasan kang khotim… hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s