Bangkit Kaum Muda NU

Dalam sebuah obrolan kecil, yang awalnya adalah sebagai forum silaturrahim muncul sebuah gagasan yang besar. Di awalwi dengan sebuah pertanyaan-pertanyaan kecil mengaenai sejarah berdirinya NU, tak disangka kemudian menjadi sebuah forum untuk mendekontruksi makna dari sebauh arti makna NU. Tak disngka selama ini kita terjebak oleh defines mengenai makna NU. Dari masa pendiriannya sampai sekrang kata NU telah mengalami penyempitan. Tidak mengerti kenapa kita terjebak dengan makna NU yang didefinisikan dengan searamlengkap.

Penyempitan ini tidak diketahu kenapa bisa terjadi. Tidak diketahui pula apakah dibalik penyempitan makna tersebut ada pihak yang sengaja melakukan itu, atau memang kita sendiri terjebak oleh tradisi dalam memaknai kata NU. Sebagai organisasi yang didirkan oleh para ulama kita kurang memaknai latar belakang berdirinya orgaisasi tersebut. Selama ini yang kita ketahui adalah bahwa NU didirkan oleh para ulama. Dan sejatinya pula pendiriannya salah satunya adalah instrument untuk membela kepentingan kehidupan islam ahlusunnah waljama’ah. Itu memang tidak salah tapi perlu kiranya melihat kontkes kenapa oragnisasi itu didirikan, kenapa pula harus didirikan disurabaya padahal ulama yang menjadi inisiator berada dijombang? Apa makna sebenarnya dari makna NU?. Ini kirinya banyka yang luput dari kebanyakan para warga NU. Rasa tawadu terhadap para kiyai bisa jadi menjadi sebuah awan besar yang menghalangi kita untuk berfikir rasional.

Diakaui atau tidak dalam sejarah pendirian, berdrinya NU adalah sebagai respon terhadap terancamnya kehidupan bermadzab yang terjadi di arab saudi. Ketika itu arab saudi mengalami transisi pergantian kepemimpinan. Raja yang baru merupakan raja yang mengaNUt faham wahabi. Faham wahabi tidak menerima kehidupan bermadzab, tidak menerima kegiatan keagaman yang bersifat bid’ah. Dari faham itu maka ada kebijakan untuk memusnahkan segala macam bentuk-bentuk sumber bid’ah dan ditakutkan terjadi kesyirikan termasuk memusnahkan makam nabi muhammad.

NU sebagai salah satu firqoh dalam ajaran islam yang mengaNUr faham ahlusunnah waljama’ah sangat prihatin dengan hal itu. Karena dianggap akan membahayakan kehidupan ummat islam terutama kehidupan bermadzab. Untuk menghendaki supaya kehidupan bermadzab bisa dihormati. Untuk itu maka para ulama mendirikan NU sebagai wadah untuk instrument menyalurakan asprasi tersebut.

Sebenarnya latar belakang berdirinya tidak hanya karena terancamnya kehidupan bermadzab oleh kaum wahabi. Tapi lebih dari itu.  Bahwa sesungguhnya berdirinya NU adalah merupakan sebagai bentuk kematangan intelelktual kaum mudah NU yang mempunyai pandangan kedepan. Maka kita bisa menghubungkannya dengan pertanyaan kedua, mengapa NU harus berdiri di surabaya? Bukankah para kiyai berada dijombang?.

Ketika itu disuarabaya sudah ada yang namanya nahdlotul tujar, nahdlotul wathon, tanswirul afkar. Organisasi tersebut tumbuh dan berkembang dibawah oleh para pemuda yang mempunya pemikiran kedepan. Nahdlotur tujar sebagai wadah bagi para pemudah untuk berdiskusi dan membecirakan permasalahan-permasalahn yang sedang terjadi terutama menyangkut masyarakat kecil. Nahdlotul wahton sebagai wadah untuk para pemuda yang perduli terhadap bangsa dan negara. Sedangkan tansfirul afkar sebagai wadah perorganisasian ekonomi. Ketiga komponen dianggap sebagai bahan dasar yang sudah lengkap untuk pembentukan nahdlotul ulama.

Bolehlah kita memaknai NU sebagai kebangkitan para ulama. Itu memang benar dan tidak salah. Tapi kemudian kita terjebak pda pemaknaan yang sempit pada kata “ulama”. Selama ini kita memaknai kata ulama sebagai kiyai. Karena kiyai adalah orang yang alim, yang mempunyai ilmu agama yang tinggi, do’anya manjur, dan diharapkan barokahnya. Padahal secara bahasa kata ulama berarti adalah orang yang berilmu, seorang intelektual, seorang cendikiawan. Dengan begitu maka sesungguhnya organsasi NU berdiri adalah untuk mengkomodasi para ilmuan, cendikiawan, dan inteletual.

Pemaknaan yang salah terhadap NU, telah menimbulkan penyempitan pemikiran, akibatnya organisasi ini secara kualitas tidak bisa berkembang. Tidak elok ketika kemudian para pemegang tampuk kepemimpinan adalah para ulama, seorang yang di ta’ati, dipatuhi, dimulyakan menggunakan NU sebagai alat untuk mempertahankan status quo. Tidaklah salah memang ketika para ulama tersebut menjadi pemimpin tapi regenerasi kepemimpinan seperti itu telah meghambat NU yang secara kuantitas besar menjadi organisasi yang secara kualitas buruk. Hanya berputar pada tradisi yang kolot yag tidak melihat kesalahan dan memperbaiki tapi terlena dengan kedudukan pemimpin.

Melihat latar belakang sejarah tersebut sudah menjadi kewajiban kita sebagai generasi mudah NU untuk menyadari bahwa masa depan NU berada ditangan kita. Dari itu maka intregritas antara kaum mudah sebagai motor, dan kaum tua sebagai penyokong harus solid. Masing masing menyadari posisi dan fungsinya.

 

3 thoughts on “Bangkit Kaum Muda NU”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s