Menanti Komitment Dan Ketegasan Aparat Penegak Hukum

Dalam beberapa hari masyarakat Indoesia dibuat tercengang. Seorang gayus HP tmabunan dengan begitu mudahnya mempermainkan institusi penegak hukum. Mulai  kasus rekayasa pengadilan terhadap vonis dirinya sampai kasus terbaru keluarnya gayus tambunan dari penjara dengan menyuap petugas turan. Layaknya aktris gayus pun menghiasi berbgai hadline media massa. Sampai-sampai president pun harus tungun tangan utuk mengintruksikan agar kasus gayus segera ditangani (kompas, 18/10).

Yang menjadi pokok permaslahan adalah bagaimana mugkin para pelaku kejahatan dinegeri ini semakin meraja lela. Padahal salah satu program kabanite SBY adalah memberantas korupsi. Melakukan reformasi intitusi penegak hukum. Jika fakta lapangan memperlihatkan hal sebaliknya maka program pemberantasan korupsi dan reformasi intitusi penegak hukum menguap begitu saja. yang ada hanya sebuah retoika yang india dan utopis.

Untuk mewujudkan sebuah penegakan hukum yang setidakya ada 3 hal. Pertama, adanya sebuah sistem hukum.  sebuah sistem hukum merupakan seperngkat aturan dan sistem yang dirancang guna mengakkan hukum itu sendiri. sistem ini nantiya akan menjadi mekenisme bagaima sebuah proses pengakan hukum berjalan. Sebuah perangkat sistem nilai yang mengatur pelaksanaan hukum dalam kehidupan dan mengatur hukuman bagi setipa orang yang melanggar ketentuan hukum. untuk itu sistem ini nantinya harus tegas tidak boleh dipelintir dan dipermainkan.

kedua, kedudukan institusi penegak hukum. sebuah sistem hukum tidak bisa berjalan sediri. Harus ada intitusi yang menggiring pelaksaan sistem hukum atau menegakkan hukum. untuk itu institusi ini mempunyai posisiyang sangat vital. Berjalan atau tidaknya sistem hukum maka tergantung sejauh mana kredibilitas institusi penegak hukum. artinya sebagai sebuah institusi yang mengawak pelaksaan sistem hukum maka harus benar-benar mengawal hukum itu berlaku sebagaimana semestinya, yang salah harus dihukum yang benar harus dibela. Dengan begitu maka masyarakat akan mempunyai kepercayaan terhadap institusi pengak hukum terutama terhadap sistem hukum itu sendiri.

ketiga budaya hukum. seorang masyarakat mentaati hukum dikarenakan dia sadar bahwa dia adalah warga negara subjek dan objek hukum. mau tidak mau dia harus mentaati hukum. kesadaran itu terbentuk dikarenakan budaya hukum sudah terkotruksi didalam pikirannya dan melekat didalam kehiduapannya sehari hari. Jika budaya hukum ini sudah melekat maka kecil sekali kejahatan akan terjadi. Setidaknya tiga komponen diatas bisa dijadikan refleksi terhadap penegakan hukum di Indoesia.

Namun seolah bertolak belakang seperti diatas. Penegakkan hukum di negeri ini seolah sebuah permainan. Fakta kebenaran bisa dibolak balik. Yang tadinya A bisa dirubah menjadi B.  setidaknya patut kita catat mengenai  2 hal. Pertama, lemahnya institusi penegak hukum. sebagai lembaga yang bertugas untuk mengawal penegakan hukum justru dengan mudahnya di itervensi para pelaku kejahatan. Suap merupakan  salah satu bukti nyata. Dengan suap baynak para pelaku kejahata berhasil meloloskan diri dari jerat hukum. seharusnya ini menjadi catatan menarik bagaimana mafia hukum masih berakar kuat.

Kedua, kurangnya komitmen para advokat dalam memagan prisnsip kebenaran. Seorang pengacara merupakan orang yang mengerti apa itu kebenran dan kesalahan. Buka orang yang membolak balik kebenaran dengan kebohongan. Mereka harus mempunyai sebuah ideaisme dan komitmen. Jika orang yang mereka bela benar maka sewajarnya mereka harus membela dengan sekuat kemapuan mereka. namun, bagaimana jika yang mereka bela adalah orang yang brsalah. Jika memang yang mereka bela adalah orang yang bersalah maka jangan kemudian yang salah itu kemudian dibenarkan. tapi bagaimana sebuah kejahatan itu terugkap, dan bagaimana supaya pelaku kejahtan itu dihukum sesuai dengan kejahtannya. Untuk point kedua inilah yang jarang kita temukan. Kebanyakan pra advokat masih memandang bahwa yang mereka bela adalah orang yag benar.

Yang paling penting adalah bagaiman ara penegak hukum berani mengatakan yang salah itu salah yag benar itu benar. Biarlah adnan buyung nasution membela gayus. Mungkin beliau mempunyai cara pandang lain terhadap kasus tersebut. Sehingga belaiau harus menarika prinsipnya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s