Sapi Lereng Gunung Merapi

Mungkin aku hanya binatang, tapi aku binatang yang membawa rizki. Sebagian besar orang memelihara aku, merawatku bahkan menggantungkan hidupnya kepadaku. Tiap hari aku arus menghasilkan susu perahan untuk dijual, menutupi kebutuhan ekonomi penduduk yang memilhara diriku. Di lereng gunung merapi ini  sebagian besar penduduk memelihara diriku. Bahkan diatara penduduk ada yang sampai mengkredit saya. Memang unik ya aku saja sampai diperoleh dengan kredit. Seperti meminjam atau membeli barang saja.

Tiap hari petani harus memberi makan saya, dengan jenis makanan yang tidak sembarangan, karena kalau makanan saya tidak bagus maka petani sendiri yag rugi. Makananku harus berkualitas agar susu yang saya hasilkan bagus. makanan berkualitas akan menyebakan aku senang, petani senang dan para koperasi susu akan senang. Dengan begitu mau tidak mau petani harus melayani saya dengan sebaik baiknya.

Tapi untuk beberapa hari ini saya mau protes. Kenapa protes? Karena akibat bencana merapi saya ditelantarkan bahkan tidak dikasih makan. Tidak lain karena gunung merapai mulai tidak bersahabat. Beberapa hari ini merapi batuk-batuk. Tidak tahu penyebabnya tapi menurutku sebagai hewan mungkin karena akibat perubahan iklim. Seharusnya sekarang kan musim panas tapi kenyataan berkata lain, perubahan iklim menyebabkan hujan sepanjang tahun alias tidak ada musim panas. Akibatnya gunung merapi sakit flu. Tiap hari batuk, batuknya pun tidak sembarangn dan tidak main-main, umbelnya berupa lawa, ababnya berupa wedhus gembel. Jika kita didepannya ketika batuk, dengan radius 10 KM bahkan bisa terus bertambah maka bisa-bisa kita akan terlempar ke dunia lain (alam kubur).

Saya tidak protes kewarga karena saya malah merasa terharu. Saking sayangnya warga terhadap saya mereka rela menerjang bahaya akibat batuknya gunung merapi. Mereka menengok kondisi saya, memberi maka saya, bahkan mereka pernah bicara dengan saya face to face untuk mengungsikan saya. Tapi apa dayalah mereka, mengurus diri mereka sendiri saja repot apalagi kalau ditambah saya.

Saya pun menjadi saksi hidup parahnya flu gunung merapi. Teman-teman saya pun juga banyak yang menjadi saksi bahkan diantara mereka ada yang meninggal. Bahkan beberapa penduduk demi saya banyak yang meniggal pula terkena ababnya gunung merapi. Beberapa teman saya yang masih hidup dengan sedu sedan bercerita bagaimana ababnya gunung merapi yang bersuhu 500-600 derajat menyapu kandang dan rumah, kebun, dan pepohanan. bahkan membawa nyawa teman-teman saya. Maka seharusnya media mewawancara saya untuk bercerita bagaimana batuknya gunung merapi. Karena kan saya saksi hidup, dan media membutuhkan data yang valid yang bisa dijual, disukai pemirsa.

Tapi Dalam hati saya ingin protes kepada pemerintah, gara-gara para pemilik saya diungsikan dan saya ditelantarkan maka saya sangat teranacam. Terncam terkena batuknya gunung merapi. Padahal saya juga bagian dari para penduduk yang diungsikan. Saya berfikir apakah pemerintah goblok, saya ini kan bagian dari hidup para peternak, peternak menggantungkan hidupnya kesaya,  la kok para peternak tok yang diungsikan. Saya yakindipengungsian pata peternak pasti rindu, dan kangen kepada saya, laksana seorang pemudah merinduka pasangannya tatkala mereka berjauhan.

Fakta dilapangan menunjukkan bahwa ada beberapa penduduk yang tidak mau mengungsi lantaran tidak mau mentelantarkan saya, karena saya sudah menjadi bagian dari hidup mereka, yang menyambung kehdiuapan mereka.

Untuk itu, saya mewakili teman-teman saya, kelompok sapi lereng gunung merapi, meminta kepada pemerintah untuk mereokasi, dan menuyediakan tempat pengungsian bagi para sapi. Dan seharusnya fakta-fakta baik teman-teman saya yang sudah berpidah alam dan juga para penduduk lereng gunung merapi yang meninggal gara-gara saya sudah cukup lengkap menjadi alasan untuk segera mengungsikan kelompok sapi gunung merapi.

Kami para sapi mempunyai pendapat sendiri mengenai bencana merapi. Ini bukan untuk yang pertama kali. Tapi sudah berkali-kali. Peristiwa yang sudah berkali-kali seharusnya bisa di antisipasi kalau terjadi lagi. Tapi mungkin inilah potret negeri kita yang masih kacau balau. Bagaimana tidak saya sebagai sapi salah satu factor peting menunjang kehidupan para penduduk lereng merapi tidak terurus, malah banyak yang mati. Para penduduk lereng merapi banyak yang mengungsu, la justru para eksekutif dan legislative enak duduk tenang menonton televise. Enaknya lagi saya dan pera penduduk merapi menjadi tontonan utama mereka.

Bencana tidak hanya merelokasi para penduduk, tapi harus mempunyai sistem yang berjangka panjag. Artinya ketika penanganan bencana harus mempunyai tindak lanjut ketika bencana sudah selesai. Itulah sala satu hasil diskusi para sapi. Mereka sangat sadar bahwa posisi sapi sangat penting karena mereka tumpuan hidup para penduduk yang mengungsi. Ketika bencana selesai maka mereka harus tetap hidup karena mereka akan mejadi tumpuhan para penduduk untuk menjani/mengawali hidup baru. Kalau tidak seperti itu maka kasihan para penduduk, pasti mereka bingung jika saya tidak diseamatkan, mereka tidak punya harta lagi. Kalau seperti itu yang terjadi mereka akan menjadi para penduduk miskin baru, yang akan menambah peresentasi jumlah penduduk miskin Indonesia.

Itulah rekomendasi yang kami hasilkan dari rapat kelompok para sapi gunging merapi. Walaupan saya dan teman-teman seekor sapi tapi kamilebih mempunyai empati, perduli terhadap nasib para warga. Bahkan mungkin kami lebih pandai dan cerdik karena memikirkan peanggulangan bencana jangka panjang. Ya tapi kami para sapi tetap tidak boleh sombong sapi ya sapi tidak lebih. sapi juga perlu diselamatkan!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s